Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 53


__ADS_3

Dua hari kemudian....


"Bak, berangkat kerjanya jam berapa?'' tanya Idah.


"Hari ini, Erna ada kelas sore jam 4 bu," jawabnya.


"Yowes, kalo gitu temani ibu ke pasar dulu ya," ajak Idah.


"Siap, Bu. Erna jemur baju dulu, habis itu mandi baru kita berangkat." ucapnya.


Dengan gesit Erna langsung menjemur pakaian yang baru ia cuci lalu mandi. Setelahnya ia langsung bersiap untuk pergi dengan ibunya.


"Udah siap, Bu?'' tanya gadis itu.


"Udah, sayang. Kamu udah belom?''


"Erna juga udah selesai, yuk berangkat sebelum hari mulai siang."


Setelah mengunci semua pintu, ibu dan anak itu berangkat ke pasar jalan kaki.


"Nanti kita mampir sebentar di toko kain ya," ujar Idah.


"Iya, Bu."


Saat mereka melewati warung julid, Erna melihat kumpulan ibu ibu seperti biasanya.


"Mau kemana ibu sama anak ini?'' teriak Fira.


"Ke pasar dulu," jawab Idah ramah.


"Oalah, rajin amat," sambung Disa lagi.


"Ya untuk isi perut harus rajin dong. Kecuali perut kita kenyang ngomongin orang, nah itu barulah gak perlu rajin." ujar Idah membuat Erna tertawa.


"Hei, Idah? Kamu mengejek kami ya?'' ketus Ros.


"Enggak, Ros. Emangnya kamu hobi ngomongin orang?" tanya Idah.

__ADS_1


"Udah tahu masih nanya," ujar Ros kesal.


"Lah, kalo benar ngapain kamu marah Ros? Aneh deh!'' kata Idah santai.


Ibu dan anak itu lalu meninggalkan mereka yang sedang duduk dengan wajah kesal.


"Eh, Erna. Udah beberapa hari ini ibu kok gak lihat Nunung ya? Dia kemana? Di perkumpulan tadi juga dia gak ada." tanya Idah.


"Wah, kirain Erna aja yang pernah ketemu, ternyata ibu juga, iya ya kemana biang gosip itu?" kata Erna juga yang merasa heran.


"Sejak masalah sama Pak Santo, ia malah tak nampak lagi. Kalo Pak Santo sih masih ibu libat pergi kerja seperti biasanya." kata Idah.


"Mungkin Bu Nunung lagi dikirim suaminya buat healing kali," celetuk Erna.


"Ada ada aja kamu, Nak. Emang kamu gak nanya Ema juga kenapa masalahnya?'' tanya Idah.


"Belum, Bu. Aku juga belum ketemu sama Ema lagi. Pulang kerja udah larut malam."


Memang, semenjak masalah itu, Erna juga belum bertemu sama Ema. Ia berangkat pagi dan Erna juga kadang belum bangun. Pulang kerja juga malah Erna yang belum pulang. Jadi waktu mereka tidak pas untuk bertemu, nanti saja kalo hari minggu libur.


"Nak, tunggu disini saja ya biar ibu yang masuk," ujar Idah.


"Iya, Bu." jawab Erna, lalu merapatkan belanjaannya ke pinggir dan duduk di salah satu anak tangga toko sembari menunggu ibunya.


Saat tengah asyik melihat lihat keadaan yang ramai, Erna tak sengaja melihat Tini lewat. Ia juga melihat Erna lalu membuang muka. Huh, siapa juga yang mau negur dia, songong amat!


"Hei, Tini," panggil Idah yang sudah keluar dari toko kain.


"Iya, Bu Idah." jawab Tini.


"Ibu kamu kemana, Tin? Udah dua hari gak kelihatan,'' tanya Idah.


"Oh, ibu? Ibu pergi ke kampung," ujarnya.


"Oh, ya? Dari kapan? Kok ibu gak tahu?''


"Dua hari yang lalu, Bu. Berangkatnya subuh, diantar bapak ke terminal."

__ADS_1


"Yowes, kirain ibumu kemana soalnya gak kelihatan." ucap Idah senyum.


Tini lalu melanjutkan perjalannya. Sepertinya ia juga mau ke pasar.


"Udah beres, Bu?'' tanya Erna.


"Udah, Nak. Yuk kita pulang," ajaknya.


Erna dan Idah berjalan kaki pulang sembari menenteng belanjaan mereka yang banyak. Mereka malas naik ojek karena sekalian ingin olahraga. Karena tak setiap hari juga ia ke pasar diajak oleh ibunya. Jika ingin saja baru ia ikut.


Sesampainya di gang, warung julid sudah terlihat sepi dan tak berpenghuni.


"Udah sepi, Neng?'' tanya Idah.


"Semuanya udah pada pulang, Dah. Eh, ngomong ngomong si Nunung kemana? Udah dua hari gak kelihatan," kata Nengsih.


"Kata Tini tadi dia lagi pulang kampung. Tadi aku tanya pas ketemu di pasar sama Tini." jawab Idah.


"Oh, gitu ya. Kok aneh ya, biasa kalo dia mau pulang kampung kan pasti heboh bangat, ini pulangnya diam diam. Apa karena kasusnya si Santo kapan hari ya?'' kata Nengsih.


"Mungkin juga, Neng. Aku juga gak begitu tahu." jawab Idah.


"Iya, semua disini pada bingung. Nunung pergi enggak bilang bilang."


"Ya, doakan aja yang terbaik untuk Nunung." ujar Idah.


"Iya, Dah. itu karena mulutnya yang gak bisa di kontrol kalo lagi ngomongin orang. Hampir aja kena batunya." ujar pemilik warung itu mencibir.


"Biasanya juga saling dukung kalo julidin orang." batin Idah.


"Ya sudah, kami lanjut dulu ya. Masu masak nih," ujar Idah.


"Iya, Dah." jawabnya.


Ibu dan anak itu melanjutkan perjalanannya ke rumah.


"Loh, Bu. Itu kan si......"

__ADS_1


__ADS_2