Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 41


__ADS_3

Tok tokk tokk ......


"Rani, bukain pintu,''


Wanita itu kagetĀ  dan bangun mendengar suara Kakaknya memanggil namanya. Dia melihat jam di kamarnya dan betapa terkejutnya ia karena sudah pukul delapan malam.


"Astaga,''


Rani langsung turun dari ranjang dan membukakan pintu untuk Kakaknya.


"Kemana aja sih, kamu?'' omelnya saat ia memasuki rumah.


"Maaf, tadi aku ketiduran kak,'' jawab Rani lalu menuju meja makan.


"Kakak bawa apa tuh,'' tanya Rani kala melihat kresek yang dibawa kakaknya.


"Gado gado, Ran. Kamu udah makan?'' tanyanya.


"Belum, kak.;; jawabnya.


Rani langsung mengeluarkan dua bungkus gado gado dari kresek itu dan meletakkannya di piring. Tak lupa wanita itu menyiapkan air di gelas dan menaruhnya di meja.


"Makan dulu, Kak.'' ajak Rani.


"Iya, bentar. Aku ganti baju dulu,'' jawab Rafi dari dalam kamarnya.


Rani menunggu kakaknya di meja makan sembari bermain ponsel. Ternyata di ponselnya banyak sekali pesan masuk dari Sugar Daddynya. Ah, karena ketiduran ia sampai lupa jika ada janji dengannya jam lima sore tadi. Lagian tubuhnya lagi gak enak, serasa ingin sakit aja sehari.


Setelah Rani mengirim pesan permintaan maaf, Rani langsung menyimpan ponselnya karena kakaknya sudah datang. Rafi paling tidak suka kalo Adiknya itu bermain ponsel sambil makan.

__ADS_1


Mereka berdau duduk di meja makan sederhana itu. Semenjak kepergian ibunya, Rafilah yang mengurus Adik semata wayangnya itu. Meskipun Rani kerap membuat oner, Tetapi ia tidak pernah meninggalkannya sendiri.


"Makan, jangan dilamunin,'' tegur Rafi yang mendapati Rani sedang melamun.


"Iya, kak.''


Baru saja mencium bau gado gado, tiba tiba Rani merasa begitu mual


"Uweekk......Uweeekkkk....''


Dengan cepat, Rani berlari menuju kamar mandi. Di sana Ia memuntahkan semua isi perutnya, tetapi tetap saja ia masih mual.


"Ran, kamu kenapa? Kamu sakit?'' tanya Rafi dari luar.


Rani tak menjawab dan masih terus memuntahkan isi perutnya hingga membuatnya lemas. Setelah selesai, Rani menyikat giginya dan membersihkan wajahnya yang begitu memprihatinkan itu.


"Kamu kenapa sih?'' tanya Rafi saat dia keluar dari kamar mandi.


"Apa asam lambungmu kumat?'' tanya Rafi khawatir.


"Enggak, Aku makan dengan benar kok. Masakan kakak selalu habis kumakan,'' ujarnya membantah.


"Lah, terus kenapa kamu bisa seperti tadi muntah muntah?''


"Aku gak suka bau gado gado, Kak. Bawaannya pengen muntah.''


Seketika Kakaknya itu terkejut mendengan ucapan sang adiknya itu.


"Ran?''

__ADS_1


"Kenapa?'' tanya Rani heran melihat ekspresi Rafi.


"Gejala kamu lebih mirip ke orang hami loh,'' ujarnya pelan.


Degh!


Hah? Hamil? Apa iya? Seketika tubuhnya menjadi lemas. Wanita itu bersandar pada tembok lali menyosot turun ke lantai.


"Rani, Apa kamu masih menjalankan pekerjaan yang gak benar itu?!'' sentak Rafi.


Rani diam memikirkan semua ucapannya tadi. Apa iya dia hamil? Rasanya tidak mungkin, bisa saja ia terkena asam lambung.


"Rani jawab!'' bentak Rafi.


Rani sangat terkejut setengah mati sekaligus takut dengannya. Ia sudah mengancamnya untuk tidak melakukan hal itu. Bahkan Rafi akan meninggalkannya sendiri jika ia ketahuan masih melakukan dan melawan.


Habislah riwayatnya jika ia tahu kalo Rani masih melakukannya secara diam diam.


"Kamu enggak punya mulut?!'' bentaknya dengan marah.


"A....Aku.... Enggak mungkin hamil, Kak,'' jawabnya gugup, "Tiap hari aku di rumah terus kok.''


"Jangan bohong kamu, Ran,'' tanya Rafi penuh selidik.


Rani menggelengkan kepalanya takut. Rafi bangun dari hadapannya dan kembali duduk melanjutkan makannya. Pelan pelan, Rani bangun dan duduj bersama kakaknya. Rani membuka bungkus gado gado itu untuk menyantapnya bersama Rafi, Tapi rasa mual kembali hadir tetapi sekuat tenaga ia menahannya. Rani ingin membuktikan kepada rafi jika ia tidak hamil.


"Uweeeekkk.....Uweeekkk....''


Sekuat apapun di tahan, tetap saja dia tidak menyukai baunya.

__ADS_1


BRAKK!!!!


__ADS_2