Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 20


__ADS_3

Kurang lebih dari Lima belas menit, akhirnya mereka sampai di pasar malam. Ramai sekali pengunjung di sana dan sudah lama juga Erna tidak pernah kesana lagi. Terakhir dia kesana pas masih kuliah dan itupun hanya lewat saja, tak pernah mampir karena keterbatasan keuangan.


"Mau makan apa, Nak?'' tanya ibunya yang mengingat karena tadi di mall Erna bilang sudah lapar.


Erna melihat lihat sekeliling, tempat mana yang akan mereka singgahi.


"Di sana aja, Bu." tunjuknya di salah satu warung ayam bakar dan seafood.


"Kelihatannya enak tuh, Nak." sahut ibunya dengan senang.


Ibu dan Anak itu langsung menuju kesana dan memesan makanan mereka.


"Kita jarang bangat kayak gini ya, Nak." kata Ibunya melihat Erna dengan senyum.


"Iya, Bu. Jadi aku senang bangat." jawab Erna sambil mengelus tangan ibunya.


"Nanti setiap bulan, kita adakan agenda rutin ya. Biar bisa sering sering kayak gini." ujar ibunya memberi saran dan langsung diangguki oleh Erna.


"Ide bagus tuh, Bu." jawabnya setuju.


Wangi khas ayam bakar dan ikan bakar memenuhi penciuman gadis itu. Sudah tak sabar ingin segera menyantapnya. Cacing di perutnya sudah memberi kode agar segera do kasih makan.


"Ini pesanannya, ayam bakar saus madu, ikan bakar dan udang saus tiram. Silahkan dinikmati." ujar pelayannya dengan ramah.


"Terima kasih." jawab Ibu dan Anak itu serempak.


"Erna mau cobain ikannya dulu ah,'' kata Erna yang sudah tidak sabar.


Ibunya menyendok kan nasi ke piring mereka berdua. Erna mulai mencomot ikan dan langsung menyantapnya. Uh, rasanya membuatnya ingin melambung ke udara, ditambah sambal khas yang sangat nikmat.


"Enak ya, Nak" kata Ibunya yang juga ikut menikmati.


"Nanti pesan ayam seporsi lagi ya Bu buat makan besok, jadi ibu gak usah masak." kata Erna.


"Boleh, Nak. Yakin nih untuk besok? Jangan jangan sebelum besok pagi ayamnya udah habis." kata Idah menggodanya.


"Ih, ibu jangan buka kartu dong, Hahaha..."

__ADS_1


Ibu dan anak itu menikmati pesanan yang mereka pesan hingga ludes bersih.


"Kenyang." ujar Erna sambil memegang perutnya.


"Biar pulang kita langsung istirahat." kata Idah.


Tidak lama kemudian, Erna langsung memesan taksi online sambil menunggu. pesanan ayam yang mau di bawa pulang.


Tak lama kemudian, taksi yang dipesan sudah tiba dan berbarengan ayam pesanannya sudah selesai. Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan sampai di rumah sudah jam 8 malam.


"Ciee, yang baru pulang healing," sambut Bu Disa saat mereka turun dari taksi.


"Gak healing, Bu. Cuma jalan jalan aja." jawab Erna santai.


"Ya, sama toh Erna," sanggahnya.


"Beda, Bu Disa Redpink" jawab Erna lagi.


"Emang bedanya dimana?" tanyanya serius.


"Coba aja Bu Disa cari di Mbak Gugel, nanti bakal dijawab." kata Erna lagi.


Mungkin ia penasaran juga karena perkataan Erna yang mengatakan bahwa itu beda yang dia sebutkan tadi.


"Nak, gak baik ngerjain orang tua kayak gitu." kata Idah.


"Sekali sekali boleh lah, Bu. Lagian kalau gak gitu, dia bakalan terus disini." jawab Erna.


"Iya juga sih," sahut ibunya manggut manggut.


Erna meletakkan ayam bakar di dalam kulkas yang dia bungkus tadi lalu masuk ke dalam kamar.


"Nak, Ibu langsung tidur ya." kata Ibunya dan berjalan masuk kedalam kamarnya.


"Iya, Bu. Erna juga lau langsung tidur." jawabnya.


Malam itu karena sudah makan di luar, mereka langsung tidur saja. Sebelum tidur, ia berganti pakaian terlebih dahulu, serta membersihkan wajahnya dari riasan make up natural yang ia gunakan tadi.

__ADS_1


"Kayak pengap bangat ini kamar." monolognya dan dia membuka jendela kamarnya sedikit agar udara dari luar masuk.


"Haaa, kalau gini kan adem." katanya sambil menghirup angin yang masuk.


Karena belum terlalu ngantuk, dia memutuskan untuk duduk di dekat jendela kamarnya sambil membuka buka medsosnya.


Saat sedang asyik dengan ponselnya, Erna melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Rani.


Tak lama, Rani turun dari mobil mewah itu serta memegang banyak tas belanjaan. Lalu seorang pria juga ikut turun membawa beberapa tas belanjaan lagi.


"Buset, banyak amat!" monolog Erna melotot melihat dari arah jendelanya.


Mereka tampak cipika - cipiki, setelah itu si lelaki langsung masuk ke mobil dan pergi.


Wah..... Wah....


Si Rani makin berani saja menunjukkan wajah aslinya. Ia tak malu lagi menunjukkan jika ia berselingkuh dengan laki orang. Bahkan hari ini diantar pulang dan bermesraan di depan rumahnya. Bawa banyak belanjaan yang sudah pasti hasil memeras lelaki itu.


Gadis itu langsung mengingat uang yang 4 juta yang dipinjam Rani. Sungguh sangat disayangkan uang itu. Mungkin bagi orang lain uang itu tak seberapa, tapi baginya itu sangatlah banyak. Huh, yang meminjam bahkan lebih jahat dari si pemberi pinjaman.


Tak lama setelah Rani masuk, Erna mendengar suara ribut dari rumah mereka. Terdengar jelas suara Rafi yang meninggi. Sepertinya ia memarahi Rani. Suara mereka begitu jelas hingga mengundang para tetangga keluar.


Erna hanya menyaksikan dari jendela kamarnya saja, tak ingin keluar untuk ikut campur juga. Salah Rani sendiri, pulang malam diantar om - om. Pastilah si Rafi marah dengan adik satu satunya itu.


Rani juga tidak mempedulikan ibunya yang sedang sakit dan membutuhkan perawatan yang serius. Kasihan sekali Bu Ratih, karena anak perempuannya, ia malah menjadi stroke dan duduk di kursi roda.


Suara mereka semakin meninggi, Erna mendengar Rani yang tak mau kalah juga. Tapi tiba tiba Rani lari keluar rumah dengan wajah panik.


"Tolooonnngg....."


Ia berteriak sambil kebingungan di depan rumahnya.


Erna sebenarnya penasaran, tetapi enggan bertanya. Malas sekali ikut campur urusannya dia. Yang ada malah dia yang akan diomeli balik.


"Erna, cepetan sini?!'' panggil Bu Fira saat melihat gadis itu sedang berdiri di dekat jendela.


"Ngapain, Bu? Malas ah," jawabnya tak mau ambil pusing.

__ADS_1


"Ibunya si Rani gak nafas lagi!'' kata Bu Fira panik.


"HAH???!!!"


__ADS_2