Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 56


__ADS_3

Dari arah kamar, Tini mendengar ibunya mual mual dan gadis itu pun mengira pasti itu karena asam lambungnya naik. Dengan cepat ia menyiapkan makanan agar ibunya bisa langsung makan.


Setengah jam berlalu, masakannya pun kelar. Tini menatanya di meja lalu menghampiri ibunya di kamar untuk mengajaknya makan.


"Bu, bangun dulu, kita makan bareng," panggil Tini dari depan kamar ibunya. "Bu, nanti makanannya keburu dingin loh, itu asam lambungnya pasti kumat. Ibu gak makan loh dua hari ini." panggilnya lagi.


Nihil. Tidak ada jawaban apapun dari kamar Nunung. Ia mencoba masuk namun sayang pintunya terkunci dari dalam.


Tok....tokk....tokk....


"Bu, buka pintunya. Jangan di kunci."


Tetap saja tak ada jawaban dari dalam sehingga membuat Tini panik. Gadis itu juga lagi sendirian di rumah, adiknya Tino juga belum pulang sekolah.


Tini berlari keluar rumah dan mengintip melalui jendela kamar ibunya. Ah, sial! Ia tidak bisa membuka gorden maupun jendela.


"Ibu!!!!''


Teriaknya sambil menggedor jendela lalu masuk dan menggedor pintu. Tak ada jawaban apapun dari dalam. Tini langsung menelpon Bapaknya tapi nomornya sedang sibuk begitu juga dengan Tino yang tidak menjawab panggilannya.


Kepalanya serasa mau pecah saja, ingin minta tolong ke tetangga tapi ia ingat pesan dari ibunya agar tetap diam.


"Ibu, buka pintunya, Bu. Jangan buat Tini khawatir dong," ujar gadis itu memelas.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Tini duduk terpaku di depan kamar Nunung. kunci kamar juga hanya ada satu, itupun di dalam sana. Tini bingung harus bagaimana, takutnya ibunya pingsan tak sadarkan diri atau jatuh di kamar. Dia berpikir lebih baik mencari tetangga sekitar untuk minta tolong.


Dia melangkahkan kakinya menuju rumah Bu Fira dan Bu RT tetapi tidak ada orang. Tini juga menuju rumah Disa dan Rose tapi hasilnya nihil.


"Huh, kemana sih mereka?! Kalo gak ada perlu, mereka nongol kayak hantu. Giliran perlu kayak gini semua hilang ditelan bumi," gerutunya sambil terus berjalan.


Sesampainya di depan rumah Erna, Tini melihat mereka sedang bersantai di teras.


"Tolong.... Bu Idah, Erna... Tolong aku," ujarnya panik.


"Ada apa, Tin?'' tanya Idah.


"I...itu, Bu. Tolong ibuku." ujarnya terbata


"Enggak. Ibu ada di rumah. Enggak keluar kamar udah dua hari dan gak mau makan. Hari ini gak ada suara, aku mau masuk tapi semua pintu kamar dan jendela terkunci dari dalam. Tolong, Bu Idah," katanya memelas.


"Baik. Mari kita ke rumahmu. Erna, ayo bareng ibu." ajak Idah pada Erna.


Akhirnya mereka bertiga menuju rumah Tini.


"Dimana kamar ibumu?'' tanya Idah setelah sampai di rumahnya.


"Ini, Bu. Pintunya terkunci, udah setengah jam aku manggil ibu tapi gak ada sahutan. Takutnya ibu pingsan atau jatuh." katanya sedikit panik.

__ADS_1


"Iya, ini terkunci. Tenaga kita gak bisa buat dobrak pintu ini. Coba telepon bapak kamu, Tin. Erna, tolong panggil, Bu RT." kata Idah membagi tugas.


"Ponsel bapak gak aktif Bu, udah aku telepon tadi. Tino juga gak jawab, mungkin karena masih jam pelajaran."


"Ternyata dua hari ini ibumu gak pulang kampung, Tin? Ngapain bohongin kami coba. Kalo kayak gini dan semuanya gak ada di rumah bahaya tau," kata Idah.


"Habisnya ibu sendiri yang melarangku memberi tahu jika dia di rumah. Katanya ibu malu ketemu tetangga dan jadi bahan omongan," ujar Tini.


"Ada ada aja ibumu. Mulutnya hebat ngomongin orang, giliran dia sendiri gak mau diomongin. Malah ngunci diri di dalam sini," ketus Idah.


Ya, benar sekali ucapan Bu Idah. Nunung jika sudah menjulid orang, tidak ada yang bisa melawan. Salah satu korban terparahnya adalah Bu Idah. Tini jadi malu sendiri dengannya dan Erna. Gadis itu juga sering buat masalah kepada mereka.


Tak lama, Erna datang bersama Bu RT dan beberapa warga.


"Ya ampun, jadi Nunung gak pulang kampung?'' ujar Bu Disa heboh.


"Enggak, Dis. Dia ngurung diri di kamar. Udah dua hari gak keluar, gak mau makan," ujar Idah.


"Ya ampun, nyikaa diri sendiri aja si Nunung,"


"Ya udah, ayo kita dobrak pintunya."


Semua ibu ibu itu kompak mendobrak pintu kamar Nunung dan dalam hitungan kelima belas pintu berhasil dibuka.

__ADS_1


"Auw, bahuku sakit bangat!'' gerutu Bu Disa.


__ADS_2