Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 70


__ADS_3

Erna baru saja tersadar dari tidurnya saat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ini sudah terlalu siang untuknya. Segera gadis itu bangkit dari tempat tidur dan merapikannya. Setelah itu, ia menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.


"Tumben bangun siang," ujar Idah.


"Iya, Bu. Erna biasanya gak bangun sampai siang gini," jawabnya.


"Ya udah, kamu sarapan. Udah ibu buatin Nasi goreng."


"Baik, Bu."


Erna langsung duduk di meja makan dan menikmati nasi goreng buatan ibunya. Gadis itu makan dengan lahap. Semalam mereka berdua pulang dari rumah sakit sudah sangat larut malam.


Sehabis makan, Erna langsung mencuci piring kotor, lalu menyapu rumah dan halaman. Tampak rumah Rani masih tertutup dan lampu luar juga masih menyala. Sepertinya mereka belum pulang dari rumah sakit.


"Eh, Erna. Si Rani kenapa? Katanya di bawah ke rumah sakit ya?" tanya Disa saat ia lewat di depan rumahnya.


"Iya, Bu. Rani keracunan makanan kata dokter." jawabnya.


"Wah, kok bisa? Jangan jangan dia mau gugurin kandungannya tuh! Udah stress memang tuh anak,'' celetuk Disa.


"Hhhmmm," jawab Erna sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Ada ada saja tetangganya itu, mereka sangat sok tahu dengan apa yang menimpa orang lain. Saat tengah membakar dedaunan, tiba tiba Nunung muncul di depan rumahnya.


"Astaga!''


"Loh, kamu kenapa? Kok kaget gitu sama saya?!'' tanya Nunung yang melihat ekspresi Erna.


"Gimana gak kaget sih, Bu? Ibu muncul tiba tiba aja di depan saya," jawab Erna mengelus dadanya.


"Ya ella, tapi gak gitu juga kali, Erna. Makanya pagi pagi itu otakmu jangan banyak travelling kemana mana." ujar Nunung menoyor kepala gadis itu.


"Ih, apa apan sih, Bu Nunung?! Enggak sopan bangat noyor kepala saya!'' kesal Erna.


"Suka suka saya dong. Eh, semalam kamu kan yang ke rumah saya?" tanyanya.


"Cuma itu tujuan kamu? Atau jangan jangan kamu ke rumah saya untuk mata mata ya?'' katanya mencurigai Erna.


"Ya ampun, mata mata apa lagi sih, Bu? Emangnya di rumah ibu ada terorisnya yang perlu saya mata matai?''


"Ah, saya gak percaya gitu aja sama kamu, Erna! Awas aja, kalo saya dengar berita apapun tentang saya, maka pasti sumbernya itu kamu!" tunjuknya pada gadis itu.


"Hah? Ibu jangan gitu dong! Masa saya sumbernya sih? Lagian saya murni ke rumah ibu itu untuk minta tolong. Enggak ada niatan lain," jawab Erna kesal.

__ADS_1


"Maling mana ngaku?'' cetus wanita bertubuh gempal itu sambil berlalu.


Erna hanya membuang nafasnya kasar melihat kelakuan Nunung yang sungguh sangat edan itu. Gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Bu?'' panggilnya saat dia sudah masuk ke dalam rumah.


"Iya, Nak?''


"Bu, aku belum sempat cerita sama ibu. Semalam kan aku ke rumah Bu Nunung, nah di sana aku dengar ada suara wanita lain. Aku sih curiga apa mungkin Pak Santo punya istri lagi, gitu? Ngomongnya mesra mesraan gitu," ujar Erna.


"Huush, enggak usah bahas itu lagi, Nak. Sekarang semua pada tetangga disini lagi pada ngomongin tentang mereka. Iya, wanita itu emang istrinya Pak Santo. Tapi Bu Nunung tetap menyembunyikan semuanya agar tetangga kita tidak tahu. Ia takut dijadikan bahan omongan tiap hari," kata Idah.


"Waduh, yang benar, Bu? Kalo istrinya dua kok tinggal dalam satu rumah? Apa enggak berantem?'' kata Erna heran.


"Enggak tahu juga, Nak. Aneh juga sih menurut ibu," timpal Idah.


"Hm, biar tsu rasa tuh Bu Nunung! Dia kan biasa ngehina ibu, sekarang dia kena batunya sendiri." cetus Erna.


"Udahlah, Nak. Yang berlalu biarlah berlalu. Ibu udah gak mau ingat lagi,"


Oh, jadi itu alasan Nunung tadi mengancamnya? Rupanya ia takut kalo gadis itu menceritakan hal itu pada orang lain. Dipikirnya, mungkin Erna kurang kerjaan sama sepertinya sehingga harus berbicara atau membicarakan keburukan orang lain. Lagian ngapain mesti diancam? Kan tetangganya udah pada tau, apalagi mereka tinggal serumah!

__ADS_1


Sungguh aneh kelakuan, Nunung!


__ADS_2