
"Buuuuu, jangan?!!" teriak Erna sembari merebut tali yang dipegang.
"Ih, kenapa sih, Na. Kok teriak gitu?'' tanya Ema kaget.
"Jangan lakuin hal konyol, bu. Aku tahu hidup kita sering dijadikan gunjingan, Tapi jangan bunuh diri juga," ujarnya dengan wajah ketakutan.
"Na, kamu tenang dulu. Kita tanya ibu talinya itu buat apa. Kamu jangan asal curiga gitu sama ibu kamu sendiri." kata Ema.
Idah yang melihat ekspresi putrinya membuatnya merasa sangat tersentuh. Ternyata anak semata wayangnya itu begitu takut kehilangannya. Idah melihat tali yang dipegang yang akan dia pake untuk ngikat ke tiang agar dapat menggantung separuh jahitannya, Eh malah dikira Erna, Ibunya mau gantung diri. Ibunya merasa lucu sekali melihat ekspresi anaknya saat itu.
"Siapa yang mau lakuin hal konyol itu, Nak? Ibu mau pasang di tiang buat ganting baju yang sudah selesai ibu jahit. Tuh, lihat. Udah penuh semua," ujar Idah sedikit senyum senyum sendiri melihat ekspresi dan kelakuan anaknya itu.
"Astagaaa, Bu. Kenapa gak bilang sih," ujar Erna cemberut.
"Makanya jangan suka berburuk sangka dulu, Na. Kan udah aku bilang, tanya dulu sama ibu." timpal Ema.
Idah dan Ema sontak tertawa dengan kelakuan Erna, sedangkan anak itu hanya memasang wajah cemberutnya.
Idah memilih masuk dan meneruskan pekerjaannya. Panas juga telinganya mendengar omongan Nunung, Fira dan Disa. Kelakuan mereka sedari dulu memang tidak pernah berubah. Jika bisa, maka sudah dari dulu ibunya Erna buat mulut mereka pecah dengan tinjunya. Tetapi wanita paruh baya itu panjang sabar dan baik mengontrol emosi.
Dahulu, saat mantan suaminya pamit pergi merantau, mereka selalu menggunjingnya.
"Anak cuma satu, hidupnya sudah melarat. Makan aja minjam beras terus."
"Ho'oh, kayak udah gak sanggup lagi kerja bantuin suami,"
Setiap hari, Idah selalu mendengar ocehan mereka yang menganggapnya wanita pemalas. Padahal, suaminya pergi atas kemauannya sendiri bukan karena paksaan Idah. Tetapi mulut tetangga, siapa yang dapat menutup? Mereka merasa sangat risih dengan hidup Idah dan Erna, padahal mereka tidak pernah menyusahkan siapapun.
Hal itu terus berlanjut, apalagi di tahun tahun berikutnya setelah mantan suaminya pergi, ia tidak pernah mengirim kabar atau nafkah untuk mereka.
Gunjingan dan cemooh setiap hari harus wanita paruh baya itu terima. Pernah Idah ingin pergi saja saking tidak tahannya tinggal di kampung itu. Tetapi ia kembali berpikir untuk rumah yang susah payah, yang mereka bangun dari nol. Dia memilih lebih baik bekerja agar bisa membayar tanah itu kontan.
__ADS_1
Erna yang saat itu masih remaja, sudah bisa mendengarkan omongan buruk orang tentang mereka. Erna tumbuh menjadi sosok yang pendiam dan tak banyak berinteraksi dengan tetangga. Ia seperti itu bukan tanpa alasan, tetapi karena setiap hari jika ia main ke rumah temannya maka ia akan menjadi bahan bullyan dan julidan.
"Si Idah gak mampu kasih makan anaknya. Lihat badannya kurus kering begitu,"
"Padahal, lakinya merantau ke luar pulau. Secara nih ya, kerja di sana pasti banyak duit. Ini mereka kayak busung lapar, ih ngeri deh,"
Obrolan obrolan seperti itu yang selalu diterima Erna. Bahkan suatu hari Erna pulang keadaan menangis sesenggukan. Idah kalah itu melihat putri semata wayangnya itu, pulang dengan wajah kusut bak pakaian tak disetrika setahun. Saat ditanya kenapa, dia tidak menjawab dan hanya diam saja.
