
Tok..... Tok.... Tok....
Baru saja mata gadis itu hendak terpejam, ia malah mendengar suara ketukan pintu di depan. Tak lama disusul dengan suara seorang wanita.
"Ernaa......"
Erna melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sudah larut malam tetapi siapa yang masih hendak bertamu?
Suara itu memanggil namanya sekali lagi dan membuatnya terganggu.
"Huh, siapa sih ganggu malam malam?''
Dengan langkah malas karena sudah terlalu ngantuk, Erna berjalan menuju pintu depan.
"Siapa itu?'' tanya Erna dari dalam sebelum membuka pintu.
"Ern, ini aku Rani. Tolong bukain pintunya cepat," ujar suara yang ternyata adalah Rani.
Erna membuka pintu dan tampaklah Rani sedang berdiri di depan dengan menggunakan jaket tebal.
"Aku sakit, Ern. Tolongin aku," ujarnya memelas.
"Ya ampun, sakit apa Ran?" tanya Erna kasihan.
Wajahnya pucat pasi dan sedikit gemetaran. Erna langsung mengajaknya masuk dan menyuruhnya untuk duduk di kursi. Gadis itu langsung membangunkan ibunya yang sudah tidur. Kasihan juga si Rani, meski ia kerap marah marah padanya tetapi ia masih punya hati untuk mengasihaninya.
"Bu...." Erna mengetuk pintu kamar Idah.
Tak lama terdengar derap langkah menuju pintu.
Krek.....
"Ada apa, Nak?'' tanya Idah.
"Bu, Rani ada di depan. Kasihan dia sedang sakit, tubuhnya gemetar dan ia demam," kata Erna.
"Astaga, dimana dia? Kasihan, dia kan sedang hamil." ujar Idah.
"Di depan, Bu."
Erna langsung mengambilkan air hangat untuk diberikan ke Rani, sementara ibunya terlebih dahulu melihatnya.
Erna kembali ke depan dengan membawa air, tetapi baru saja sampai di ruang tengah, Idah menyuruhnya mengambil ember berisi air karena Rani muntah muntah.
"Astaga, Ran. Bangun, Nak. Kamu kenapa?'' ujar Idah panik.
__ADS_1
"Loh? Rani kenapa, Bu?"
"Enggak tahu, Nak. Dia pingsan," jawab Idah.
"Astaga, cobaan apa lagi ini?''
Ibu dan anak itu sangat panik melihat Rani yang pingsan. Tubuhnya juga terus bergetar dan suhu badannya tinggi.
"Aduh, gimana nih, Bu?" tanya Erna bingung.
"Ibu juga enggak tahu lagi, Nak. Mana udah tengah malam lagi," kata Idah yang kebingungan.
"Badannya Rani kok memerah gini, Bu?''
"Ya, Tuhan. Jangan jangan Rani alergi lagi." kata Idah.
"Kita bawa ke rumah sakit aja ya, Bu." ujar Erna.
"Tapi udah tengah malam, Nak. Coba kamu hubungi si Rafi." usul Idah.
Erna langsung bergegas mengambil ponselnya yang ada di kamar dan langsung menghubungi Rafi. Ini akibatnya jika terlalu bandel dan tidak mau mendengar kata orang yang lebih tua.
Panggilan pertama hingga ketiga tidak kunjung di terima oleh Rafi. Erna memutuskan untuk mengirim pesan saja padanya untuk segera datang ke rumahnya. Entah dimana dia berada sekarang, apa masih di kota ini atau sudah merantau.
"Gimana? Si Rafi jawab?'' tanya Idah.
"Pesan taksi online aja ya, Nak?'' kata Idah.
"Enggak ah, Bu. Jam segini Erna takut."
"Waduh, giman nih? Apa kita pergi ke rumah Nunung aja? Minta tolong Pak Santo anterin ke rumah sakit," usul Idah.
"Hhmm, emang mereka punya mobil?" tanya Erna sedikit heran karena selama ini ia tidak pernah melihat mereka punya mobil.
