Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 39


__ADS_3

"Heh, Kalian? Bisa diam enggak!!''


Suara lantang Rani membuat anak anak pada kaget. Seketika suasana menjadi hening karena semua anak anak berhenti main lato lato.


"Enggak tahu apa orang lagi istirahat! Sana sana, bubar kalian. Awas yah kalo aku dengar nanti kulempar pake batu,'' ancamnya.


Anak anak kecil itu lari ketakutan mendengar ancaman Rani.


"Kak Erna lagi makan apa?'' tanya Iran si bocah dari jalan.


"Makan mangga, kamu mau?'' tanya Erna menawarkan.


Sengan senyum mengembang, anka itu datang menghamipirinya. Beberapa anak kecil yang lain juga ikut masuk ke halaman rumahnya.


"Semuanya pada mau makan mangga?'' tanya Erna.


Dengan antusias dan ceria mereka langsung mengangguk.


"Ya udah kalo gitu duduk yang rapih ya. Kak Erna bentarngin tikar dulu biar celana kalian gak kotor.''


Setelah membentangkan tikar, sekitar delapan orang anak kecil itu duduk dengan rapih.


Ibunya membantu mengupas mangga lalu memotong motong untuk mereka.


"Ini, Makannya pelan pelan yah.'' kata Idah memberi mereka sepiring besar potongan buah mangga.


"Terima kasih, Bu.'' jawab mereka serempak.


Mereka sangat senang diberi mangga, makannya juga saling berebut tapi tidak berkelahi. Ah, senangnya kalau rumahnya ramai begitu.


"Buahnya enak, manis bangat,'' kata Cika si anak paling embul.


"Manisnya kayak aku yah?'' goda Erna membuat mereka semua sontak ketawa.


"Iya, hampir.'' ujarnya lucu.

__ADS_1


"Aku bisa loh main lato lato'' ujar Arka dengan polosnya.


"Udah jago emang?'' tanya Erna.


"Udah dong, Kak, Mau lihat gak?''


Ia langsung menunjukkan skill main lato lato membuat anak anak yang lain ikut memainkan punya mereka masing masing. Saking serunya menonton mereka, Erna tidak sadar jika Rani sudah berdiri di depan pagar rumahnya.


"Bagus yah bagus! Kalian semua mau kulempar?'' ancamnya sambil memungut batu.


Semua anak anak langsung ketakutan dan bersembunyi di belakang Erna.


"Kalian jangan main lagi ya, kasihan Kak Rani pengen istirahat.'' kata Erna.


"Heh, Erna! Ngapain bela mereka? Apa jangan jangan kamu yah yang nyuruh mereka untuk main jadi aku gak bisa istirahat,'' katanya menuduh gadis itu.


"Enak aja kau menuduhku. Namanya juga anak anak, mau kau tegur pun mereka akan diam sebentar aja,'' jawab Erna.


"Jangan sengaja kau, mending kulempar sekalian sama kamu,'' ujarnya lalu melempari anak anak dan Erna dengan kerikil halus.


"Udah Rani jangan! kalo kena mata mereka kamu mau tanggung jawab?!'' teriak Erna.


Cika sudah menangis ketakutan dan itu membuat Erna menjadi panik.


"Rani stop!''


Erna berteriak dan akhirnya ia berhenti melempari mereka.


"Makanya jangan ngeyel kalo dibilangin,'' cetusnya.


"Keterlaluan kamu,'' kata Erna sambil menggendong Cika. "Semuanya pulang ya. Kak Erna mau nganterin Cika dulu,''


"Anterin gih, kasihan dia ketakutan gitu,'' ujar Ibunya.


Erna mengantar Cika yang rumahnya juga tidak jauh dari rumah Erna.

__ADS_1


"Bu Aku anterin Cika. Tadi main disebelah,'' kata Erna pada Bu Ros, ibunya Cika.


"Iya Erna. Loh, kenapa Cika nangis?'' tanyanya.


"Tadi kaget karena dibentak Rani. Makanya aku antar pulang,'' ucap Erna.


"Astaga, yang tadi ribut ribut itu ya?'' tanyanya sambil menimang Cika.


"Iya, Bu.''


Bu Ros tidak mendengar lantaran tengah asyik bermain ponsel. Padahal jjarak rumah Erna ke rumahnya hanya selang satu rumah aja.


"Aku pamit dulu, Bu.'' kata Erna.


"Iya, makasih ya, Ern.'' jawab Bu Ros dengan mata melekat di ponsel.


Erna langsung berjalan kembali ke rumahnya, suasana kembali sepi padahal sedang seru serunya menonton para bocil beradu lato lato.


"Loh, kok Rani belum pulang? Ngapain dia disitu?''


Erna heran melihat Rani sedang duduk bersama Ibunya. Erna menatap ibunya dnegan penuh tanya, ibunya hanya menggendikkan bahunya.


"Enak Bu, Masih ada lagi?'' tanya Rani.


"Astaga Ran, kamu ngidam atau apa sih? udah empat buah kamu habisin, tambah ini yang kelima,'' ujar Idah.


"Hah? udah lima buah mangga yang ia makan?'' tanya Erna kaget dan melotot.


"Eh, biasa aja kamu gak usah kaget gitu,'' jawabnya.


Erna dan ibunya melongo mendengar jawaban Rani yang terkesan nyolot. Dasar orang aneh. Ia terus melahap mangga setengah matang itu dengan cepat dan malah terkesan rakus.


"Ngidam kali atau makan bareng jin,'' batin Erna kesal.


"Ihh, Erna kamu bau bangat deh. Pake parfum apa sih? Atau kamu belum mandi?'' katanya menutup hidung.

__ADS_1


"Uweekkk.... uweeeekkkk....''


Erna dan ibunya spontan saling bertatapan kaget. Apa jangan jangan si Rani.......


__ADS_2