Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 72


__ADS_3

"Aku! Kenapa?! Apa kalian tak terima?''


Sontak Idah dan Erna menoleh ke arah suara itu.


"Tari??!" ujar Idah.


"Makanya jadi orang itu sekolah biar tau hak mana punya istri dan mana punya suami!'' ujar Tari.


"Apa maksud kamu?!" ketus Erna.


"Ibumu yang bodoh ini, harusnya memberi bagian untuk Mas Heri. Rumah ini juga ada kerja kerasnya Mas Heri di dalam sini. Jadi kalian berdua jangan serakah!'' kata Tari yang membuat Erna naik darah.


"Punya mulut itu dijaga! Ngakunya sekolah, padahal mulutmu yang seperti comberan. Mending kalian pergi dari sini sebelum kami emosi. Datang gak diundang, datang harus maksa, dasar kunti!'' ketus Erna.


"Hey, apa maksudmu? Kamu ngatain aku?'' ujar Tari.


"Yaelah, emang siapa lagi yang kayak kunti disini?'' semprot Erna lagi.


Tari mengangkat tangannya hendak menampar Erna.


"Berani kamu menyentuh anakku dengan tanganmu itu, kupastikan kamu keluar dari sini hanya tinggal nama!'' bentak Idah dengan mata melotot.


"Pergi!'' ujar Idah mendorong Tari hingga wanita modis itu terjatuh.


"Awh, sialan kamu, Idah!" teriak Tari.


"Apa apaan kamu? Beraninya menyentuh istriku!" ketus Heri.


"Kalo gak mau disentuh, mending kalian pulang sebelum aku melakukan hal yang lebih buruk! Erna, mana air panasnya? Biar ibu mandikan mereka berdua disini!" bentak Idah mengancam.


"Eh, jangan gitu dong! Bisa masuk penjara kamu,'' kata Tari sedikit ketakutan melihat wajah Idah.


"Aku gak peduli dan enggak takut!''


Dengan cepat Heri membantu Tari berdiri dan membawanya mendekati pintu. Mungkin laki laki itu juga takut akan ancaman Idah.


"Pergi atau aku teriakin maling?!" ketus Erna.


"Tega kamu ngatain kami maling ya, Ern?'' kata Heri.


"Iya, kalian pantas disebut maling. Pasti bakal heboh ada maling orang kaya masuk ke rumah orang susah." ujar Erna.


"Sialan kalian!'' umpat Tari.


Plak!

__ADS_1


"Kamu yang sialan! Cepat keluar!''


Tak hanya menampar mulut Tari, Idah juga menyeretnya keluar. Wanita itu tampak kewalahan karena Idah menariknya secara paksa. Heri juga hanya bisa melongo seperti orang bego.


"Mas, tolongin aku?'' teriak Tari.


"Eh, Iya, Ma. Idah lepasin istriku!'' ujar Heri.


Idah menyeret Tari hingga ke halaman rumah. Disan dan Ros ternyata sedang berdiri di ujung teras rumah mereka. Astaga, ngapain juga mereka ada di sana?


"Idah, kok kamu kasar sekali sama mereka?'' kata Disa yang sudah sedari tadi kepo.


"Diam kamu, Disa. Kamu tidak tau apa apa!" bentak Idah.


"Hu.... Huhu...." tangis Tari berusaha menarik perhatian tetangga.


"Tuh, sampai nangis gitu, Dah. Jahat bangat kamu," ujar Fira yang langsung nongol.


"Heh! Sudah kubilang, ini bukan urusan kalian jadi stop mengomentari. Mending kalian pergi sana!" usir Idah kepada tetangganya yang gak ada otak itu.


"Gak bisa gitu, Dah. Kamu sudah menganiaya istri Heri. Kami tau, kamu pasti belum terima keputusan Heri karena menceraikan kamu. Tapi setidaknya, mikir yang logis dikit," ujar Disa sok tau.


Astaga, tetangganya itu memang sungguh menyebalkan. Mendengar itu, Pastilah Tari berada di atas langit sekarang karena di bela.


"Benar bu ibu. Idah emang belum terima jika Mas Heri menikah denganku. Ini saja Heri diundang kesini dengan alasan pembagian harta rumah ini," ujar Tari mengada ngada.


"Heh, Erna. Kalo ngomong sama orang tua itu yang sopan yah!'' sambar Fira.


"Bukan masalah sopan gak sopan, Bu Fira. Tapi ini sudah keterlaluan. Semua orang ada batas sabarnya, mending kalian semua bubar! Bapak sama Tari silahkan pergi dari sini dan untuk tetanggaku yang terlalu ikut campur urusan orang, silahkan pulang ke rumah kalian. Urus hidup kalian yang enggak pernah beres itu!'' kata Erna berapi api.


