
Di sisi lain, Santo yang adalah suami Nunung bergegas menuju ke rumah sakit. Sebelumnya lelaki itu sedang berada di rumah calon istri keduanya. Tetapi karena mendapat telepon dan pesan dari anaknya Tini, ia langsung bergegas. Tak sendiri, Santo membawa calon istrinya juga ikut ke rumah sakit. Itu tentunya akan membawa masalah besar nantinya. Bagaimana tidak? Si Nunung pasti akan bertambah histeris melihat wanita yang dibawa suaminya.
Santo dan calon istrinya bernama Marni menuju rumah sakit dengan mobil pribadi. Selama ini, diam diam Santo sudah membeli mobil tetapi ia tidak memberi tahu istrinya Nunung.
Selama membina rumah tangga, si Santo seperti tak dianggap suami oleh Nunung. Semua urusan yang harusnya dikerjakan oleh Nunung malah diambil alih oleh Santo. Mulai dari menyiapkan makanan pagi, menyetrika pakaian kerja, hingga mencuci baju sendiri pun dilakukan Santo seorang diri.
Suami mana yang tak jengah berlama lama dengan istri yang tak bisa mengurusnya? Mendingan ia mencari pelarian dengan wanita lain saja.
Mereka sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke UGD. Ia menanyakan pasien atas nama istrinya.
"Mas, mending aku gak usah ikut aja. Aku takut istrimu ngamuk," ujar Marni was was.
Santo nampak berpikir sejenak lalu meng iyakan perkataan Marni. Lelaki itu juga tak ingin si Nunung mengamuk apalagi banyak pasien di sana. Akhirnya, Santo masuk seorang diri dan Marni duduk di kursi tunggu.
Mereka tidak menyadari jika kedatangan mereka tadi dilihat oleh Disa dan Idah.
__ADS_1
"Si Santo itu?'' tanya Disa pada Idah.
"Mana?'' Idah balik bertanya.
"Itu loh, yang pakai mobil silver. Tuh yang baru berhenti itu," tunjuk Disa.
"Oh, benar itu Santo. Eh, biasa kan dia pakai motor, hari ini mobil." kata Idah.
"Iya ya. Enggak pernah tuh lihat si Santo bawa mobil ke rumah. Terus siapa wanita yang ikut turun dari mobil?''
"Astaga, Dah? Kamu itu terlalu apa adanya ya. Aku sih lihatnya diantara mereka ada yang aneh. Bisa jadi itu simpanan si Santo." ujar Disa mulai bergosip dan kepo.
"Hus, kamu jangan ngada ngada gitu, Dis. Enggak baik," balas Idah.
"Kamu enggak curiga? Selama ini Santo gak pernah tuh marahin Nunung meski ia gak masak atau nyuci. Kerjaan Nunung kan tiap hari keluyuran. Mungkin si Santo udah capek, makanya dia cari wanita lain yang bisa ngurus hidupnya. Jadi inilah yang memicu pertengkaran mereka. Itulah hasil penelitian aku," kata Disa membuat Idah makin geleng geleng.
__ADS_1
"Udah kayak Erna aja dulu, pakai penelitian buat wisuda." ujar Idah tertawa yang tidak habis pikir dengan kelakuan Disa yang masih terus mengawasi mereka.
"Serius ini, Dah. Kamu mah paling gak seru diajak gosip, makanya kamu yang sering kena gosip," ketus Disa.
"Bagus deh, aku bersyukur kalian sungguh memperhatikan aku," ujar Disa santai.
Disa hanya melongo mendengar perkataan Idah. Tak lama angkot yang mereka tunggu datang juga, mereka berdua langsung naik lalu pulang ke kampung julid.
Sementara di rumah, Erna sudah bersiap untuk pergi ke tempatnya mengajar les. Setelah bersiap, ia menunggu ibunya pulang dulu barulah ia berangkat.
"Ibu kok lama sekali sih," ujar Erna sambil melihat lihat ke arah jalan.
Gadis itu mondar mandir di teras seperti setrika rusak sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Kak Erna,"
__ADS_1