Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 36


__ADS_3

Erna kembali terkejut kala ibunya keluar lalu membentak Tini. Seketika wajahnya berubah menjadi ketakutan.


"Jangan sekali kali mengatai anak saya kegatelan. Sekali lagi saya dengar, saya bakar mulutmu!'' ancam ibunya.


Tini langsung berlari keluar menyusul Tikno, sedangkan yang disusul sudah pergi. Mungkin Tikno sudah terlalu jengkel menghadapi sikap Tini yang tidak jelas dan terlalu gampang kalo ngomong.


"Punya mulut gak bisa dijaga. Enggak emaknya, enggak anaknya sama semua," kesal Idah lalu kembali kebelakang.


"Galak juga emak kamu, Na."


"Aku juga baru tahu kalo ibu bisa galak. Biasanya ia gak pernah tuh marahin atau bentakin orang." ujar Erna.


"Mungkin ibumu merasa hal itu sudah keterlaluan, makanya ia berani bentak." jawab Ema.


"Sepertinya begitu, Ma. Kamu kan tahu sendiri gimana kami di julidin dan diomongin setiap hari."


"Sesabar sabarnya orang pasti ada batasnya juga,"


Benar kata Ema, Ibunya sudah berada di ujung batas kesabarannya. Makanya ia tidak takut lagi bersuara keras. Sama seperti pada Rani kala itu.


Hari sudah malam dan Ema juga sudah pamit pulang. Erna masuk ke kamar dan menulis lamarannya untuk besok. Ah, sudah lama sekali ia tidak menulis seperti itu, rasanya tulisannya sudah seperti cakar ayam aja. Beberapa kali ia mengulanginya karena salah penulisan. Tiga kali baru terlihat sempurna dan pas surat lamarannya.


"Semoga besok aku diterima, Amin." harapnya. Ia berdoa memeluk map yang berisi lamarannya itu.


"Ernaa, Ayo makan," panggil ibunya.


"Iya, Bu."


Gadis itu langsung berjalan menuju meja makan untuk makan malam bersama ibunya. Baru saja ia mulai menyendok nasi terdengar gedoran di depan pintu.


"Huh, siapa sih? Kasar bangat ngetoknya?" kesal Erna lalu berjalan ke depan.


Klek.


Pintu terbuka dan tampaklah sosok yang tidak asing, siapa lagi kalo bukan emaknya Tini.


"Ada apa yah? Ngetoknya bisa pelan? Kalo pintunya rusak mau ganti?'' ucap Erna ketus.


"Heh! Pintu segini doang, emang berapa sih? Jangan terlalu sombong. Aku bisa 20 pintu untuk menggantinya!'' sentak Nunung.


"Banyak ngomong bae. Ada keperluan apa kesini?''


"Kenapa hobimu merebut lakinya si Tini? Apa gak ada laki laki lain lagi, Hah?!" bentaknya dengan sorot mata penuh emosi.

__ADS_1


"Emang lakinya si Tini yang mana aku rebut?" tanya Erna dengan tenang.


"Jangan pura pura enggak tau, Erna! Anakku dari tadi nangis gak mau diam!''


"Wallah, kayak anak kecil aja. Coba deh, bujuknya pake permen. Sekarang Bu Nunung langsung beli ke warung aja, disini gak dijual soalnya."


"Kamu!''


Brak!


Ia menepuk pintu rumah Erna dengan keras hingga berbunyi dan gadis itu sedikit terlonjak kaget.


"Kamu, dasar anak gak tau malu ya!" bentaknya menunjuk muka Erna.


"Heh, Nunung! Apa apaan kamu, Hah?''


Idah muncul dari belakang. Sepertinya ibunya baru habis dari kamar mandi.


"Eh Idah, Bilangin sama anak kamu yang kurang ajar ini untuk tidak mengganggu anak saya!'' cetus Nunung mengingatkan.


"Heh, sejak kapan Erna menganggu anakmu? Yang ada itu si Tini yang ngelabrak sambil marah marah kesini. Hati hati ya kalo ngomong." ujar Idah.