"Tadi sore Pak Santo pulang pakai mobil. Entah punya mereka atau punya kantor, Ibu gak tahu. Tapi kita minta tolong aja dulu,"
Erna akhirnya menyetujui usul ibunya untuk minta tolong pada Pak Santo. Karena ia takut berdua bersama Rani, maka Erna memilih untuk yang pergi ke rumah Pak Santo.
Gadis itu berlari menuju ke rumah Tini yang jaraknya agak jauh. Ia melewati kosan Ema dan gadis itu memanggilnya.
"Ern, mau kemana malam malam gini?" tanyanya ikutan panik.
"Aku mau ke rumah Bu Nunung, Ma."
"Mau ngapain kesana? Udah jam segini pula," tanyanya makin bingung.
__ADS_1
Erna melihat ke halaman rumah Nunung, benar saja ada sebuah mobil terparkir di sana.
"Mau minta tolong bawain si Rani ke rumah sakit pakai mobil Pak Santo." kata Erna.
"Emang si Rani sakit apa? Kenapa gak telepon ambulance aja?''
"Astaga, benar juga ya. Aku sampai pikun begini karena panik. Tapi idah sampai sini, mending masuk aja deh,"
"Ya udah, Ern. Gih, masuk. Maaf aku gak bisa temani, masih takut sama Bu Nunung." ujar Ema.
"Iya. Enggak apa apa, Ma. Aku kesana dulu ya." ucapnya lalu meninggalkan Ema.
Tok... Tok.... Tokkk...
Erna mengetuk pintu rumah Bu Nunung. Kayaknya ini kali pertama tahun ini Erna berkunjung ke rumah itu.
"Siapa?" tanya suara dari dalam.
"Ini Erna, maaf mengganggu waktu malam malam," jawabnya.
Krek.....
Pintu rumah terbuka dan keluarlah Tini. Ia nampak ramah menyambutnya, terlihat dari wajahnya yang tersenyum. Mungkin efek tadi siang mereka menolong ibunya yang pingsan. Jika Tini sudah berubah ramah, itu bagus. Setidaknya mengurangi satu orang yang tidak menyukainya.
"Ern, ada apa? Tumben malam malam kesini? Sama siapa?'' tanyanya.
"Aku sendirian, Tin. Maaf bangat udah ganggu, tapi aku mau minta tolong," ucapnya.
"Apa, Ern? Bilang aja,"
"Si Rani sakit di rumahku, ia gak sadarkan diri. Tubuhnya ruam dan gemetaran. Aku mau minta tolong sama Pak Santo untuk anterin kami ke rumah sakit pakai mobil kalian. Maaf loh Tin kalo aku lancang." kata Erna.
"Ya udah bentar ya, aku kasih tahu bapak dulu. Soalnya bapak baru saja masuk ke kamar. Tunggu ya, Ern. Duduk aja di dalam,"
Jawaban Tini yang ramah membuatnya lega, semoga saja mereka mau memberi pertolongan.
"Eh, Nak Erna. Katanya mau ke rumah sakit ya?'' tanya Santo yang muncul dari belakang.
"Iya, Pak. Maaf bangat Erna udah ganggu waktu istirahat bapak," ujar Erna merasa tidak enak.
"Enggak masalah, Nak. Kalo gitu bapak ambil kunci mobil dulu. Rani di rumah kamu?'' tanyanya.
"Iya, Pak. Terima kasih banyak udah mau nolongin." kata Erna.
"Enggak masalah, kita sesama tetangga harus saling tolong menolong," kata Santo.
__ADS_1
Erna berpamitan pada Tini untuk pulang. Baru saja melangkahkan kaki hendak keluar dari rumah, Erna mendengar suara wanita memanggil Pak Santo. Suara itu bukan milik Bu Nunung, tapi mengapa terdengar begitu mesra? Lalu dimanakah Bu Nunung, tumben ia tidak bersuara, apa ia masih di rumah sakit? Tapi Tini saja sudah di sana.
"Mas, mau kemana?'' tanya suara wanita itu.