
Betapa terkejutnya mereka semua kala mendapati Nunung yang tergeletak di lantai.
"Astaga, Nung!''
"Ibu!!!''
Mereka semua kaget dan panik saat melihat Nunung dan lalu mengangkat tubuhnya ke kasur.
"Nung, sadar Nung," panggil Fira sambil menepuk pipi Nunung pelan.
"Enggak sadar tuh," balas Bu RT.
"Kita bawa ke rumah sakit aja." usul Erna.
Tubuh Nunung sudah sangat pucat dan berat badannya turun padahal baru dua hari tidak makan.
"Ya ampun, udah kayak mayat hidup aja si ratu ghibah." celetuk Fira.
"Eh, mulutmu di sumpal dulu. Sekarang si Nunung kita bawa ke rumah sakit," ujar Idah.
Erna menelpon ambulance untuk datang ke rumahnya kesana dan Tini bergegas menyiapkan surat surat serta beberapa pakaian ibunya ke dalam tas. Pastinya nanti ibunya akan dirawat inap.
"Kenapa sih pada bohongin kita, Tin? Katanya ibu kamu pulang kampung!'' kata Disa.
"Ibu yang nyuruh, jadi aku nurut aja." jawabnya.
__ADS_1
Ambulance datang dan petugas pun langsung memindahkan Nunung ke dalam mobil. Tini, Disa, Idah ikut naik menemani Nunung di dalam mobil untuk menuju ke rumah sakit.
"Hubungi lagi bapakmu, Tin. Atau kirim pesan aja bilang ibumu masuk rumah sakit." ujar Idah.
"Iya, Bu." balasnya.
Tini kembali menelpon Santo, kali ini masuk tapi tidak di jawab. Jadi Tini mengirim pesan untuk menyusul saja ke rumah sakit. Mobil ambulance yang membawa mereka ke rumah sakit pun tiba. Nunung langsung diturunkan petugas bersama brankar dan langsung ditangani.
"Tin, kamu langsung ngurus administrasinya saja. Biar kami yang menemani ibumu disini." ujar Disa.
"Baik, Bu." Gadis itu langsung menuju ke bagian administrasi sembari terus menghubungi bapaknya. Ia tak memegang uang, hanya mengambil tiga ratus ribu dalam lemari baju ibunya.
Saat tengah menunggu mendaftar di bagian administrasi, Tini mendengar teriakan dari ruang UGD karena memang posisinya tidak berjauhan.
"Pergi kalian! Pergi! Aku tahu kalian hanya ingin mencari bahan agar bisa ngomongin aku. Idah, Disa pergi sana!''
"Pergi kalian! Dasar tetangga tukang gosip, biang kerok kalian!''
Nunung berteriak histeris kala ia sadar dan mendapati Disa dan Idah disampingnya.
"Nung, tenang dulu. Nanti kamu bakal disuntik." ujar Disa.
"Enggak! Aku gak akan diam sebelum kalian keluar dari sini. Ngapain bawa aku kesini, aku gak butuh datang ke rumah sakit!"
"Kamu pingsan, Nung. Makanya kami bawa kesini. Lihat badan kamu udah turun banyak. Wajah pucat gak makan," ujar Idah sambil menunjuk wajahnya.
__ADS_1
"Heh, Idah! Diam kamu! Ini semua gara gara kamu dan anakmu. Pasti kalian mendoakan aku biar bernasib sama seperti kalian kan?'' ujar Nunung.
"Astaga. Aku bermaksud seperti itu, Nung."
"Udahlah, Dah. Mending kita pergi aja dari sini. Entar dia malah makin ngamuk lagi. Malu tau udah jadi tontonan seisi UGD," ketus Disa.
Idah mengamati sekelilingnya, dan benar saja mereka sudah menjadi pusat tontonan pasien lain. Dengan malu, Idah dan Disa berjalan menuju keluar dari ruangan Nunung.
"Loh, Bu Idah sama Bu Disa mau kemana?'' tanya Tini yang sudah datang.
"Kami mau pulang, Tin. Ibu kamu ngamuk di dalam," jawab Disa.
"Astaga, maafin ibu ya. Terima kasih sudah mengantarkan kami kesini." ucap Tini.
"Sama sama, Nak. ya udah masuk sana, jagain ibumu. Tenangin dia, kasihan mengganggu pasien lain." kata Idah.
"Iya, Bum sekali lagi terima kasih banyak." ujar Tini lalu beranjak masuk ke dalam ruangan UGD.
Idah dan Disa berjalan ke depan untuk menunggu angkot jurusan kampung julid.
"Si Nunung kenapa ya kira kira? Kok sampai stress begitu. Sepertinya masalah dia sama Santo gak main main." kata Disa.
"Iya, Dis. Yah, tapi si Nunung kayaknya gak mau kita tau masalahnya. Makanya dia gak mau keluar rumah,"
"Bukan itu, Dah. Lebih tepatnya dia merasa malu. Mulutnya terlalu lemes ngomongin orang, giliran kena batunya baru deh tau rasa."
__ADS_1
Omongan Disa membuat Idah geleng kepala. Dalam hatinya ia hanya bisa tertawa mendengar omongan tetangga yang juga sebelas dua belas dengan si Nunung itu.