Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 61


__ADS_3

Semua mata langsung tertuju pada mobilnya Santo yang kacanya bagian depan bisa kelihatan langsung ke dalam dari luar.


Degh!


Wajah Nunung langsung berubah pucat. Ia begitu ketakutan jika para tetangganya tahu jika wanita yang ada di dalam mobil itu adalah calon istri kedua Santo. Nunung tak ingin dirinya menjadi bahan julid para ibu ibu kampung itu. Padahal dirinya sendiri juga tukang julid papan atas.


"Oh, wanita itu mah adik sepupu, Mas Santo." ujar Nunung.


"Masa sih? Tadi aku lihat ia juga ke rumah sakit bareng sama Santo." kata Disa.


"Benarkah?'' sambung Fira semakin kepo.


"Iya benar. Aku lihatnya tadi sama Idah. Kalo kalian gak percaya, langsung aja tanya sama Idah." ucap Disa yakin.


"Benar. Wanita itu hanya saudara sepupuku saja," kata Santo.


"Saudara sepupu kok jalannya pake gandengan tangan segala?'' cibir Disa.


Wajah Santo semakin menjadi merah sedangkan Nunung langsung memasang wajah cemburunya.


"Bu, ayo kita pulang," ajak Santo. Ia tak ingin berlama lama di sana dan membuat para tetangganya curiga.


Dengan langkah yang malas, Nunung langsung mengikuti suaminya ke mobil tanpa pamit pada teman teman julidnya itu.


"Pindah kau kebelakang wanita pencuri!'' bentak Nunung dengan suara pelan pada Marni.


Marni yang kala itu tengah pusing langsung menuruti permintaan Nunung untuk pindah ke bangku belakang. Setelah Marni pindah, Nunung langsung masuk ke dalam mobil dan mobil langsung meninggalkan tempat rumpi itu.


Pada ibu ibu kepo itu hanya menyaksikan kepergian Nunung dan Santo dengan sebuah tanda tanya besar.


"Udah langsung pergi aja si Nunung itu," ucap Ros.

__ADS_1


"Aku yakin, ada yang gak beres dengan mereka. Sepertinya kita harus mencari tahu," usul Disa yang tingkat kekepoannya sudah tak terbendung.


Semua dari mereka menganggukkan kepala tanda setuju, Ah, benar benar orang kurang kerjaan.


Baru saja berjalan tak jauh dari warung julid, mobilnya Santo tiba tiba terhenti tepat di depan rumah Erna.


"Mobil siapa itu?'' tanya Idah saat dirinya hendak mengangkat jemuran karena hari sudah malam.


Nampak pintu mobil terbuka dan turunlah seorang wanita yang tak lain adalah Marni.


"Uwek..... Uwek...."


Idah yang terkejut melihat wanita itu mual mual langsung saja menghampirinya.


"Permisi, Mbak ini kenapa ya?'' tanya Idah pelan.


Marni yang merasa pusing terus menunduk, dirinya tak tahan dengan bau mobil sedari tadi.


"Norak bangat! Lagak pencuri tapi naik mobil aka mabok!'' sinis Nunung.


"Bu, jangan bicara seperti itu sama Marni. Kasihan, dia sedang hamil." ucap Santo.


Idah terkejut mendengar perdebatan antara Nunung dan Santo.


"Oh, pantas aja tidak asing. Rupanya mobil ini yang tadi kulihat di rumah sakit tadi siang. Ternyata milik Santo," batin Idah.


"Saudaranya, Pak Santo? Kasihan sekali, Mbaknya mual mual terus." ucap Idah tanpa merasa aneh.


Wanita itu tidak curiga sedikit pun seperti tetangganya yang lain. Ia beranggapan bahwa Marni mungkin adalah saudara Pak Santo.


"Iya, Idah. Dia mabok perjalanan," jawab Nunung bohong.

__ADS_1


"Ya sudah, masuk dulu ke rumah saya. Minum teh hangat kalo memang belum kuat lanjutin jalan," tawar Idah pada Marni yang masih menunduk.


"Enggak usah, Idah. Lagian rumah kami udah dekat kok," tolak Santo tak ingin ketahuan.


Sedangkan Nunung sudah kembali masuk dan duduk di dalam mobil. Ia sangat kesal dengan Marni, ditambah ada si Idah di sana. Menyapa saja rasanya enggan dilajukan wanita bertubuh gemuk itu.


Saat Marni hendak bangun, dirinya langsung oleng membuat Idah menangkap dirinya.


"Ya ampun, kasihan sekali, Mbaknya." ucap Idah.


"Loh? Wanita ini kok mirip Marni ya? Tapi mana mungkin ini Marni? Ia kan sudah menikah dan pindah ke Kalimantan," batin Idah yang merasa mengenali sosok Marni.


Nunung hanya melihat kejadian itu dari dalam mobil, enggan turun membantu. Tetapi melihat suaminya hendak menggendong Marni, emosi Nunung langsung naik.


Dengan gerakan cepat, Nunung turun dari mobil dan langsung menghampiri mereka.


"Lepasin dia, Pak. Jangan bantu dia! Biar Idah aja," ketus Nunung sambil menarik tangan Santo.


"Eh, Bu! Apa apaan sih?!'' kesal Santo.


"Ibu bilang, biar si Idah aja yang bantuin perempuan itu naik ke mobil. Nyusahin orang aja!" ketus Nunung tak terima.


Idah hanya geleng geleng melihat tingkah Nunung yang menurutnya keterlaluan.


Tak sadar, jika suara Nunung memancing para tetangga berdatangan. Mereka yang melihat hal itu langsung bisa mengambil kesimpulan jika Nunung cemburu dengan wanita yang bernama Santo tadi.


"Tuh, kan apa aku bilang, ada yang gak beres dengan mereka. Wanita itu sepertinya calon madu si Nunung. Lihat saja mukanya cemberut gitu," ujar Disa.


"Enggak salah lagi, Dis. Ini mah fix kalo rumah tangga Santo sama Nunung sedang di ambang batas kehancuran," ucap Ros.


Mereka berjalan mendekati mobil Santo yang tepat berada di depan rumah Idah.

__ADS_1


"Loh, kok semua pada disini sih?!'' tanya Disa.


__ADS_2