Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 7


__ADS_3

"Loh kamu??''


Erna sungguh sangat terkejut lantaran yang datang sebagai tetangga sebelah alias tetangga barunya adalah wanita yang memarahinya di hotel.


"Ka---kamu??'' ucapnya terbata saat melihat Erna.


"Siapa yang datang Er?'' tanya ibunya yang sudah muncul dari belakang.


"Ini, Bu. Tetangga baru depan rumah kita." jawab Erna.


"Oh, Halo," sapa Ibu padanya dengan ramah.


"Iya, Bu. Ini saya mau anterin kue. Maaf karena baru sempat kenalan." katanya sedikit kikuk.


"Wah, rejeki nih. Terima kasih banyak ya." ucap ibu.


"Iya, Bu. sama sama. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya." katanya.


"Eh, tunggu dulu. Nama kamu siapa? Kita kan belum berkenalan." kata Ibunya Erna.


"Oh, benar juga ya. Nama saya Rani, Bu. Kalau ibu saya namanya Ratih dan kakak lelaki saya namanya Rafi." ujarnya.


"Wah, senang berkenalan dengan kamu Nak Rani. Besok ibu bakal samperin ke rumah ya. Semoga kita jadi tetangga yang ramah.'' ucap Idah dengan senyum.


"Terima kasih, Bu." jawabnya.


"Iya, Nak. Ini anak saya namanya Erna." tunjuk Ibunya. Erna dan Rani saling bersalaman dalam rasa yang canggung.


"Kalau saya namanya Idah, panggil saja Bu Idah." kata Ibunya memperkenalkan diri.


Setelah bercakap cakap sebentar, akhirnya Rani pamit pulang. Setelah ia masuk ke halaman rumahnya barulah Erna dan Ibunya masuk ke rumah. Erna segera mengunci pintu dan mematikan lampu ruang tamu.


"Wih, dapat rejeki kita malam ini." kata Idah dengan senang sambil mencium aroma kue yang diberi oleh Rani.


"Iya, Bu. Syukur aja." jawab Erna singkat.

__ADS_1


"Sepertinya memang benar ya yang dikatakan para tetangga, jika ibu Ratih sudah bercerai dengan suaminya." kata Idah sambil membuka bungkusan kue lemper dan memakannya.


"Hus..... Jangan ikutan ngomong kayak gitu bu. Kita mah anggap aja gak tahu." kata Erna sembari ikut makan kue.


"Iya, Nak. Ibu kan juga ngomongnya hanya sama kamu." jawab Idah.


"Oh, ya Bu. Si Rani itu kayaknya pernah ketemu sama aku." ujarnya.


"Oh, ya? Dimana?''


"Ah, aku sudah lupa bu. Bisa saja salah orang." jawab Erna dengan ragu.


Ingin sekali menceritakan kejadian saat di hotel kala Rani bertemu dirinya. Tapi Erna tak tega menyebarkan aibnya. Biarlah itu menjadi rahasianya saja. Mungkin demi menyambung kebutuhan hidupnya ia rela bekerja menjadi wanita panggilan seperti itu. Jika salah satu dari tetangganya tahu, maka akan dibuat bahan gosipan yang tiada ujungnya oleh ibu ibu.


Setelah menyantap kue yang di bawa Rani, Erna dan ibunya langsung masuk ke kamar masing masing untuk beristirahat. Sebelumnya Erna sudah memasang alarm agar tidak telat besokannya. Meski alarm alami dari ibunya bisa diandalkan, Namun, untuk jaga jaga di saat ibunya juga telat bangun karena kecapean.


******


Pagi hari kembali menyapa, Kali ini Erna bangun lebih dulu tanpa dibangunkan oleh ibunya. Setelah bangun, Erna langsung beres beres tempat tidurnya. Dia masih santai karena masih jam 4 pagi.


Ingin tidur kembali tapi melihat tempat tidurnya yang sudah rapih membuatnya enggan untuk merusaknya.


Erna lebih memilih ke kamar ibunya. Dia perlahan membuka pintunya dan berjingkrak untuk masuk ke dalam. Dia merebahkan tubuhnya di samping ibunya yang masih tertidur pulas sambil memeluknya. Rasanya nyaman sekali seperti itu.


