Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 9


__ADS_3

"Toloooongggg??!!...." teriak bu Disa sambil berlari.


Ya ampun, ternyata dia dikejar seekor anjing. Tapi setahu Erna di daerahnya itu tidak ada yang memelihara anjing. Mungkinkah anjing itu milik tetangga baru?


Erna berjalan mendekati pagar depan untuk melihat sedangkan teriakan Disa masih bisa ia dengar.


"Melo? Melo...."


Seorang Lelaki muda berlari mengejar Disa sambil menyebut nama gug. Ah, anjing itu bernama Melo.


"Hey, Melo, Berhenti." teriak lelaki itu lagi.


Tak lama setelah lelaki itu berteriak, suara Disa juga tak terdengar lagi. Erna melongok keluar pagar untuk melihat apa hang terjadi selanjutnya. Ternyata banyak juga yang ikut menyaksikan kejadian heboh itu. Nampak raut wajah Disa sudah pucat pasi. Mungkin ia merasa capek berlari sepanjang jalan ini dikejar oleh Melo.


"Maafkan kelakuan anjing saya ini, Bu." kata Lelaki itu merasa bersalah dan sedikit menunduk.


Ibu Disa tak menyahut dan berjalan kembali menuju rumahnya. Sesampainya di depan rumah Erna, Ia berhenti dan melihat Erna yang juga sedang melihatnya.


"Apa kamu lihat-lihat? Sudah puas kamu menertawakan saya?" ujarnya ketus.


"Loh, kok saya yang dimarahin sih, Bu?!" gerutu Erna.


"Ya iyalah, Dari tadi hanya kamu yang melihat dan menertawai saya!''


"Ya ampun, Bu. Coba lihat ke sekeliling ibu, banyak loh yang nonton gak cuma saya." jawab Erna sambil menunjuk tetangga yang lain.


Bu Disa mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, seketika wajahnya menjadi merah menahan malu. Dengan kesal, Ia pergi dari hadapan Erna, Sedangkan tadi Lelaki yang memanggil peliharaannya tersenyum ke arah Erna dan Gadis itu juga membalas senyumannya. Mungkin ia tetangga baru karena Erna baru melihatnya hari itu.


"Mulia deh kegatelannya,'' ucap Bu Disa.


Loh, Bukannya pulang masih sempat sempatnya melihat Mereka. Wah, keterlaluan deh, coba saja tadi lelaki itu tak ikut menghentikan anjingnya, Mungkin saja Disa sudah berlari sampai depan pasar.


"Melo, kejar lagi tuh ibu!'' kata Erna pada Melo sambil menunjuk Disa.


"Gukgukguk....." anjing itu menggonggong.


"Eh, jangan macam macam ya! Nanti saya laporin ke polisi." ujarnya menahan takut.

__ADS_1


"Hahaha...." Seketika warga yang berada disitu tertawa terbahak mendengar perkataan Bu disa. Wajahnya memerah, lalu dengan kesal, ia meninggalkan mereka dan pergi menuju rumahnya.


Setelah kepergian Bu Disa, Warga pun langsung masuk ke rumah masing masing. Erna menunggu di teras sambil menunggu ibunya pulang.


"Lama Banat sih, Ibu." gerutunya.


Sambil menunggu Idah, Erna memutar musik dan ikut bernyanyi. Lagu western kesukaannya menggema bersama suaranya. Gadis itu seperti mengadakan konser mini di halaman rumah dengan bunga bunga Idah yang sudah bermekaran yang menyaksikannya.


"Hey, Erna!" panggil Nunung yang lewat.


"Iya, Bu." jawab Erna dan masih berdiri di teras.


"Kemarin, kamu apakan si Tini?'' tanyanya sambil berkacak pinggang.


"Apa bu? Aku gak dengar, coba ibu ulang??'' kata Erna pura pura tuli. Pastilah si Tini sudah mengadu ke ibunya.


"Kamu ngapain si Tini sampai nangis satu harian?'' tanyanya lagi dengan sedikit keras.


"Ya, mana saya tahu Bu." jawabnya sambil mengendikkan bahunya.


"Heh, saya tanya baik baik yah," katanya ketus.


"Jangan sok kecantikan kamu merebut pacar anak saya. Meskipun cowoknya itu jelek, kere dan saya tak menyetujui mereka, tapi tetap saja saya tak sudi jika yang merebutnya adalah kamu!'' ucapnya garang layak seperti ingin menerkam.


