
"Hah? Yang bener?''
Ibu ibu lain semua pada terkejut.
"Iya, aku rasa juga begitu. Siapa ya Bapaknya? Apa yang pernah istrinya ngelabrak kesini ya?''
"Widihh, cari mati si Rani kalo gitu mah.''
Erna melangkah meninggalkan perkumpulan yang mulai julid itu. Yang dia pikirkan juga pa, tanpa bertanya pada yang bersangkutan aja mereka langsung tahu. Canggihnya teknologi yang mereka miliki.
Erna langsung masuk ke dalam rumah dan menata belanjaan yang dia beli ke dalam kulkas. Setelah rapih, ia keluar dan membantu ibunya membersihkan sayur labu di depan. Saat tengah duduk, sebuah mobil merah memasuki jalan gang rumah merak dan berhenti tepat di depan rumah Rani.
"Siapa tuh?'' tanya Idah.
"Kayak mobil selingkuhan si Rani,'' kata Erna ngasal.
"Huss, orangnya kesini,'' kata ibunya.
Benar saja lelaki yang istrinya sempat melabrak Rani sedang menuju ke arah mereka.
"Permisi, Bu. Apa Rani gak ada di rumah?'' tanya lelaki itu.
"Oh, si Rani lagi keluar,'' jawab Idah.
"Kemana ya bu?'' tanyanya lagi.
"Kalo itu saya kurang tahu,''
Lelaki itu terlihat gusar sekali, ia terus mengecek ponselnya.
"Nah tuh si Rani sama abangnya pulang,'' kata Idah.
"Wah, makasih ya bu. Saya permisi dulu,''
Lelaki itu kembali menuju rumah Rani. Tak berapa lama terdengar teriakan si Rafi.
__ADS_1
"Pergi kamu brengsek!!''
Astaga, jangan jangan mereka bertengkar,
"Berhenti kak, Jangan pukul ayah dari anakku,'' suara Rani dengan lantang.
"Hah??"
Erna dan ibunya sungguh terkejut mendengar teriakan Rafi. Jadi lelaki itu adalah ayah si bayi yang sedang di kandungnya?
Astaga, mengapa ia begitu barbar, Apakah ia tidak malu meneriaki aibnya sendiri?
Semua ibu ibu yang masih stay membeli sayur di tukang sayur, perlahan mendekat ke arah rumah Rani. Idah juga hendak mendekat tapi Erna memegang tangannya agar tak kesana.
"Disini aja, Bu. Jangan ikut campur,'' kata Erna.
"Iya, Nak,'' jawab Idah kembali duduk.
Bisik bisik para tetangga mulai terdengar jelas. Bagaimana tak mengundang perhatian jika suara Rani saja bisa mecapai langit seperti itu.
Suara Rafi tak kalah terkejut mendengar penuturan adik perempuan semata wayangnya itu.
"Iya, Kak. JAdi aku mohon jangan pukul dia,'' pinta Rani.
"Arrgghhh!!!'' teriak Rafi frustasi.
"Kasihan si Rafi.'' kata Idah.
"Iya, Bu. Tetapi Rani seolah gak menghargai kakaknya. Padahal kulihat Rafi kakak yang bertanggung jawab. Dia pasti merasa gagal menjaga adiknya.'' ucap Erna.
"Apalagi semenjak ibunya meninggal, beban Rafi seperti terus bertambah akibat kelakuan Rani.''
Suasana sudah tenang, mungkin mereka bertiga berdiskusi di dalam rumah. Kasihan juga si Rani kalo begini, lelaki itu sudah memiliki istri. Dan yang lebih parahnya, mereka sudah pernah ketahuan dan dilabrak. Entah bagaimana perasaan istri lelaki itu jika tahu selingkuhan suaminya sudah hamil. Huh, ribetnya hidup mereka ini.
"Nak, sudah jam berapa ini? Kamu berangkat jam berapa?'' tanya Idah.
__ADS_1
"Masih jam 10, Bu. Aku berangkat jam 1 siang karena jadwal kerjanya jam 2 siang,'' ujar Erna.
"Udah siapin semua perlengkapan yang kamu bawa nanti?''
"Udah, Bu. Erna udah siapin semuanya. Tinggal nanti berangkat aja,''
"Anak pintar,'' kata Idah tersenyum melihat putrinya itu.
Setelah sayur selesai dibersihkan, ibunya langsung memasaknya. Sedangkan Erna menggoreng tahu dan tempe untuk lauknya.
"Mau makan pudding?'' tanya Idah.
"Emang ada, Bu?'' tanya Erna balik.
"Belum, kalo kamu mau nanti ibu buatin,'' ujar Idah.
"Boleh, Bu. Erna mau.'' jawabnya senang.
"Ya udah, nanti sore ibu buatin. Jadi malamnya bisa dimakan.''
"Makasih ibu,'' jawab Erna senyum.
Setelah selesai memasak, Idah langsung mencuci pakaian. Erna ingin membantu tapi dilarang sama ibunya sehingga ia memilih menyapu rumah saja.
Dari dalam rumah, Erna melihat Rani keluar dan masuk ke mobil lelaki tadi. Mereka meninggalkan halaman rumah Rani. Tak lama, Rafi ikut keluar, wajahnya mencuri perhatian Erna. Matanya nampak sembab seperti habis menangis. Hati gadis itu terenyuh melihatnya, betapa Rafi begitu sayang sama adiknya. Jika saja gadis itu memiliki kakak penyayang seperti Rafi, pastilah ia sangat bahagia.
Rafi nampak sedang memberi makan si gukguk yang ada di dalam kandangnya, setelah itu masuk lagi ke dalam rumahnya. Erna kembali melanjutkan pekerjaannya hingga ke teras depan. Saat sedang menyapu teras, terlihat ibu ibu sedang kumpul di rumahnya Bu Ros.
"Itu si Rani otaknya somplak bangat. Masa mau aja hamil sama suami orang, Mau jadi apa dia nanti?'' suara Bu Disa terdengar.
"Ya, mau jadi istri kedualah. Aku sih gak masalah kalo kayak gitu, asal hidupku di jamin terus sama dia,'' sambung Bu Fira.
Erna hanya geleng geleng kepala mendengar merak bicara. Tak habis pikir juga dengan mereka, bisa bisanya bergosip sambil menenteng sayur di tangan mereka. Padahal hari sudah beranjak siang dan sebentar lagi jam makan.
"Alaa, ngomongnya gampang Fira, tapi kenyataannya itu susah. Lama lama kamu juga nanti menuntut untuk dinikahi,'' ujar Ros.
__ADS_1
'Eh Eh, lihat itu....."