Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 51


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, seperti biasa Nunung bangun dan membersihkan diri lalu langsung nongkrong. Tini udah masak dan suaminya sudah selesai makan dan berangkat kerja.


Tiba di warung julid, terdengar mereka sedang berbicara dan menyebut nama Nunung.


"Heh, ada apa ini?'' tanyanya langsung.


"Eh, Nung. Ngagetin aja," ucap Disa.


"Kalian aja yang terlalu serius," ucap Nunung lalu duduk sambil mencomot gorengan bu warung.


"Ada berita hangat apa pagi ini?'' tanyanya sambil nguyah.


Mereka semua nampak saling melihat dan diam dan sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu.


"Ditanya Itu, dijawab dong," ujarnya sewot.


"Mending Kita harus hati hati sekarang," kata Disa.


"Hati hati maksudnya?" tanya Fira yang juga masih tidak ngerti.


"Ih, kamu. Baru juga tadi diomongin,"


"Emang ngomong apaan tadi?" tanya Nunung penasaran.


"Itu loh, temannya si Erna yang ngekos di kosannya bu rt. Siapa itu namanya? Lupa aku." kata Disa.


"Ho,oh. Cewek cantik masih bujang pula. Baru aja mau aku omongin," ujar Nunung.


"Iya, mending jaga laki kita baik baik. Apalagi kamu, Nung. Rumah kamu kan langsung berhadapan sama kosan bu rt. Hati hati loh," ucap Disa.


"Iya nih, kok aku jadi resah ya?'' kata Fira.


"Takutnya dia kayak Rani lagi, diam diam menghanyutkan. Salah si Erna juga tuh bawa temannya kesini, kalo ada apa apa lihat aja dia!'' ujar Nunung menyalahkan Erna.


"Benar tuh, dasar cewek gak benar. Belom tobat di pecat dia, malah nyari gara gara bawa temannya kesini," sewot Disa juga.


Nunung jadi ketar ketir sendiri dengan omongan Disa tadi. Benar juga apa katanya, apalagi akhir kahir ini suaminya berlagak aneh. Duduk di depan teras sampai larut malam bersama ponselnya.


Huh, lihat saja mereka jika berani cari gara gara dengan Nunung.

__ADS_1


Hari terus berlalu dengan banyak konflik hari ini. Di mulai dengan ketahuannya si Rani yang hamidun dengan selingkuhannya yang membuat seisi kampung gempar. Dugaan mereka saat itu ternyata benar dan tidak salah, memang mereka itu sangat berbakat dalam berbicara, buktinya Rani benar benar hamil.


"Tuh, lihat kelakuan Rani. Masih muda udah hamil aja sama laki orang," ujar Nunung pada anaknya si Tini.


"Iru kan dia, Bu. bukan aku," jawabnya dengan mata di ponsel.


"Heh, sama aja. Kamu juga belom dapat kerja sama kayak anaknya Disa. Tiap hari kerjanya hanya minta duit, habis minta lagi," cerca Nunung.


"Ibu bantu cariin dong. Kenalan bapak kan banyak." katanya dengan entengnya.


"Dasar gampangan," kesal Nunung kepada putrinya itu.


Nunung sudah meminta bantuan Erna, tapi anak itu juga ngeyel gak mau membantu. Sombong sekali dia itu, pikirnya pekerjaan OG ada bagusnya apa?


Nunung melangkah menuju warung julid sore ini. Langkahnya terhenti ketika melihat Idah sedang menyapu halaman.


"Eh, Idah," panggilnya.


"Apa?'' jawab Idah cetus.


"Kalo ada tamu laki itu jangan kelamaan di dalam berduaan. Jatuhnya dosa loh. Kami semua tahu kamu kesepian, tapi jangan mancing fitnah di antara tetangga." ujar Nunung.


"Enggak usah bawa otakku Idah, emang kenyataan gitu. Mulai yah, cari mangsa? Kepanasan kamu lihat Heri kawin lagi? Mau juga?'' kata Nunung semakin membuat Idah emosi.


Idah menarik nafasnya pelan lalu siap menghajar Nunung.


"Awas ya, Nung. Perkataan burukmu bisa kembali padamu. Urus saja suamimu agar tidak selingkuh akibat ucapanmu sendiri." ketusnya.


"Heh, janda gatal! Kamu mau rebut suamiku juga?''


"Gila kamu! Otak dipake mikir bego,'' cetus Idah balik. Setelah berkata seperti itu Idah langsung masuk ke rumahnya.


"Lihat aja, Idah! Akan kubenyek mulutmu!'' dengan emosi Nunung melangkah menuju ke warung julid.


"Nung, mukamu kenapa?'' tanya Eri.


"Kesel aja sama si janda gatal itu," ujarnya.


"Ya udah, sini kita gosip aja. Ada berita hangat.'' kata Ros.

__ADS_1


Mereka semua duduk berkumpul lalu bercerita. Tapi tumben Disa tidak ada di sana. Ah, toh mereka juga di sana bahas tentangnya.


"Eh, Nung? Itu si Santo boncengan sama siapa tuh?'' tanya Eri sambil memonyongkan bibirnya ke arah sepeda motor yang lewat.


Mata Nunung membola melihat suaminya berboncengan dengan Ema.


"Mas Santo!!!''


Tanpa aba aba, Nunung langsung lari mengejar mereka yang naik motor. Nafasnya tersenggal karena ia terlalu berat.


"Awas kamu kalo ketahuan selingkuh!'' amuknya.


Tak peduli dengan teriakan teman temannya, ia terus berlari sampai ke rumah. Nunung melihat suaminya dan Ema masih berbicara apalagi sambil senyum senyuman.


"Hei, gadis gatal!'' kata Nunung menghampiri mereka.


"Heh, Bu? Kenapa bicaranya begitu?'' kata suaminya.


"Bapak ngapain bela dia? Kalian selingkuh ya?!'' tuduh Nunung geram.


"Astaga, Bu. Sadar bu sadar. Kamu jangan cemburu buta gitu dong." ucap Santo.


"Iya, Bu. Maaf kalo saya pulang sama bapak tadi. Karena ketemu di gang, di ajak bareng aja, enggak ngapa ngapain." ujar Ema.


"Jangan bohong kalian!'' sentaknya.


Para tetangga sudah berkerumun begitu pula dengan bu rt.


"Aduh, apa ribut ribut?'' tanya bu rt.


"Ini, Bu. Ketahuan si Ema selingkuh sama suami saya!''


"Astaga, Bu? Cukup! Jangan asal menuduh!'' ucap Santo.


"Iya, bu. Saya tidak mungkin berbuat hal seperti itu." ujar Ema mulai menangis.


"Bu Nunung, tenang dulu. Kita bicarakan baik baik. Ini gak bagus loh kalo asal nuduh tanpa ada bukti dan saksi." kata RT.


"Saya saksinya." tiba tiba Disa muncul. "Saya melihat sudah beberapa malam ini Pak Santo bertandang ke kosannya Ema. Secara logika, ngapain coba?'' ujarnya.

__ADS_1


"Apaa!!!"


__ADS_2