"Kalian berdua sama aja, enggak ada yang benar. Tuh, lihat kelakuan kalian sampai si Heri lebih milih cari bini baru daripada kembali sama keluarganya. Karena emak sama anaknya sinting semua!'' ketus Nunung berteriak.


Ibunya mendorong Nunung keluar dari rumah mereka. Sungguh keterlaluan memang mulut wanita satu itu. Anaknya yang bermasalah, dia yang yang menyalahkan mereka.


"Udah Idah, nanti aku jatuh!" kata Nunung ketakutan saat Idah mendorongnya menuruni anak tangga.


"Biarin, biar tahu rasa kamu. Kamu kira aku takut sama kamu selama ini? Jangan terus mengatai kami, apa hebatnya kamu, hah?!''


Idah masih meracau mengeluarkan semua unek uneknya selama ini. Ternyata memang benar, bahwa ibunya sudah di ambang batas kesabarannya.


"Bu, udah. Kita masuk yuk,"


Erna merangkul lengan ibunya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ibunya masih saja menangis sesenggukan.


"Salah kita apa apa sebenarnya, Nak? Mengapa selalu saja kita yang dikatai? Serendah itukah kita disini?''


Ibunya terus berujar, Erna diam dan hanya memeluk ibunya. Ia sendiri juga ingin menanyakan hal yang sama. Mengapa selalu mereka yang dikatai?


Setelah tangis ibunya reda, Erna mengajaknya untuk makan malam karena tadi belum sempat akibat ulah Nunung yang tidak jelas. Makanan mereka juga sudah dingin karena terlalu lama diabaikan.


"Bu, makan dulu." ucap Erna.

__ADS_1


Ibunya tetap bergeming di depan makanannya.


"Bu, gak baik loh kita cemberut di depan makanan." ucapnya lagi.


"Makanan aja dihargai Nak, Mengapa tetangga kita gak bisa menghargai kita?'' ujar Ibunya.


Ah, rupanya ibunya merasa sakit hati. Erna terus mengunyah makanannya hingga habis begitu pula dengan ibunya yang akhirnya makan juga.


Setelah makan, Erna segera beberes meja makan dan mencuci perabotan yang kotor.


"Nak, kesini dulu," panggil ibunya.


"Iya. Ada apa, Bu?''


"Besok kamu jadi masukin lamaran kamu?'' tanya ibunya.


"Iya, jadi Bu. Semua berkas udah siap. Surat lamaran juga jadi. Tinggal ngantar aja besok."


"Bagus, Nak. Semoga kamu diterima ya."


"Amin."


"Hm, gimana kalo kita pindah aja Nak?'' ujar ibunya menatap Erna.


"Hah? Pindah? Pindah rumah apa gimana maksud ibu?'' tanya Erna kaget.


"Pindah rumah, Nak. Lingkungan ini kayak racun buat kita," kata ibunya.


"Tapi mau pindah kemana emangnya?'' tanya Erna.


"Ibu juga belum tahu, Nak. Enggak tahan lagi disini, capek hati ibu." ujarnya.


"Tapi Bu, rumah ini banyak kenangan buat kita. Susah, senang, kecewa, marah, kita tetap berteduh di dalamnya. Banyak pengorbanan ibu buat rumah ini, layak untuk kita tinggali berdua." kata Erna.


Ibunya terdiam mencerna semua perkataan Erna.


"Jangan hanya karena perkataan mereka, kita lari seperti pengecut. Biarlah kita tetap disini, Bu. Lagian sekarang susah, Erna belum dapat kerjaan. Jadi ibu jangan berpikir lagi untuk pindah yah." ujarnya menggenggam tangan ibunya.


"Iya, Nak. Maafin Ibu. Ibu terlalu muak sama omongan tetangga."


"Erna tahu, Bu. Kadang aku juga muak dan marah, tetapi kita anggap santai aja. Kalo bisa dilawan langsung buat mati kutu biar mereka juga kapok. Tunjukkin kalo kita gak lemah."


"Terima kasih, Nak. Kamu benar benar malaikat untuk ibu." katanya lalu memeluk Erna.

__ADS_1


Setelah selesai sesi curhat curhatan, ibu dan anak itu langsung masuk ke dalam kamar masing masing untuk istirahat.


__ADS_2