Erna menarik tangan ibunya untuk masuk ke dalam rumah. Sudah terlaku emosi dia dibuat manusia manusia itu, semoga Tuhan cepat turun tangan agar mulut mereka semua bisa tobat.


Setelah masuk, Erna langsung menutup pintu dan menguncinya.


"Ibu benar benar udah emosi, Nak. Semoga saja langit yang membalas mulut jahat mereka. Entah dengan cara apa lagi kita membela diri, Nak. Kita selalu salah di mata manusia tak berhati itu," ucap Idah menghela nafasnya.


Erna mengelus pundak ibunya pelan, gadis itu juga merasakan hal yang sama. Kenapa dia punya Bapak yang seperti dia? Sungguh tidak ada yang bisa ia banggakan selain malu dan hina yang ia dapat.


"Kamu berangkat kerja ya, Nak. Gak apa apa, yakin bahwa Tuhan menolong kamu. Ibu selalu mendoakan kamu, semoga saja kamu gak diberhentikan." kata Idah pelan menatap anaknya itu.


Gadis itu melirik jam dinding dan ternyata sudah hampir jam satu siang.


"Iya, Bu. Kita makan dulu ya, Erna lapar bangat." ajak Erna.


Ibu dan anak itu akhirnya makan siang. Setelah itu, Erna langsung bersiap siap untuk berangkat ke tempat les. Hari ini gadis itu berangkat lebih awal agar bisa bertemu Pak Arman terlebih dahulu.

__ADS_1


Seperti biasa, ia naik angkot menuju ke tempat les. Meski hari masih siang dan terik matahari yang begitu panas, tetapi tak menyurutkan semangatnya. Doa di dalam hati selalu gadis itu panjatkan agar hari ini ia bisa mendapat kejelasan yang baik.


Sesampainya di tempat les, Erna langsung menuju ke ruangan Pak Arman.


Tok tok tok tok....


"Masuk," ujar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.


"Permisi, Pak," sapanya saat masuk.


"Oh, Erna. Silahkan masuk, kebetulan sekali saya juga ada perlu dengan kamu." ujar Pak Arman.


"Waduh, kira mira Pak Arman ada perlu apa ya samaku?'' batin Erna merasa deg deg an.


"Silahkan duduk." katanya dan Erna langsung duduk di sana.


"Silahkan sampaikan dulu maksud kamu datang kesini," ujar Arman mempersilahkan Erna berbicara terlebih dahulu.


"Maaf sebelumnya, Pak. Saya kesini guna menanyakan status saya sebagai pengajar disini. Apa benar saya dipecat, Pak?" tanya Erna ragu ragu.


"Emang saya pernah berkata untuk memecat kamu?'' tanya balik Pak Arman.


"Tidak, Pak." jawab Erna pelan.


"Kalo begitu artinya kamu masih bekerja disini. Tidak ada alasan saya untuk memecat kamu, lagian masalah kemarin murni bukan kesalahan kamu. Saya sudah tau yabg sebenarnya," kata Arman membuat Erna sangat lega dan bersyukur.


"Terima kasih banyak, Pak." jawab Erna begitu senang.


"Sama sama, Erna. Oh, dan satu lagi, saya melihat potensi mengajar yang bagus pada diri kamu. Meski baru beberapa hari mengajar, tetapi kamu mampu menghidupkan kelas yang kamu bina. Beberapa orang tua merespon baik kepada kamu," ujar Pak Arman.


"Syukurlah, Pak. Saya juga gak nyangka anak anak juga langsung cepat tanggap."


"Maka dari itu, saya juga ingin melihat kemampuan kamu dalam satu minggu ini. Jika makin baik, maka saya akan memberi kamu satu kelas lagi khusus untuk olimpiade matematika dan tentunya gaji kamu juga akan naik. Ini juga atas usul beberapa orang tua, anak anak mereka bertambah semangat datang les disini." terang Pak Arman menjelaskan.


"Baik, Pak. Saya akan berusaha yang terbaik untuk memberi ilmu pada anak didik disini." kata Erna bersemangat.


"Iya, Erna. Saya akan memantau secara langsung prosesnya. Jadi tolong berikan yang terbaik untuk memajukan tempat ini." kata Arman dengan senyum.


"Baiklah, Pak. Saya akan berusaha."


"Baiklah kalo begitu, kamu boleh kembali ke ruangan kamu."


"Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu." kata Erna pamit undur diri.


Gadis itu keluar dari ruangan Arman dengan hati yang penuh suka cita dan penuh syukur.

__ADS_1


Tuhan benar benar baik untuknya. Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan semuanya.


__ADS_2