Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 48


__ADS_3

"Hah? Siapa?" Erna berbalik mengikuti pandangan Nay dan mendapati Rani di sana.


"Oh, itu tetanggaku Nay." jawab Erna.


"Ooh, Pantas aja dia lihat kesini terus."


Erna sedikit heran mengapa Rani ada di sana. Ia juga menatap ke arahnya. Tak ada raut wajah emosi, tetapi itu membuatnya bingung. Setelah selesai makan, Erna dan Nay langsung menuju kasir untuk membayar bakso yang mereka makan.


"Erna," tiba tiba Rani menghampirinya.


"Eh, Rani? Kenapa?'' tanya Erna.


"Hm, boleh ngomong sebentar?" tanyanya.


Spontan alis Erna berkedut bingung dengan permintaan Rani itu. Tumben sekali gaya bicaranya baik baik padanya.


"Iya, bentar. Aku bayar dulu." kata Erna menuju ke meja kasir.


Setelah membayar, Erna menghampiri Rani bersama Nay.


"Kamu mau ngomong apa Rani?'' tanya Erna.


Wanita itu lalu mendekat dan berbisik ke telinganya. Nay yang melihat ke arah mereka hanya menatap bingung.


"Hah?'' Erna sangat kaget dan spontan menutup mulutnya.


Segera saja Erna langsung menuju ke kasir dan membayar makanan pesanan Rani. Rupanya dia makan di sana karena sedang ngidam tetapi lupa membawa dompet. Bahkan wanita itu memintanya untuk membayar ongkosnya pulang ke rumah.


Akhirnya mereka bertiga pulang bareng naik angkot. Rani tidak bicara dan hanya terus menunduk.


"Nay, kami duluan ya," tegur Erna saat dia hendak turun dari angkot.


"Iya, Erna. Sampai ketemu besok ya." jawabnya sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Erna dan Rani lalu turun dan berjalan bersama.


"Loh, kok bareng Erna sih, Ran?'' tanya ibu ibu pada penasaran.


"Tadi ketemu di jalan." jawab Erna ngasal.


Rani terlihat marah saat mendengar jawaban Erna.


"Kamu kira aku rongsokan?'' ujarnya.


"Hah? Maksud apa?" tanya Erna tak mengerti.


Ia lantas berjalan meninggalkan Erna begitu saja dengan mulut komat kamit.


"Ih, sensi amat sih. Udah di tolongin, bukannya ngucapin terima kasih, malah main pergi begitu aja," kesalnya.


"Kalian ketemu dimana Ern? Kok si Rani pulangnya gak bareng sama selingkuhannya?'' tanya Disa yang tiba tiba sudah disamping Erna.


"Mana kutahu!'' ketusnya.


Erna tak menyahut dan terus saja berjalan. Sesampainya di rumah, Rani terlihat menangis kala keluar dari rumah Erna.


"Loh, kenapa tuh si Rani nangis nangis?'' tanya Disa.


Nampak Idah berdiri di teras menatap kepergian Rani.


"Dah, si Rani kenapa?''


"Gak tau, Dis. Tadi aku lihat dia pulang, jadi aku panggil kesini buat ngambil kuncinya, eh malah dianya nangis." ucap Idah.


"Ada ada aja. Tadi pergi sama mobil, sekarang pulang naik angkot terus nangis. Aneh," kata Disa mencibir.


Erna langsung masuk ke dalam rumah dan langsung ganti pakaian.

__ADS_1


"Si Rani tadi sama kamu, Nak?'' tanya Idah dari luar.


"Iya, Bu. Tadi kami bareng. Tadi ketemu di warung bakso, dia lupa bawa dompet jadi aku bayarin punya dia. Mau pulang juga gak ada ongkos, yaudah aku bayarin lagi ongkosnya." jawab Erna.


"Walah, parah si Rani. Jangan jangan dia dibuang sama selingkuhannya itu," suara Disa memberi komentar.


Astaga, Ibu kepo itu ternyata belum pulang. Mana Erna bercerita tentang kejadian Rani tadi lagi. Aduh, kalo begini ceritanya udah bakalan panjang itu. Anggap aja Erna sudah kasih berita hangat pada mereka secara cuma cuma.


Erna segera keluar dari kamar dan mendapatinya Ibunya dan Disa masih di teras. Bu Disa lancar sekali bercerita sama Ibunya tentang si Rani, tak hanya itu ia juga bercerita tentang Pak Rusid tetangga sebelah rumah Bu Nunung.


"Kamu tahu si Rusid, hari ini kulihat dia beli beras di kresek. Mungkin itu cuma sekilo aja. Heran deh, tambak ikan luas, kok beli berasnya segitu," kata Bu Disa.


"Hus, Kamu kayak gak pernah beli beras sekilo aja, Dis. Mungkin dia beli segitu untuk makan ayamnya, jadi kamu jangan berburuk sangka dulu." ujar Idah.


"Eh, kamu jangan suka buka aib dong!" kesal Bu Disa. "Eh, Erna. Teman kamu yang ngekos di kosannya bu rt namanya siapa?''


"Ema." jawabnya.


"Hah, dengar dengar nih ya, Lakinya Nunung kepergok beberapa kali ke kosannya itu." ujar Disa berbisik.


"Hah? Jangan asal ngomong Dis?! Bisa bisa jadi perkara," ujar Idah yang begitu kaget.


"Emang ibu dengar dari siapa? Mungkin aja Pak Santo ada keperluan." kata Erna.


"Eh, orang bodoh juga tau kalee, Keperluan apa di jam 10 malam pergi ke kosannya anak bujang? Cewek lagi? gimana gak jadi salah sangka coba?'' ujarnya lagi.


"Udah ah, jangan ngomongin lagi. Nanti kalo di dengar Nunung bisa pecah tuh mulutmu!'' cetus Idah.


"Iya sih, Dah. Tapi kesal juga sama Nunung, masa anakku dijadikan bahan omongan dia sama Rosi kemarin," kesal Disa.


"Hm, Gimana rasanya di julidin orang lain?!" cetus Idah.


"Iya kesal lah." jawabnya.

__ADS_1


"Nah, itu kan udah kamu rasain sendiri. Apa kabar aku sama Erna yang kalian julidin Tiap hari?" tanya Idah melihatnya kesal.


Sekakmak!!!


__ADS_2