
"Kak Erna,"
Erna sontak melihat ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Ternyata yang memanggil namanya adalah Tino.
"Iya, ada apa Tino?'' tanya Erna.
Tino, anaknya Nunung yang tak pernah muncul di kampung julid. Ia ada, namun hanya berada di kamar dalam rumahnya. Jarang berbaur dengan tetangga sehingga ia seringkali dilupakan jika masih warga kampung julid.
"Lihat ibu aku gak, Kak?'' tanya Tino lesu seperti orang gak makan seminggu.
"Loh, kamu enggak tahu? Ibumu masuk rumah sakit," jawab Erna menatapnya.
"Hah? Kok bisa?" ujar Tino kaget.
Erna hanya menggeleng melihat Tino yang terkejut saat mendengar ibunya masuk rumah sakit. Setelah mendengar kabar itu dari Erna, Tino langsung melenggang pergi begitu saja tanpa bilang terima kasih. Itulah akibat terlalu banyak diam di dalam kamar dan bermain ponsel. Etika secuil kuku saja tidak tahu.
Karena waktu terus berjalan dan Erna harus mengajar, ia memutuskan untuk pergi dan tak menunggu ibunya. Gadis itu mengunci rumah dan beranjak pergi.
Tak lama setelah Erna pergi naik angkot, Ibunya dan Disa turun dari angkot. Mereka berdua berjalan memasuki kampung julid.
"Eh, Idah, Disa. Gimana keadaan Nunung?''
"Iya, kok dia bisa kayak gitu? Kondisinya bagaimana?''
"Udah sadar belum dia?''
Berbagai pertanyaan warga dilontarkan pada ibu dua itu. Mereka berdua sudah persis seperti tersangka yang hendak di tahan.
__ADS_1
"Satu satu dong tanyanya. Pusing aku mau jawab yang mana duluan," ujar Disa mengibaskan tangannya.
Disa mulai bercerita keadaan Nunung di rumah sakit. Mulai dari dia mengamuk sampai kabar mengejutkan dimana Santo terlihat sama perempuan lain. Tak sampai hitungan menit, para ibu ibu sudah membesarkan masalah itu.membuat si Odah yang berada di sana sakit kepala lalu beranjak pulang ke rumahnya. Julidnya ibu ibu membuat Idah mabuk kepayang. Apalagi kali ini yang digosipkan adalah ketua geng mereka sendiri.
***********
Di rumah sakit, Tini yang mengetahui kedatangan bapaknya bersama wanita lain langsung saja melabrak perempuan itu. Marni sangat kewalahan kala dirinya ditarik begitu saja oleh si Tini menuju parkiran yang agak sepi.
"Hey, perempuan pelakor! Jadi kamu ya yang mau dinikahi bapakku?!'' ketus Tini pada Marni.
"Astaga, Dek. Sopan dikit sama orang tua," jawab Marni yang melihat sikap Tini yang kurang ajar.
"Untuk yang namanya pelakor, gak ada sopan santun! Ngapain sopan santun sama pencuri!'' geram Tini.
"Apa? Kamu ngatain aku pencuri?'' kata Marni tak terima.
"Iya. Kamu memang pencuri. Enggak tahu apa kalo bapakku sudah menikah dan sudah punya anak, Mau kamu apa merusak keluargaku?!" ketus Tini marah.
"Halah, Aku gak percaya! Paling kamu baiknya di awal awal doang, terus setelah menikah incarannya dirubah jadi harta dan warisan!" cibir Tini.
"Iya, memang aku tak bohong. Selain menyukai bapakmu, aku juga menyukai dompetnya yang tebal. Aku tidak bisa berbohong, aku menikmati semua pemberian bapakmu. Aku tak munafik seperti pelakor di luar sana," kata Marni yang entah memungut bahasa dari mana.
"Hahaha, lucu sekali kau wanita pencuri! Memang ada pelakor yang tak munafik?'!''
"Iya jelas ada, dan itu adalah aku. Aku akan membuat citra pelakor berbeda, tak akan sama seperti dalam cerita cerita di televisi." kata Marni menggebu gebu.
Seakan dirinya digelitiki, Tini tertawa terbahak bahak hingga air matanya menetes.
__ADS_1
"Hahahaha, ternyata kamu hebat ngelawak juga wanita pencuri, hahaha!!" ujar Tini masih dengan kelucuannya.
"Hey, kenapa kamu tertawa berlebihan seperti itu? Kamu tunggu saja buktinya!" ujar Marni berbalik dan pergi meninggalkan Tini yang masih tertawa.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Marni, sampai ia bisa berkata hal selucu itu pada Tini. Ia begitu berambisi membuat citra pelakor menjadi bagus hanya dengan menyematkan kata tidak munafik.
Tini yang tak jadi emosi, masuk kembali keruangan setelah tawanya reda. Di kursi tunggu, ia masih melihat Marni yang duduk di sana dengan raut wajah masam. Tini melenggang masuk begitu saja tanpa menegur Marni lagi.
Sesampainya di dalam, ia kaget melihat ibunya yang sedang mengamuk sambil mencoba mencabut selang infus yang menempel di tangannya. Santo sama beberapa perawat di buat panik oleh aksi Nunung.
"Astaga, Ibu," ujar Tini.
"Pergi kalian semua! Aku mau pulang ke rumahku, aku sudah tidak sakit!'' teriak Nunung.
"Tapi ibu harus menunggu arahan dari Dokter dulu, Bu. Tolong tenang." ucap Santo pada istrinya itu.
"Enggak, Pak! Sekali ibu bilang mau pulang, ya ibu tetap mau pulang!'' ketus Nunung.
Tini tak bisa berbuat banyak dan hanya pasrah dengan apa yang diperbuat ibunya.
Akhirnya, setelah kekacauan yang dibuat Nunung, ia diijinkan pulang oleh Dokter.
Tini disuruh bapaknya untuk mengurus administrasi agar semua cepat selesai. Sedangkan Santo membantu Nunung berjalan ke arah lobby.
Sesampainya di luar, Marni yang melihat Santo kepayahan menopang tubuh istrinya langsung saja bangun dan ikut membantu.
"Eh, kamu siapa? Main nyosor aja!'' ucap Nunung.
__ADS_1
Santo yang melihat Marni ikut membantu menjadi sedikit panik. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
"Saya......"