
"Loh, kenapa penampilannya jadi acak acakan begitu?'' tanyanya pada angin.
Ingin berhenti dan bertanya, tetapi niatnya dia urungkan. Nanti saja setelah dia setelah sampai di rumah pasti dia akan tahu. Tak perlu waktu lama, Erna tiba di halaman rumahnya. Dia langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah memabyar ongkos ojeknya.
"Tumben pulangnya udah gelap,'' tanya Bu Nunung.
Sungguh perhatian sekali para tetangganya ini, sampai jam pulang kerjanya saja mereka sangat hafal sekali.
"Biasa, urusan anak muda,'' jawab Erna sambil melepas sepatunya.
"Hati hati loh, Ern, pergaulan sekarang gak bagus. Apalagi sesama anak muda, jangan terlalu bergaul sama meraka,'' nasihat payah Bu Nunung.
Erna hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturannya. Begini - begini juga gadis itu masih bisa mengolah dunia pergaulannya sendiri.
"Jadi? Maunya ibu aku bergaul sama siapa? Sama emak emak tukang pantau tetangga?''
"Huh, bikin sebel ngomong sama kamu,'' katanya kesal lalu pergi.
Erna menaruh sepatu di rak dan masuk ke dalam rumahnya.
"Bu.... Erna udah pulang,'' sapanya sedikit berteriak.
"Iya, Nak, ganti baju dulu, Nak.'' teriak Ibunya dari belakang.
Erna langsung masuk kamar dan segera mengganti bajunya lalu menyusul ibunya kebelakang. Nampak ia sedang mengambil telur ayam untuk ditetaskan.
"Banyak, Bu?''
"Lumayan Ern, lima belas butir.'' jawab Idah senyum.
__ADS_1
"Wah, itu mah udah banyak bu, '' katanya dengan senang.
GAdis itu langsung membantu ibunya mmeindahkan telur telur itu hingga selesai.
"Bu, gimana uang kita yang dipinjam si Rani?'' tanya Erna disela sela saat membantu ibunya.
"Ya, Sabar, Nak. Ibu gak enak nagihnya, dan ibu juga belum ketemu Rafi karena ia pulang selalu larut malam,'' kata Ibunya.
"Huh, hutang tapi gak ingat bayar! Tadi aku ketemu sama Rani di mall. Dia lagi jalan sama Om Om yang lebih pantas jadi Kakeknya,'' Gadis itu menceritakan semua yang terjadi di mall itu pada ibunya.
"Ckckck, gak habis pikir ibu sama anak itu. Kasihan si Rafi, nasihatnya gak pernah di dengar.'' ujar Idah.
"Di sana, dia juga berusaha mempermalukan aku.''
"Kamu sabar aja ya, Nak. Suatu saat, Ibu yakin kamu akan dapat pekerjaan yang lebih baik,'' kata Idah sembari mengelus kepala anaknya itu dengan lembut.
"Amin ya, Bu. Doakan Erna selalu,'' jawabnya sambil memeluk Idah.
"Ya udah kita makan yuk, ibu masak semur daging sama sayur capcai.'' ajak Idah.
Meski dia sudah makan di cafe bersama Ema, tetapi lain rasanya jika tak icip masakan di rumah. Setelah cuci tangan, dengan semangat Erna menggandeng tangan ibunya untun masuk kerumah dan menuju meja makan.
"URUS SAJA URUSAN KALIAN! GAK USAH IKUT CAMPUR URUSANKU! KALIAN GAK KASIH AKU MAKAN! STOP BERBICARA BURUK TENTANGKU!"
"Hei, Ibumu sudah meninggal. Sebagai tetangga yang baik dan juga punya anak gadis, kami hanya menasihatimu.''
"Aku gak butuh nasihat kalian!''
Dari dalam rumahnya, Erna mendengar suara adu mulut dari luar. Suaranya sudah pasti milik Rani dan Bu Nunung.
__ADS_1
"Ribut lagi, ribut lagi,'' kata Erna sambil makan.
"Habisin makanannya terus istirahat, Nak,'' kata Idah.
"Oke, Bu.'' jawabnya.
Selesai makan, Erna membereskan dapur dan membersihkan semua yang kotor yang ada di sana.
"Erna, Ibu minta tolong boleh ya?''
"Ya bolehlah Bu. Kayak sama siapa aja. Emangnya mau apa?'' tanya Erna.
"Tolong belikan ibu pembalut di warung julid. Persediaan kita habis.'' kata Ibunya.
Tak lama, Erna langsung menuju ke warung dan membeli pesanan ibunya. Sepulangnya Erna, di tengah jalan Rafi memanggilnya.
"Ada apa Rafi? Apa kamu sakit?'' Erna menelisik wajahnya yang agak pucat juga seperti ketakutan.
"Ini Ern uang 4 juta yang dipinjam Rani. Maaf aku kembalilkan disini, titip terima kasihku untuk ibumu ya,'' katanya.
"Ehh," gadis itu bingung hendak bicara apa. "Ya udah, makasih banyak ya Raf,'' jawabnya akhirnya.
Setelah menerima uang yang diberikan Rafi, Erna langsung lari menuju rumahnya.
"Kak Rafi pencuri! Kemana kamu membawa perhiasanku!!''
Mendengar suara Rani yang menyebut pencuri, seketika tubuh Erna lemas.
"Apa ada pencuri?''
__ADS_1