Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 27


__ADS_3

Hari ini, hari libur kedua gadis itu, yang tak lain dan tak bukan Erna dan Ema, walau hari libur, mereka berdua sudah bangun dari subuh. Mereka memasak makanan dan membersihkan rumah.


Pukul delapan pagi, mereka berdua pamit sama Idah untuk belanja keperluan kos Ema.


"Jalan kaki apa naik ojek, Nak?'' tanya Idah.


"Jalan aja, Bu. Lagian tokonya dekat pasar kok. Pulangnya baru sewa pickup." jawabnya.


"Ya udah, hati hati ya."


"Baik, Bu." jawab mereka berdua.


Matahari sudah lumayan terik meski masih pagi, tetapi tidak mengurangi semangat mereka pagi itu walau jalan kaki.


Melewati warung julid, mata ibu ibu pada menatap mereka.


"Biasa gini ya, Na?'' tanya Ema.


"Iya, Ma." jawabnya sambil senyum.


Suara mereka mulai berbisik bisik seperti lebah. Kedua gadis itu mempercepat langkahnya menuju toko di dekat pasar.


Sesampainya di sana, Mereka membeli 1 lemari susun, tempat tidur kasur, kipas angin dan perabotan dapur. Ema menyewa jasa angkutan pick up untuk membawa belanjaannya.


Sesampainya di depan rumah Erna, mereka berdua turun untuk mengambil barang Ema yang ada di rumah Erna.


"Bu, terima kasih untuk tumpangannya semalam," kata Ema kepada Idah.


"Sama sama, Nak. Sering sering kesini ya. Kalau ada apa apa, telepon Erna saja." ucap Idah.


Setelah memindahkan semua barangnya ke mobil, mereka meneruskan perjalanan menuju kosan Ema. Sesampainya di sana sudah ada ibu rt yang menunggu. Dibantu pak Supir, mereka menurunkan semua barang barangnya.


"Ini kuncinya, Ema." kata bu rt sambil menyodorkan kunci kamarnya.


"Terima kasih, Bu." jawab Ema.

__ADS_1


"Sudah ibu bersihkan, tinggal masukin dan tata barang kamu aja ke dalam," ujar bu rt.


"Terima kasih banyak, Bu." jawab Ema senyum.


Mereka berdua bekerja sama mengatur dan menata barang barang Ema hingga kamar terlihat rapih.


"Laper, Ma." kata Erna.


"Kita pesan makam aja." ujar Ema.


"Jangan, kita makan di rumahku aja. Ibu sudah masak tadi." jawab Erna.


"Aku gak enak ngerepotin kamu terus,"


"Ih, daripada buang uang, sedangkan makanan di rumah banyak?'' kata Erna.


Akhirnya Ema pun menurut dan mereka pergi untuk makan siang. Idah sudah memasak ikan pindang dan sayur urap untuk makan siang kali ini.


"Udah selesai beres beresnya?" tanya Idah saat melihat kedua anak gadis itu sudah datang.


"Jadi sekarang Erna punya teman disini. Pesan ibu, kalau kamu dengar ada yang bicara buruk, gak usah dihiraukan ya," kata Idah memberi nasihat.


"Baik, Bu. Aku sempat kaget keadaaan disini tadi, Bu. Tetapi aku akan berusaha menyesuaikan."


"Iya, Nak. Baguslah kalau begitu." jawab Idah.


Saat mereka sedang makan, Erna mendengar ada suara mobil yang masuk.


"Kayaknya ada tamu, Na." kata Ema.


"Kayaknya iya deh, Lanjutin makan aja. Nanti ibu yang keluar lihat." jawab Idah.


Idah berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Tapi perasaan gadis itu mendadak tidak enak. Segera ia menyusul ibunya ke depan. Benar saja, Di sana ada Tari istri muda Bapaknya.


"Ada apa kalian kesini?'' tanya Idah.

__ADS_1


"Aku kesini mau nganter undangan pernikahan aku sama Mas Heri." ujar Tari dengan wajah angkuhnya.


Heri berdiri dibelakang Tari dengan kacamata hitam bertengger di matanya.


"Oh, iya. Terima kasih." ujar Idah sambil menerima undangan itu.


Wajah Idah terlihat biasa saja dan itu membuat Anaknya merasa lega.


"Kalau gitu kami pamit dulu," ujar Tari. Mereka berdua bergandengan tangan menuju mobil.


"Ih, sok kuat bangat kamu, Dah." ujar Nunung.


"Aslinya mah lagi patah hati akut," tambah Disa.


"Heri, bagi duit dong, kan kamu udah sultan sekarang." teriak Fira.


Tanpa di duga Heri menurunkan kaca mobilnya dan menghamburkan uang lima puluh ribuan. Sontak semua warga berebutan, Erna benar benar tak habis pikir dengan kelakuan Bapaknya.


"Lihat, Dah. Laki kamu sampai buang buang uang gini. Kalo jadi kamu mending aku jadi istri keduanya aku mau," ujar Nunung mulai provokasi.


"Iya, daripada capek kerja jadi penjahit, untungnya gak seberapa, capeknya kebangetan." timpal Fira.


"Urus saja urusan kalian sendiri! Baru dikasih lima puluh ribu ajah udah menghina aku!" kata Idah kesal.


"Awas loh, Dah. Nyesel kamu. Mending kejar lagi si Heri dan mohon buat jadi istrinya." sambung Disa.


Idah tak menghiraukan mereka, ia langsung masuk dan pergi ke kamarnya.


"Bini muda di Heri lebih awet dari si Erna," cibir Mereka.


Sungguh somplak mulut para tetangganya itu memang, Ingin dilawan tetapi sama aja. Malas sekali rasanya gadis itu berdebat dengan mereka.


Erna dan Ema masuk ke dalam rumahnya menyusul Ibunya. Alangkah kagetnya Erna mendapati ibunya memegang seutas tali.


"Ibu, mau ngapain???''

__ADS_1


__ADS_2