Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 23


__ADS_3

Erna juga sama terkejutnya dengan yang lain karena melihat Rani berdiri di ambang pintu. Ia kelihatan sangat begitu marah pada mereka karena mendengarnya membicarakan dirinya.


"Rani? Ngapain kamu disini?'' tanya Bu Ros.


"Kamu nanya?!'' jawab Rani.


Astaga, Nih anaknya mulutnya juga bandel.


"Kamu mending balik ke rumah kamu. Harusnya jangan ditinggal ibumu di sana." ujar Bu Nunung.


"Ibuku meninggal gara gara kalian!" hardiknya. "Masalahku sudah selesai, tapi mulut kalian selalu saja berbicara keburukanku. Ibu setiap hari mendengar ocehan kalian, ia kepikiran dan akhirnya meninggal!'' Rani menangis sambil berkata demikian, semua hanya diam dan tak ada yang bersuara.


"Dasar tetangga tukang julid. Gak ada yabg beres!''


Berbagai umpatan kasar terus ia lontarkan. Tak peduli jika semua di sana adalah emak emak seumuran ibunya. Erna mengerti perasaan Rani. Mungkin ia juga sebal dengan kelakuan para tetangga yang kerap membicarakannya. Bahkan mereka bicara terang terangan dengan Bu Ratih Almarhumah. Pastilah Bu Ratih juga tertekan dan semakin malu, karena Erna dan ibunya juga sering merasakan hal itu.


Tetapi, tak sepenuhnya juga salah mereka. Rani juga yang membuat ibunya menjadi sakit dan sekarat. Erna juga tak tahu bagaimana kondisi ibu mereka terakhir kali sebelum meninggal. Pasti ia begitu kecewa dengan anak perempuan satu satunya itu.


"Ah, kenapa aku tiba tiba mengomentari kedua belah pihak? Tak ada benar benarnya disini. Semuanya harus saling koreksi diri masing masing." batinnya.


Rani menangis meraung di dalam rumah Bu Disa. Hingga akhirnya Bu Nunung dan Ibunya Erna yang memeluk menenangkannya. Sungguh Erna kasihan melihatnya. Ingin membujuknya, tapi percuma karena ia selalu menolaknya.


Setelah kepergian Rani kembali ke rumahnya. Mereka melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Tak ada ibu ibu yang berbicara tentang Rani lagi, Semuanya fokus pada pekerjaan masing masing.


******


1 Minggu kemudian


Hari ini sepulang kerja, Ema mengajak Erna untuk jalan jalan.


"Kita ke Mall yuk?'' ajaknya.


"Hayuk." jawab Erna senang.


Dengan menggunakan taksi online, mereka berdua langsung menuju mall.


"Rame amat," ujar Ema saat mereka sudah sampai di sana.


"Yaelah, Ma. kan bukan kuburan yang sepi." jawab Erna menyenggol lengan temannya itu.


"Iya, Ern. Maklum udah lama gak pernah kesini." ucapnya nyengir.

__ADS_1


"Kita beli baju yuk, yang modelnya samaan." ajak Ema.


"Ih, Ogah. Kayak anak kembaran aja." jawab Erna bergidik.


"Kan kita besti, Ern."


"Jangan samaan, ah. Gak mau aku." tolak Erna.


"Gak seru kamu, Ern." gerutunya dan berjalan lebih cepat meninggalkan Erna.


Mereka berdua memasuki salah satu toko pakaian yang ada di mall tersebut. Kedua gadis itu asyik melihat lihat baju baju yang menarik.


"Bajunya bagus bagus. Bingung aku mau pilih yang mana," ucap Ema sambil melihat lihat.


"Sama, Ma." jawab Erna sambil fokus memilih.


"Aku mau coba yang ini aja, kayaknya bagus." kata Erna sambil menunjukkan sebuah blouse bermotif bunga bunga pada Ema.


"Iya, Ern. Cocok untuk kamu." angguknya setuju.


Erna langsung pergi ke ruang ganti untuk mencoba pakaian itu. Dia memutar dirinya untuk melihat cermin dan benar dia terlihat cocok memakai pakaian itu. Dia memutuskan untuk membelinya, lumayan modelnya bagus dan harganya juga pas.


"Aku tunggu disini ya."


Mata gadis itu melirik ke arah suara yang sepertinya ia kenal. Benar dan tak salah lagi dugaannya, Wanita itu adalah Rani.