"Mengapa ayah tega meninggalkan aku dan ibu? Setiap kali aku bertanya ibu tak akan pernah menjawab pertanyaanku." gumamnya dalam hati. Sampai saat ini pun Erna tidak lagi menanyakan keberadaan karena tidak ingin membuat ibunya sedih.


Semenjak mereka ditinggalkan, ibu kerja banting tulang untuk menghidupi mereka berdua. Tanah dan rumah yang sekarang mereka tempati itu belum lunas kala ayah pergi. Hampir saja mereka di usir dari sana, tetapi dengan gigih ibunya mengambil pinjaman dari bank dan melunasinya. Untuk membayar cicilan di bank, ia bekerja sebagai buruh jahit yang gajinya sangat pas pas an. Erna disekolahkan di sekolah negeri yang uang sekolahnya tidak terlalu mahal. Tetapi ibunya masih sempat mengurus surat keterangan tidak mampu sehingga Erna bisa bebas dari biaya SPP sekolah.


Hampir lima tahun Idah bekerja susah payah untuk menyicil angsuran bank. Sampai ia sakit sakitan kala itu. Erna masih duduk di bangku SMP, hanya bisa menangis melihat ibunya terbaring di atas tempat tidur. Ingin rasanya berhenti sekolah dan membantunya bekerja tapi dilarang.


Tak hanya itu kesulitan yang mereka hadapi, para tetangga di lingkungan ini juga kurang mendukung. Erna dan Idah selalu menjadi bahan obrolan mereka sehari hari. Bahkan mereka berdua sudah seperti selebriti saja. Apalagi Bu Nunung, ia seperti kesurupan jika tak berbicara nama mereka sehari saja.


Suara kicauan burung membangunkan Erna dan Ibunya dari tidur.


"Hei, kok kamu disini?'' tanya ibunya sedikit kaget dan bingung.

__ADS_1


"Hm, emang gak boleh, Bu?" tanya Erna dengan mata masih terpejam karena mengantuk.


"Bangun sana, kamu gak kerja?''


"Hari ini Erna libur." jawabnya lalu berbalik badan memeluk guling dan tidur.


"Oh iya, betul. Kan hari ini hari minggu." jawab ibunya. "Tapi ingat loh, jadwal nyuci baju." tambahnya lagi.


"Ah, malas ah, Bu." rengeknya.


"Ya udah, kamu pakai baju kotor lagi ke tempat kerja." ancam Idah lalu keluar dari kamar. ''Jangan lupa beresin kamar ibu juga, Nak." teriaknya lagi.


"Ahh, coba aja tadi aku tidur di kamarku. Mungkin saja aku tidak akan diberi pekerjaan dobel seperti ini." gerutunya.


Dengan rasa malas, Erna bangun dan membereskan kamar ibunya. Setelah rapih, Erna laku keluar dari sana dan menuju tempat cucian baju. Dia ambil semua pakaian kotor lalu memasukkannya ke mesin cuci yang sudah dia beli beberapa bulan lalu. Saat mulai beraktivitas, rasa ngantuk nya mulai hilang. Sampai menunggu pakaian selesai di giling, Erna membersihkan dirinya agar segar di pagi hari itu.


"Bagus, Nak. Anak gadis gak boleh malas malasan." kata Idah saat Erna tengah membilas pakaian yang sudah ia cuci di mesin.


"Iya deh, Bu. Erna gak malas kok." jawabnya membela diri.


"Nah, gitu kan pintar." jawab Idah tersenyum.


Erna langsung menjemur pakaian yang sudah dia cuci tadi. Hari ini cuacanya bagus sekali, jadi pasti pakaian yang dia cuci itu akan cepat kering.


"Hey, kamu?''


Erna menoleh ke kiri dan kanan kala mendengar suara seperti ada yang memanggil.


"Aku disini." kata suara itu kembali.


Saat mata Erna menatap ke arah pojok pagar, barulah ia terkejut karena Rani sudah berdiri di sana.


"Ada apa?" tanya Erna sembari mengibaskan baju yang mau di jemur itu.


"Boleh kita bicara?'' tanyanya.

__ADS_1


"Ini juga sudah bicara." jawab Erna santai.


__ADS_2