Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 54


__ADS_3

"Loh, Bu. Itu kan si Rani," kata Erna yang melihat Rani berdiri di depan pagar rumah mereka.


"Iya, Nak. Ada apa ya dia berdiri di situ?''


Mereka berdua lalu bergegas untuk sampai ke rumah. Rani yang melihat kedatangan mereka langsung senyum sumringah ke arah Idah sedangkan melihat Erna dia langsung membuang muka.


"Rani? Ngapain kamu berdiri disini?'' tanya Idah.


"Rani mau main ke rumah ibu. Tapi pagarnya di gembok, jadi Rani nungguin. Baru pulang dari pasar?'' tanyanya.


"Iya. Ibu sama Erna baru pulang dari pasar."


Mereka masuk ke dalam rumah diikuti oleh Rani. Ia duduk di meja makan dan mengamati Erna yang sedang merapikan barang belanjaannya dan memasukkan ke dalam kulkas.


"Kamu udah makan, Ran?'' tanya Idah.


"Belum," jawabnya.


Huh, menyebalkan sekali anak itu, ingin sekali Erna mengusirnya dari rumahnya. Gadis itu sedikit menghentakkan sayuran saat menaruhnya ke dalam kulkas.


"Pelan pelan, Nak." ujar Idah.


"Wih, kue lupis," ujar Rani dengan mata berbinar.


Tangannya bergerak hendak meraih kue lapis yang Erna beli dari pasar tadi. Tetapi tangan Erna bergerak lebih cepat mengambilnya lalu menyimpannya ke dalam kulkas.


"Minta dong, Ern. Pelit bangat sih," ujarnya.


"Enak aja kamu minta. Ini antrinya sudah dan dapatnya cuma satu!" jawabnya sambil menutup pintu kulkas.


"Erna," suara ibunya dengan lembut memanggilnya.

__ADS_1


"Iya, Bu,'' sahutnya.


"Bagi ya, Erna. Aku lagi pengen bangat makan lupis." ujar Rani mengiba.


"Enggak,"


"Pelit, kamu. Bu, bilangin Erna bagi kuenya. Aku lagi ngiler bangat."


"Nak, bagi ya. Jangan pelit gitu, sayang. Itu kan sebungkus isinya banyak." kata Idah.


"Enggak mau, Bu. Erna juga pengen," jawabnya kesal.


"Itu dengerin kata ibumu. Jangan pelit kamu, sini bagiin aku,''


Dengan rasa kesal, Erna mengambil kue itu lalu menaruhnya di meja. Rani langsung membuka bungkusnya lalu mengambil satu dan memakannya. Padahal Erna sudah mengincar kue ini sejak tadi ke pasar. Antriannya yang panjang tak menyurutkan semangatnya karena sudah lama sekali ia tak makan lupis.


Satu persatu diambil Rani lalu memasukkannya ke dalam mulutnya hingga kue itu habis. Air mata gadis itu mengenang saat kue yang dia antri susah payah ludes di makan orang.


"Erna," panggil Idah sambil mengetuk pintu kamarnya.


Erna diam tak menyahut karena masih kesal. Biar saja, hari ini dia tidak makan, tak mau juga membantu ibunya.


Erna lebih memilih memainkan ponselnya dan berselancar di dunia maya untuk menghilangkan kekesalannya.


Hampir satu setengah jam ia berdiam di dalam kamar. Karena ingin buang air kecil, gadis itu akhirnya keluar kamar menuju kamar mandi.


Wangi masakan ibunya sudah menguar di ruangan itu hingga menggelitik isi perut Erna. Erna pikir, Rani sudah pulang ke rumahnya, eh nyatanya dia sedang duduk menonton tv. Kesal sekali rasanya melihat dia. Bergegas Erna langsung menuju ke kamar mandi.


"Erna, makan ya, Nak." ucap Idah.


"Enggak, Bu. Males." jawabnya lalu berlalu ke kamar.

__ADS_1


Sampai diruang tengah Rani mencibir ke arahnya. Jika tidak ingat kalo dia sedang hamil, maka sudah Erna lempar dia dengan sendok.


"Bu, masakannya wanginya enak bangat," kata Rani.


"Iya, Ran. Kamu mau makan?''


Rani mengangguk dengan semangat. Apa ia tidak bisa memasak di rumahnya sehingga harus makan dirumahnya? Nafsu makan gadis itu seketika hilang melihatnya yang sok baik dengan ibunya tapi benci dengannya.


Erna memilih masuk ke dalam kamar, tetapi cacing diperutnya memaksanya untuk keluar makan. Sebenarnya ia malas, tetapi juga tidak tahan dengan godaan wangi masakan ibunya. Erna kembali keluar lalu membantu Idah menata meja meski wajahnya masih ditekuk.


"Anak gadis jangan masam gitu wajahnya, Nak. Nanti gak ada yang mau," ujar Idah.


"Biarin,'' cetusnya.


"Besok ibu beliin lagi ya. Jangan marah lagi ya," kata Idah membujuknya.


Setelah mengatur makanan di meja, mereka bertiga lalu makan bersama. Rani nampak lahap makan, mungkin dia kelaparan. kasihan juga sih, tetapi sikapnya membuat Erna emosi.


Setelah selesai makan, Erna melaksanakan tugasnya seperti biasa. Lalu ia keluar menuju teras menyusul Idah yang duduk di sana. Perasaannya mulai membaik karena sudah makan.


"Sepi bangat. Pada kemana ya?'' kata Erna.


"Enggak tahu, Nak. Mungkin pada ngumpul di warung julid." jawab Idah.


"Erna, Bu Idah. Tolong bantu aku!'' teriak Tini dari luar pagar.


"Eh, kenapa, Nak?'' tanya Idah kaget.


"Ibuku pingsan gak sadarkan diri, Bu Idah. Tolong aku, mau bawa ibu ke rumah sakit," isaknya.


"Loh? Bukannya ibu kamu??''

__ADS_1


__ADS_2