Kuburan ibunya saja belum kering, tetapi ia sudah kembali bermain dengan para lelaki. Erna hanya menggeleng kepalanya melihat Rani yang membawa banyak baju. Laki laki yang bersama Rani juga kelihatan sudah berumur. Meski kelihatan tajir, tetap saja ia lebih pantas dipanggil Kakek bukan Om.


"Kamu ngapain disini?'' tanyanya saat melihatku.


"Menurut kamu?" cetus Erna balik.


"Punya uang juga?!'' ujarnya sinis.


"Kamu nanya? Kamu bertanya tanya?'' balas Erna lalu pergi meninggalkannya.


"Mana mungkin OG di hotel bisa belanja di tempat mewah seperti ini?" teriaknya pada Erna.


Teriakannya sukses membuat para pengunjung toko melihat ke arah mereka.


"Kenapa, Ern?'' tanya Ema.

__ADS_1


"Itu tetangga aku, kayaknya kesal bangat lihat aku belanja disini. Niat bangat maluin aku sampe teriak begitu." ujar Erna tersenyum sinis.


"Wallah, sinting tuh Manusia!'' cetus Ema jengkel.


"Heh, OG belagu? Kenapa diam?" nantangnya balik. "Jangan jangan kamu udah ngelayanin tamu juga ya?"


"Gila kamu Ran! Aku memang hanya OG, tapi gajiku cukup kok buat masuk ke tempat ini. Lah, kerjaku halal meski hanya tukang sapu dan pel. Kalau kamu? Jangan bangga masuk kesini belanja banyak banyak tapi semua hasil meras laki orang!" cetus Erna balik.


Wajah Rani seketika berubah merah menahan malu. Para pengunjung lain menatap dan sambil geleng geleng bahkan ada juga yang tertawa.


Kesalnya kuping sang gadis itu karena mendengar omongan si Rani. Ia tak ngaca dulu sebelum mengumpat orang lain. Kenapa ia begitu sinis gadis itu belanja di sana? Toh, gadis itu bukannya minta uang dia kok.


"Ma, kamu udah?'' tanya Erna.


"Udah. Kita langsung bayar aja yok," ajaknya menarik tangan Erna menuju kasir.


Setelah selesai bayar, Mereka berdua keluar dari toko itu dan menuju salah satu cafe yang ada di sana.


"Itu cewek, tetangga kamu, Ern?'' tanya Ema saat mereka sudah duduk di dalam kafe sembari menunggu pesanan mereka datang.


"Iya, Ma. Itu tetanggaku. Heran deh sama dia, Ibunya baru seminggu yang lalu dimakamkan, eh Dia sudah keluyuran sama laki orang," cetus Erna tak habis pikir.


"Aku juga sempat lihat dia beberapa kali di Hotel kita,Ern." kata Ema.


"Emang sih, Markas dia di sana."


"Dia kelihatan gak suka bangat sama kamu,"


"Nah, itu dia, Ma. Aku juga gak tahu kenapa. Padahal dia lagi ngutang samaku 4 juta. Tapi aku gak enak mintanya karena dia lagi berduka. Eh, malah aku yang dikatai! Bikin kesal kan?? Gak tau malu bangat emang itu orang, Emosi aku lama lama, hahaha..." ucap Erna sambil kesal.


"Harus ditagih, Ern. Empat juta itu banyak loh buat kita." kata Ema.


"Iya, Ma. Tunggu dulu minggu depan baru aku tagih itu!"


"Itu kelamaan, Ern. Bisa bisa dia lupa pas kamu tagih dan mendadak amnesia." jawab Ema yang ikut kesal juga.


"Hahahah, bisa aja kamu, Ma."


Mereka berdua menikmati sajian di kafe itu sambil mengobrol tentang pekerjaan dan yang lainnya. Hingga waktu sudah sore, barulah mereka beranjak pulang dari sana.


Erna memesan ojek online begitu juga dengan Ema agar cepat sampai rumah. Tak lupa Erna membelikan beberapa cemilan untuk ibunya.

__ADS_1


Saat ojek yang Erna pesan melewati jalan raya yang masih dekat dengan mall, Dia melihat Rani sedang berdiri di sana.


"Loh, kenapa penampilannya jadi acak acakan begitu??''


__ADS_2