Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 55


__ADS_3

Keadaan di rumah Tini setelah pertengkaran kedua orang tuanya menjadi begitu tegang. Kondisi Nunung sangat memprihatinkan semenjak Sanyo mengutarakan niatnya untuk menikah lagi.


Nunung begitu marah dan tidak terima tetapi suaminya seolah tidak peduli. Alasannya selama ini karena Santo merasa sudah tidak lagi diperhatikan oleh Nunung. Nunung yang sangat sering keluar dari pagi untuk berkumpul bersama teman temannya di warung julid tak memperhatikan Santo dengan baik. Bahkan untuk serapan pun Santo menyiapkannya sendiri. Baju dan perlengkapan saat hendak berangkat kerja juga diurus oleh suaminya sendiri.


Mungkin ia sudah jengah dengan kelakuan Nunung yang tak sama dengan ibu ibu lain.


Awalnya, Anaknya Tini berpikir tak masalah seperti itu karena bapaknya tak pernah menegur ibunya si Nunung. Kondisi rumahnya tetap anteng, meski Nunung tak memasak dan lebih sering berada di luar rumah.


Mungkin hal itulah yang membuat Santo mencari pelarian di luar sana. Laki laki mana yang tak jengah jika tidak diurus dan diperhatikan? Padahal jika dibilang, Santo tak pernah kurang dalam hal menafkahi keluarganya. Penghasilannya sebagai karyawan BUMN tentunya tidak sedikit. Nunung dijatahi lengkap setiap bulan tanpa ada embel embel lain dari Santo.


Setelah dua hari pasca perkelahian mereka, Nunung terus mengurung diri di dalam kamar.


"Tin, kalo ada tetangga yang nyariin ibu, bilang aja ibu lagi pulang kampung." katanya kala itu.


"Emang ibu mau pulang kampung beneran?" tanya Tini.


"Ya enggaklah, Tin. Ibu malu aja sama tetangga. Apalagi bapak kamu mau nikah lagi, mau ditaruh dimana muka ibu?''


"Ya di kepala lah, Bu. Lagian mereka juga enggak tahu kalo bapak mau nikah lagi," kata Tini.


"Astaga, Tin. Kamu kayak enggak tahu tetangga kita aja. Si Disa sama Fira itu telinganya tajam bangat, bisa bisa seisi kampung ini tahu. Malu ibu, malu Tin," ujarnya menangis.


"Ya udah, ngurung aja terus di kamar," ketus Tini.

__ADS_1


Tini langsung menuju dapur untuk memasak. Gadis itu mengambil sayur kangkung yang semuanya sudah hampir layu dan menguning lalu memasaknya. Tempe dan tahu juga ia goreng. Setelah selesai masak menu andalannya, gadis itu memanggil ibunya untuk makan.


"Bu, ayo makan," panggilnya mengajak.


"Gak, Tin. Ibu gak selera makan." jawabnya.


"Nanti asam lambungnya naik, Bu." ujar Tini membujuk.


"Enggak, Tin. Mending sakit terus mati aja sekalian," ucapnya.


Tini hanya bisa mengelus dadanya, kesal juga dengan perkataan ibunya. "Mending aku makan duluan, nanti kalo lapar pasti ibu akan makan sendiri."


Dua hari berjalan, seperti biasa pagi pagi Santo sudah berangkat kerja. Tini diberi uang untuk belanja isi kulkas. Setelah merapihkan rumah, gadis itu langsung menuju pasar naik ojek karena dia tak tahan kalo harus jalan kaki. Karena jujur, gadis itu jarang sekali ke pasar. Biasanya ibunya, itupun kalo ia sedang rajin. Jika tidak, ya mereka menunggu kang sayur yang lewat atau gak beli lauk yang sudah jadi.


Sesampainya di pasar, ia bertemu Erna dan Idah. Mereka juga menanyakan keberadaan ibunya yang tak terlihat.


Tini hanya menjawab sesuai yang ibunya suruh karena menurutnya lebih baik saja jika mengikuti apa yang ibunya mau.


Setelah berbelanja dia langsung pulang ke rumah. Di perjalanan ia kembali bertemu dengan Disa dan Fira.


"Tin, emak kamu kemana sih? Kampung sepi bangat gak ada dia," ujar Disa.


"Ibu pulang kampung, Bu Dis." jawabnya.

__ADS_1


"Lah, kok pulang gak pamit sama kami sih?''


"Apa karena bapak sama ibumu bertengkar makanya ibumu pulang ke kampung ya? Pulang apa dipulangkan sih?'' kepo Fira.


"Pulang bentar doang, nanti balik lagi," jawab Tini santai dan tidak mau ambil pusing.


"Hm, emang masalah bapak sama ibumu idah sampai mana sih? Ada apa sebenarnya diantara mereka?'' tanya Disa mulai menyelidiki.


"Iya, Nih. Kok malah setelah bertengkar Nunung pulang kampung. Apa bapakmu main KDRT?'' ketus Fira.


"Astaga! Banyak amat sih pertanyaannya, pusing nih mau jawab yang mana!'' ketus Tini kesal juga lama lama.


"Jawab pertanyaan saya dulu. Atau jangan jangan bapakmu menggugat cerai si Nunung ya?'' timpal Disa.


"Ya ampun, sok tau bangat sih!!' kesal Tini.


"Ya, mana tau aja kan Tin. Makanya ibumu menghilang dari kampung ini." ujar Fira.


Tini melenggang pergi menjauh dari kedua teman karib ibunya itu. Bisa bisanya mereka berbicara tentang ibunya seperti itu. Memang sih, bapaknya tidak menggugat cerai ibunya, hanya bilang jika ia akan menikah lagi.


"Huh, segininya punya ibu terkenal. Aku yakin dikalangan para ibu ibu, nama Nunung sudah harum semerbak beserta segala dugaan yang ada." monolognya.


Saat dia tiba di rumah, gadis itu langsung mengeluarkan belanjaannya. Tini memang tak pandai memilih sayuran dan bahan masakan lainnya karena tak pernah belanja.

__ADS_1


"Kok ada yang layu sih," gerutunya saat melihat sawi yang ia beli sudah ada layu.


Gadis itu langsung memasukkan ke kulkas setelah menyisihkan untuk yang dia masak.


__ADS_2