Hah? Erna kaget mendengar perkataan Bu Nunung. Tanpa sadar, gadis itu tertawa terbahak. Astaga, ini orang otaknya dipakai buat apa sih? Apa adonan kue donat yang gak jadi?


"Hei Bu, saya ulangi yah, Saya ini tidak tahu masalah apa yang Tini hadapi. Dan bukan saya yang menjadi pemicunya. Saya harap ibu bijak dengan perkataan ibu. Mulut gak bisa di jaga, pantas saja anaknya kayak gitu." ucap Erna mulai emosi.


"Kamu yah, sama ibumu sama saja. Kamu tahu? Kalian berdua selalu menjadi bahan obrolan kami? Hidup sudah susah, tapi terlalu berlagak jadi wanita kegatelan." katanya berteriak.


"Benar tuh, Bu Nunung." sahut Bu Disa yang entah kapan sudah berada disitu.


"Wah, berarti benar ya. Kerjaan inti kalian itu seperti mencari berita. Sukanya ngamatin orang dan saya merasa tersanjung kalau kalian sangat perhatian dengan kami. Tapi tolong, dijaga mulutnya Bu-Ibu, Anak gadis kalian juga ada loh. Entar ucapan kalian malah nyangkut di anak kalian sendiri.'' jawab Erna dengan santai tapi mematikan.


"Jangan sok menasihati kami anak bau kencur." ucap Bu Nunung.


"Lah, bagusan saya yang bau kencur. Nah ibu bau ketek," kata Erna sambil mengebaskan tangan depan hidungnya.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu ya sama orang tua!" tunjuk Bu Nunung.


Enak saja dia berbicara seperti itu pada Erna seolah dia itu tidak punya harga diri. Gadis itu tidak akan tinggal diam dengan segala penghinaannya. Itu sudah sangat keterlaluan dan dia tidak bisa diam saja. Mau dihormati seperti apa lagi orang tua macam seperti itu.


"Gak diajarin sama ibunya, kan tau sendiri mereka seperti apa," sindir Bu Fira.


"Mending urus saja anak anak ibu. Kasihan jam segini sudah pasti kelaparan. Bukannya ngurusin isi perut sendiri, malah urusin hidup orang lain." cetus Erna lalu masuk ke dalam.


Berlama lama di depan membuatnya naik darah. Mengapa selaku saja ia dan ibunya yang menjadi sasaran mereka. Padahal mereka tidak pernah menengadah meminta pada mereka. Kesal sekali perasaan gadis manis itu.


Erna berjalan menuju ke arah kulkas dan mengambil minuman dingin untuk mendinginkan suasana hatinya yang sedang panas.


"Ibu kok lama bangat sih!'' monolognya.


Padahal sudah dari tadi ia pergi dan sampai sekarang pun belum juga pulang. Dia merasa lebih baik jika gadis itu menyusul ibunya saja ke sebelah, biar diseret pulang sekalian.


Erna keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah Bu Ratih di depan. Betapa terkejutnya Erna kala sampai di depan, Idah sedang disidang beramai ramai oleh geng julid.


"Ibu?,'' panggilnya melotot.


Mata Idah menoleh ke arah Erna dan di sana tampak sekali jika ia bersedih. Emosi sang gadis pun sampai pada puncaknya. Sekelilingnya sedang berbisik bisik sambil melihat ke arahnya.


"Saya minta maaf Bu Nunung atas kelakuan anak saya." ucap Idah.


"Ada apa ini Bu? Mengapa pakai acara minta maaf segala?" tanya Erna tak terima.


"Nak, kenapa kamu seperti itu sama Tini?'' tanya ibunya sedih.


"Oh, Jadi Bu Nunung sudah nyebarin hoax? Ibu jangan percaya sama manusia macam dia, Aku gak ngerebut pacarnya si Tini. Lagian Aku sama Tikno hanya teman satu kerjaan." kata sang gadis mulai emosi.


"Alaaaa, alasan aja kamu Er. Semua yang disini sudah pada lihat dan tahu." kata Bu Nunung.


"Itu karena mulut ibu kayak comberan yang merembes kemana mana." ucap Erna.


"Mulut kamu di jaga ya!'' ketus Bu Disa.


"Mulut ibu yang harus lebih di jaga, busuknya udah keterlaluan!'' cetusnya. "Bu, ayo kita pulang."

__ADS_1


Erna menarik tangan ibunya secara paksa melewati kerumunan orang di sana. Enak saja mereka dipermalukan seperti itu oleh mereka.


__ADS_2