
"Eh, eh... Heh, lihat si Rafi ke rumahnya Erna," kata Nunung.
Erna uang mendengarnya sontak menoleh dan benar saja Rafi berjalan ke arah rumahnya.
"Erna," panggilnya.
"Iya, Raf. Ada apa?'' tanya Erna.
"Aku ada perlu sebentar sama kamu dan ibumu. Boleh aku masuk?'' katanya melirik ke arah belakang Erna.
Gadis itu ikut menoleh ke arah pandang Rafi dan melihat para pencari berita sedang menatap mereka penuh selidik.
"Oh, masuk aja Raf. Ibu ada dibelakang. Kamu duduk dulu biar aku panggilin,"
"Iya, Ern." jawabnya lalu duduk.
Erna berlaku kebelakang dan mendapati sang ibu sedang membilas pakaian.
"Bu, ada Rafi di depan," katanya.
"Rafi?''
"Iya, Bu. Katanya ada perlu sama kita," ujarnya.
Idah langsung membilas tangannya dan menemui Rafi ke depan diikuti oleh Erna.
"Eh, Nak Rafi. Ada apa?'' tanya Idah sembari senyum.
"Bu, maaf udah ganggu. Rafi mau minta tolong," katanya.
__ADS_1
"Minta tolong apa, Nak?'' tanya Idah penasaran.
"Aku mau titip kunci rumah ke Ibu sama Erna. Jika Rani pulang, ibu berikan saja padanya." katanya sembari menyodorkan kunci rumahnya pada mereka.
"Emang kamu mau pergi?'' tanya Idah.
"Iya, Bu. Aku mau pergi. Mencari pekerjaan yang lebih baik." katanya sendu.
"Kamu ninggalin adik kamu sendiri?'' tanya Erna.
"Iya, Ern. Lagian dia udah lebih milih sama lelaki itu daripada tinggal disini. Ia gak mau hidup susah. Aku udah lepas tangan Bu, capek rasanya. Lagian Rani bukan anak kecil lagi." ucapnya.
Idah dan Erna saling bertatapan, kasihan juga si Rafi.
"Aku juga minta tolong titip guguk ya. Tolong dikasih makan. Aku menaruh karung makanannya di dekat kandangnya." ujarnya.
"Nanti aku minta nomor rekening Erna ya, biar kalo makanan guguk habis bisa aku transfer buat beli lagi," katanya.
"Terima kasih atas kebaikan ibu dan Erna. Jika Rani kesini, tolong juga ibu lihat dia. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkannya, aku begitu khawatir. Tetapi Aku harus ngasih pelajaran buat Rani agar ia tak menganggap enteng semua perkataan ku." ucap Rafi.
"Iya, Nak. Kamu yang sabar ya. Semoga kamu dan Rani segera bisa menemukan solusi dan kembali rukun lagi," kata Idah.
"Baiklah, Bu. Aku permisi dulu. Soalnya aku mau langsung pergi."
Erna dan Idah pun mengantarkan Rafi ke teras depan lalu ia kembali ke rumahnya. Tak lama, ia keluar dengan motornya meninggalkan kampung julid.
Si guguk yang merasa tuannya akan pergi lama terus menggonggong tanpa henti. Gadis itu pergi ke kandang guguknya untuk melihatnya.
"Guguk, kamu kenapa?'' ujar Erna pada hewan berbulu itu.
__ADS_1
Ia mengendus tangan sang gadis itu seolah mengajak bercerita.
"Nanti setiap hati, aku akan memberimu makan. Jangan nakal ya," kata Erna sembari bangkit berdiri dan kembali ke rumahnya meninggalkan si guguk.
Erna melihat para ibu ibu julid itu sudah berada di teras rumahnya. Pastilah mereka hendak mencari tahu kedatangan Rafi tadi ke sana.
"Ia hanya menitipkan kunci rumahnya padaku karena dia mau keluar cukup lama. Supaya kalo si Rani kembali tinggal ambil samaku," ucap Idah sama ibu ibu super kepo itu.
"Emang katanya mau pergi kemana?'' tanya Disa yang sudah mulai kepo.
"Enggak tahu, hanya bilangnya begitu tadi," jawab Idah.
"Lah, si Erna dari mana?'' tanya Fira yang melihatnya datang dari arah luar.
"Dari sebelah, lihat si guguk. Dia juga dititipin sama kita." tambah Idah.
"Wah, kasihan sekali mereka. Tuh, Erna. Anak cewek itu harus pandai menjaga diri, lihat tuh si Rani!'' kata Bu Ros.
"Jangan samain aku sama Rani yah! Aku juga tau aturan," cetus Erna.
"Ya elah, Anakmu Dah. Dinasehati malah Ngeyel,"
"Ern, makan siang, Nak. Terus siap siap buat berangkat kerja." kata Idah melihat Erna.
"Iya, Bum" jawab Erna.
"Mending simpan nasehat nasehat itu untuk anak anak gadis kalian yang masih pulang malam. Si Erna ini syukur bangat karena gak pernah aneh aneh. Aku juga yakin pergaulannya baik," kata Idah dengan santai tapi kata katanya langsung menohok untuk para mereka semua.
"Alllaaaa, jangan gampang percaya, Dah. Anak jaman sekarang mah gampang kibulin orang tua." kata Fira.
__ADS_1
"Iya, kan kamu udah berpengalaman gampang dikibulin anak sendiri!'' semprot Idah langsung to the point.
"Eh, sok tau kamu, Dah!" kata Fira gak mau kalah.