Wanita paruh baya itu begitu takut anaknya menjadi terganggu dan stress karena sering di olok. Tetapi Idah sangat bersyukur, sebab Erna mamou tumbuh menjadi sosok yang kuat seperti sekarang.
#####
Idah duduk di depan mesin jahitnya sambil menatap undangan pernikahan mantan suaminya itu. Tidak ada air mata lagi yang menetes untuk lelaki pecundang sepertinya. Ia tega pergi dan tidak membiayai keluarganya. Laki laki yang tidak bertanggung jawab atas keluarganya. Idah yang begitu kesulitan mencari uang, bahkan sampai rela mengambil resiko dengan meminjam di Bank. Pernah juga sekali Idah telat bayar cicilan dan petugas datang menagih ke rumahnya. Semua ibu ibu komplek datang menonton seolah itu adalah ajang pertunjukan.
Setelah kepulangan si petugas bank, semua beramai ramai menghujani Idah dengan olokan. Bahkan setiap hari Idah dibicarakan oleh mereka.
Huh, mengingat mantan suaminya dahulu, membuatnya kembali mengingat semua hal yang sangat menyakitkan. Oleh sebab itu, Ia tidak ingin menangisinya. Cukup hari itu, Idah menangis karena begitu benci dengannya. Sekarang wanita itu ingin hidup damai bersama anaknya Erna. Dia sudah disekolahkan sampai sarjana, meski pekerjaan yang di dapat masih tidak sesuai dengan impian gadis itu, tetapi ibunya bersyukur, pemasukannya bahkan mencukupi biaya hidup mereka.
Takk... Tak.... tak....
"Idaaahhh???," teriak suara yang begitu ia kenal.
"Huh, apa lagi sih, Nunung?'' ujarnya kesal.
Wanita paruh baya itu bangkit lalu beranjak menuju ruang tamu. Nampak Nunung sudah masuk dan duduk di sofa.
"Ada apa, Nung?'' tanyanya bingung.
"Eh, besok kita sama sama ke pestanya si Heri yuk," ajaknya.
"Hm, Aku tanya Erna dulu deh. Kalau ia mau aku bakal ikut, kalau gak, mungkin aku gak akan pergi," jawabnya santai.
__ADS_1
"Loh, kok harus si Erna sih yang kasih keputusan? Buktiin dong ke kita kalau kamu udah move on," celoteh Nunung.
"Emang move on itu apa sih, Nung?" tanyanya penasaran.
"Yaelah, kamu gak tau apa? Makanya gaul kayak aku ini, tiap hari nangkring di warung sono, jadi banyak kata baru. Masa move on aja kagak tau," ujar Nunung sinis.
"Lah, aku kan sibuk, Nung. Sibuk nyari duit." jawab Idah enteng.
"Jadi gimana nih? Mau ikutan apa gak?" tanyanya lagi.
"Gak, pasti. Aku harus tanya Erna dulu." jawabnya.
"Ih, gak seru kamu, Dah!" ucapnya lalu pergi.
"Dasar gak sopan," monolog Idah.
Idah kembali ke ruang jahitnya, dan langsung menyelesaikan sisa jahitannya. Erna juga belum pulang dari kosan Ema. Mungkin mereka lagi curhat curhatan masalah anak muda.
"Ibuuuuu," teriak Erna dari depan.
"Iya, Nak. Ibu disini." jawabnya sedikit berteriak karena suara berisik dari mesin.
"Emang ibu besok mau pergi ke pesta kawinnya Bapak?" tanya Erna.
"Menurut kamu gimana?''
"Lebih baik kita gak usah pergi aja, Bu. Malas bangat Erna lihat muka Bapak. Sok sekali, apalagi udah jadi orang kaya,"
"Ya udah, Ibu ngikut apa kata kamu aja, Nak." jawab Idah sambil memotong benang yang lebih.
"Tadi Bu Nunung dari sini?''
__ADS_1
"Iya, Nak. Emangnya kenapa?''
"Pantas aja....."