Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 17


__ADS_3

"Ibu kamu jangan jangan syok berat ya Erna? Hari ini gak kelihatan batang hidungnya." tanya Bu Nunung.


"Gak kok, Ibu biasa aja." jawab Erna.


"Gak yakin deh. Heri kembali udah tampan gitu, kaya pula. Masa ibu kamu biasa aja? Aku curiga nih lagi nangi kejer di kamar. Apalagi lihat Heri bawa bini barunya yang licin kayak porselen." timpal Bu Disa.


"Hahahaha, Kasihan Bangat si Idah. Nasibnya apes beruntun." ujar Bu Nunung.


Mereka menertawakan ibunya layaknya ini hal adalah lelucon bagi mereka.


"Heh, Ibu ibu mulut comberan! Justru aku kasihan melihat kalian, setiap waktu gak ada untuk ngurusin hidup kalian. Bisanya hanya melihat dan membicarakan kami. Hati hati loh bu ibu, kalau gak rajin masak sama urusin lakinya di rumah, bisa bisa mereka gak betah dan cari bini baru." cetus Erna dan membuat mereka terkejut.


"Udah gak bisa urus diri, bisanya urus hidup orang lain. Sekali lagi ngaca iya ibu ibu! Hati hati entar diselingkuhin!'' cetus Erna kemudian berlalu.


"Jaga mulut kamu Erna!'' kata Bu Nunung.


"Jaga juga mulut ibu, kalau gak saya sumpel pake cabe!'' cetus Erna.


"Dasar anak bau kencur." kata mereka bertiga.


"Dasar Bu Ibu bau ketek." kataku membuat Bu Emah tertawa lebar.


Erna berjalan cepat menuju ke rumahnya karena matahari sudah mulai panas. Sampai di depan Erna mendengar suara ribut dari dalam.


"Ada apa ini, siapa yang ribut di dalam rumahku?''


Semakin mendekati pintu rumah, semakin jelas suara itu terdengar. Dengan langkah tergesa, Erna masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya dia. Rani sedang berdiri berkacak pinggang sembari mengomel pada ibunya yang terduduk lemas di kursi.


"Ada apa ini?'' tanya Erna dengan suara keras.


Sontak Rani menatap Erna dan terkejut.


"Ngapain lagi kamu disini?'' cetus Erna.


"Ini gara gara ibu kamu!" katanya sambil menunjuk Ibunya. "Bisakah ia tak menghasut Kak Rafi untuk mengembalikan hutangku pada kalian?''


Astaga, Jadi ini alasan wanita itu datang kerumahnya?


"Jangan kasar dengan ibuku, dia sedang sakit. Dan mengenai hutangmu pada kami , cepat kamu kembalikan." cetus Erna.


"Enak aja, baru juga kupinjam kemarin sekarang sudah ditagih?!'' katanya tak tahu malu.


"Memang kayaknya kamu ini udah stress Rani! Sebaiknya kamu pulang dan pikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan hutangmu bukan malah marah marah tak jelas disini!'' usir Erna.


"Hanya 4 juta, nagihnya kayak aku pinjam 1 Milyar ajah! Itu mah kecil untukku!'' ujarnya dengan sombong.

__ADS_1


"Kalau kecil ya udah kamu balikin sekarang jug!'' bentak Erna.


"Jangan usir aku, aku juga akan pulang. Dan dengar ya Bu Idah, berhenti untuk hasut kakak saya untuk mengembalikan hutang itu!'' tunjuknya tak tahu malu sama ibu.


Erna langsung menepis tangannya dari sang ibunya dengan penuh emosi. Erna saja selama ini tak pernah membentak ibunya, malah dia yang orang lain seenaknya saja pada ibunya.


"Pergi kamu wanita haus uang! Sebelum kupatahkan tangan kurusmu itu!'' usir Erna sudah emosi dan melotot Rani dengan emosi.


Dengan kesal ia berbalik dari rumah Erna. Tetapi naas, saat berbalik kakinya malah terbentur ujung meja tamu.


"Awhhh,'' rintihnya menahan sakit.


"Rasain! Makanya jangan seenaknya sama orang tua, cepat pergi sana,'' kata Erna mengusir.


Ia berlalu pergi dari rumahnya tetapi para ibu julid sudah berdiri di depan pagar.


"Kamu kenapa Rani? Jalannya pincang gitu?'' tanya Bu Nunung.


"Kebentur ujung meja, Bu.'' jawab Rani singkat.


