Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 71


__ADS_3

Siang hari setelah selesai memasak, Idah pergi mengantarkan makanan ke rumah Rani. Erna yang memberi tahu Idah jika mereka sudah pulang tadi siang.


Idah menyuruh Erna makan terlebih dahulu dan tidak usah menunggunya. Tapi gadis itu merasa tak jika makan sendiri karena sudah terbiasa makan berdua dengan ibunya.


Erna lebih memilih duduk di teras rumah sambil menikmati angin segar karena cuaca sangat panas. Saat tengah asyik duduk, mobil sedan hitam yang terbiasa Heri pakai terlihat memasuki halaman rumahnya.


"Mau apalagi bapak kesini?" gumamnya.


Erna duduk dan terus menatap Heri yang turun dari mobil lalu melangkah naik ke teras rumah.


"Hay, Erna. Anak bapak." sapa Heri dengan senyum.


"Nih, lihat bapak bawa apa? Ini kue donat kesukaan kamu," ucapnya lalu menyodorkan kantong kresek berlogo kue bundar itu.


Erna bingung melihat tingkah laku bapaknya yang jauh berbeda dengan kemarin. Ia nampak seperti bapak tiri baginya saat Heri kemarin membentaknya. Dan tiba tiba sekarang tidak ada angin, tidak ada hujan, ia sangat baik sama seperti bapaknya dahulu. Apa ini triknya agar gadis itu melunak padanya?


"Ngapain kamu kesini?'' terus Erna sambil mengipas ngipas wajahnya.


"Emang salah, Bapak datang tengokin kamu, Nak?" tanyanya.


"Iya! Lagian aneh aja," balas Erna datar.


"Loh? Kok aneh sih?" ujarnya.


"Bapak jangan jangan kena sakit pikun dini ya. Udah lupa sama.perlakuan bapak kemarin sama aku? Sekarang kok baik bangat, makanya jadi aneh," ujar Erna.


"Maafin bapak, Nak. Bapak kayak gitu karena ada Tari." jawabnya tidak tahu malu.


"Hahaha, lucu sekali bapak ini. Enggak punya pendirian!'' ujar Erna tertawa.


"Ya mau bagaimana lagi, Nak? Bapak capek hidup susah terus. Kalo udah dapat yang enak gini kan harus di jaga," ujarnya enggak ada malunya.

__ADS_1


Astaga, Erna sangat kaget mendengar ucapan bapaknya yang seperti itu. Sungguh tidak tahu malu, seolah yang ia lakukan padanya kemarin adalah hal biasa. Seorang ayah rela merendahkan anaknya hanya untuk melindungi dirinya sendiri. Erna sangat malu mempunyai bapak sepertinya. Memang ia adalah orang tua yang membuatnya ada di dunia ini, tetapi pantaskah ia sebagai anak diperlakukan seperti itu?


Erna melenggang masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa membawa pemberian Heri. Rupanya ia mengikutinya masuk ke dalam rumah.


"Ibu kamu kemana? Tumben sepi," tanyanya.


Erna tak menjawab dan langsung menuju kulkas untuk mengambil air minum.


"Rumah ini makin bagus ya. Kalian merawatnya dengan baik." kata Heri.


"Ya iyalah kami rawat. Masa rumah sendiri tidak diurus?!'' cetusnya.


Heri duduk di meja makan lalu membuka tudung saji.


"Wah, ini semua masakan ibumu?'' tanyanya antusias.


"Iya," jawab Erna datar.


"Mending bapak pulang aja deh. Aku mau makan siang!'' ketus Erna.


"Kamu ngusir bapak?''


"Enggak. Lagian ngapain bapak kesini? Rumah bapak kan di tempat elit. Dan bapak udah punya Tari, jadi jangan ngomong seperti tadi lagi. Aku gak mau jadi masalah untukku dan ibu lagi!'' kata Erna memperingatkan.


"Ini rumah bapak juga," ujarnya begitu tidak tau malunya.


"Hellow?! Apa kata bapak? Rumah bapak? Kaget aku dengarnya!''


"Erna? Kenapa sikapmu begini ke bapak," tanyanya sedih.


"Kamu nanya?'' batin Erna menatapnya kesal.

__ADS_1


"Setelah ninggalin kami begitu saja, sampai kami harus diusir karena tidak mampu bayar tempat ini dan ibu berusaha nutupin dari usaha ibu, bapak masih sebut ini rumah bapak?!" ketus Erna emosi.


Erna benar benar emosi dengan bapaknya sekarang. Entah otaknya sudah di taruh dimana. Ngomongnya lancar tanpa beban, tak ada malu malunya dengan mereka.


"Erna," suara Ibunya menggelegar.


"Iya, Bum" jawabnya berlalu menuju ke depan.


"Apa si Heri gila itu datang lagi?'' tanya Idah emosi.


Dengan langkah yang cepat melewati Erna, ia langsung masuk ke dalam rumah.


"Ngapain kamu kesini lagi?!'' bentak Idah.


"Masalah kalo aku kesini?'' tanya Heri balik.


"Iya jelas masalahlah! Kita udah cerai, dan enggak seharusnya kamu ada disini. Memalukan sekali!'' ketus Idah.


"Aku kesini buat ngomongin masalah rumah ini, Idah! Jangan egois, ada hakku juga disini," kata Heri dengan begitu gampangnya.


"Gila kamu! Pikiran katro dari mana? Aku yang bayarin lunas tanah ini, rumah jadi dengan bata juga itu usahaku. Jadi jangan datang membuat dongeng kesini!" ujar Idah lantang.


"Bu, udah jangan emosi. Nanti ibu sakit," kata Erna menenangkan.


"Jadi kamu ngerti maksud aku kan? Kita bagi dua rumah ini."


"Enggak Heri! Ini rumah punyaku dan Erna, tidak ada hakmu di dalam sini. Mendingan kamu pergi sebelum aku siram pakai air panas!'' bentak Idah.


"Aku gak bakal pergi sebelum kamu menuhin hak aku dengan memberikan jatah rumah ini!" kata Heri tak mau kalah.


"Sinting otakmu Heri! Cepat pergi, siapa yang sudah mencuci otakmu sehingga tambah bego begini, hah?!" cetus Idah emosi.

__ADS_1


"Aku? Kenapa?! Apa kalian tak terima?''


__ADS_2