"Ya ampun, kirain ditendang sama Erna,'' timpal Bu Disa.


"Emang nngapain kamu disitu marah marah?'' tanya Bu Fira dengan penuh ke kepoan.


"Aku kesel, Bu. Soalnya Bu Idah terus menghasut kakakku untuk membayar hutangnaku yang seberapa.'' kata Rani sambil melihat ke arah Erna.


"Iya, Tapi kan bisa nanti Bu. Lagian cuma 4 juta doang,'' katanya dengan gampang.


"Woii! 4 juta itu banyak kalee! Apalagi semua bahan pokok naik. Kalau menurut kamu 4 juta itu gak seberapa yah balikin toh,'' sambung Bu Nunung.


"Ihh, Ibu Ibu ini sama aja! Bukannya belain saya malah belain Bu Idah,'' katanya ketus sambil berlalu masuk ke rumahnya.


Sekarang tinggallah ketiga ibu ibu julid itu. Erna yang malas melihatnya langsung saja hendak menutup pintu.


"Eh Erna, tunggu dong jangan di tutup pintunya,'' kata Bu Nunung menghentikan tangan Erna


Erna mengurungkan niatnya tapi tak di buka lebar pintunya. Tanpa di duga, mereka bertiga berjalan mendekati teras.


"Ada apa ya, Bu?'' tanya Erna sedikit bingung melihat mereka.


"Kami bertiga mau jenguk ibumu,'' kata Bu Disa.


Ihh, Malas sekali. Palingan mereka menjenguk untuk melihat kondisi dan dijadikan bahan julidan.


"Ibuku sedang istirahat. Nanti saja jika ibu sudah sembuh.'' balasnya.

__ADS_1


"Gak baik loh tolak para tetangga yang datang untuk menjenguk.'' timpal Bu Dira.


"Betul itu, Ern.'' tambah Bu Nunung.


Dengan terpaksa Erna membuka pintu dan menyuruh ketiga manusia kepo itu masuk.


"Duduk bentar, Ibu baru ajamasuk ke kamar.'' kata Erna lalu pergi ke kamar ibunya.


"Bu,ada Bu Nunung, Disa dan Fira di depan.'' kata Erna pelan.


"Ya udah Ibu ke depan,'' ujarnya sambil bangun.


"Kalau masih pusing gak usah dipaksain Bu, Biar Erna suruh mereka pulang aja.'' usul Erna.


"Jangan Ern, Ibu gak enak.'' kata ibunya menolak.


Huh, Ibunya memang sanngat bandel, selalu saja menjaga perasaan orang lain meski orang itu tidak tulus. Perlahan lahan, Ibunya berjalan menuju ruang tamu.


"Halo semua,'' sapa Ibunya.


"Halo, Idah. Astaga Dah, Kamu sakit apa?'' tanya Bu Nunung.


"Kecapean aja, Nung.'' jawabnya.


"Kamu sih terlalu forsir menjahit, istirahat dulu aja, janngan dipaksain.''


"Iya, Dis. Makasih atas sarannya.'' ucap ibunya tersenyum.


"Ehm, Dah. Semalam kami melihat suamimu itu datang kesini. Aku hampir aja gak kenal sama dia, udah tambah gantengnya dan kaya.'' kata Bu Fira.


Yaa, Mulai lagi jiwa kepo mereka keluar. Sudah Erna duga memang, mereka hanya ingin mencari tahu berkedok menjenguk ibunya.


"Iya, benar Fir. Apa sekarang si Heri udah jadi orang kaya ya?'' tanya Bu Nunung makin kepo.


"Barangkali begitu, seperti yang kalian lihat.'' ucap ibunya.


"Wah, hebat benar si Heri, dulu mah gak ada apa apanya dibanding sekarang. Kalian bisa hidup senang gak susah lagi.'' kata Bu Nunung memulai penelusurannya.


"Eh, tapi si Heri gak datang sendiri. Kulihat ia bersama seorang wanita muda cantik banget.'' lanjut Bu Fira.


"Itu siapanya Heri? Kamu gak cemburu Heri sam wanita lain kesini?''


"Gak, Aku mah santai aja Nunung. Toh, siapapun yang dia bawa itu haknya dia.'' kata Ibunya berusaha santai menanggapi mereka.


"Yakin kamu gak cemburu, Dah? Mata kamu aja sembab begitu. Padahal kemarin masih seger,'' kata Bu Disa.

__ADS_1


Tak..... Takk.... Takkk.....


__ADS_2