
"Mas, mau kemana?'' tanya suara wanita itu.
"Mau ke rumah sakit dulu, anterin tetangga yang lagi pingsan." jawab Santo.
"Jangan lama lama, Mas. Takut aku sama istrimu," kata wanita itu.
"Iya, Mar. Mas berangkat dulu,"
Hah? Siapa wanita itu? Tak mungkin jika pak Santo punya dua istri dalam satu rumah. Apa enggak perang dunia?
Erna melihat wajah Tini yang menampilkan wajah gak suka dengan suara wanita itu. Erna memilih berpura pura menggaruk lengannya agar tidak terkesan sedang nguping padahal memang ia juga kepo.
"Mari, Nak Erna." ajak Pak Santo.
Erna mengikuti langkah Pak Santo ke mobil, mereka langsung segera menuju ke rumahnya.
"Bu, apa Rani sudah sadar?'' tanya Erna saat sudah sampai di rumahnya.
"Belum, Nak. Apa Pak Santo mau membantu kita?'' tanya Idah.
"Iya, Bu. Ya udah sekarang kita bawa Rani ke dalam mobil di depan," kata gadis itu.
Erna dan Idah langsung membopong tubuh Rani ke dalam mobil.
"Erna, coba kamu masuk ke rumah si Rani, ambil dompetnya, mungkin ada kartu berobatnya atau KTP atau apalah yang bisa kita bawa." kata Idah.
Astaga, mau cari kemana? Itu kan barang privasi Rani, ibunya ada ada aja deh.
"Pak Santo, bentar yah. Maaf ngerepotin," ujar Idah.
"Aman, Bu Idah." jawabnya.
Erna membuka pintu rumah yang tak dikunci itu. Betapa terkejutnya gadis itu yang melihat isi rumah itu bak kapal pecah. Pakaian kotor atau bersih tak bisa dibedakan. Piring makan dan gelas yang habis dipakai berserakan begitu saja. Televisi yang menyala dan AC juga menambah keborosan di rumah itu.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Erna langsung menuju kamar Rani yang pintunya terbuka. Dari warna gordennya saja, Erna sudah bisa tahu bahwa itu kamar cewek.
Kondisi kamar Rani tak beda jauh dengan rumah tengah dan ruang tamu. Jorok sekali anak itu. Terdapat beberapa bungkus makanan yang berserakan juga.
Matanya menangkap sebuah tas yang ada di atas meja rias. Langsung saja ia membuka tas itu dan benar saja semua dokumennya ada di sana. Erna mengambil tas itu laku keluar dark kamarnya. Erna juga mematikan tv dan AC yang masih menyala itu, baru ia beranjak keluar rumah dan mengunci pintunya. Guguk yang melihatnya terus menggonggong tetapi gadis itu berlalu begitu saja.
Setelah ia naik ke mobil, mereka langsung menuju rumah sakit.
"Gimana ceritanya sampai si Rani ada di rumah kalian, Dah?" tanya Pak Santo kepada Idah.
"Enggak tahu juga, datang datang udah ngeluh sakit. Eh, tiba tiba pingsan." jawab Idah.
Rani yang tidur dipangkuan Idah terlihat sangat lemas. Apalagi ia kondisi dalam mengandung. Ditinggal oleh Rafi membuat dia seperti anak yang terlantar. Huh, kasihan juga dia. Setidaknya, Erna masih punya ibunya yang tidak meninggalkannya disaat seperti itu.
Tak terasa, mereka sudah sampai di rumah sakit. Erna dan Idah membantu menurunkan Rani dan ia langsung ditangani oleh pihak rumah sakit.
"Nak, coba telepon si Rafi lagi. Ini gimana mau ngurus administrasinya?'' kata Idah.
"Iya, Bu. Erna udah nelpon tapi tidak dijawab juga."
"Dok? Apa gak berbahaya untuk janinnya?'' tanya Idah.
"Tidak, Bu. Obat yang kami berikan juga berupa vitamin yang aman untuk ibu hamil." jawab sang dokter yang menangani itu.
"Syukurlah."
Drrttt....
Ddrrrtt....
Drrtt...
"Nak, ponsel kamu bergetar." kata Idah.
__ADS_1
"Oh, ini si Rafi nelpon, Bu." jawab Erna saat melihat layar ponselnya yang memperlihatkan nama Rafi di sana.
"Sini, biar ibu yang bicara." kata Idah mengambil ponsel Erna.
Setelah ponsel berpindah tangan, Idah keluar untuk berbicara dengan Rafi. Semoga saja Rafi gak pergi jauh dan masih di kota itu sehingga dia bisa datang ke rumah sakit.
Setelah beberapa saat kemudian, Idah mengembalikan ponselnya kepada Erna.
"Katanya apa, Bu?'' tanya Erna.
"Dia akan segera kesini. Selama ini dia tidak pergi jauh karena takut Rani kenapa napa. Sebentar lagi pasti udah sampai," jawab Idah.
"Syukurlah. Oh ya, Pak Santo gimana bu? Apa masih nungguin ya?''
"Waduh, Nak. Untung kamu ingatin. Ibu lupa. Ya sudah tunggu disini biar ibu temuin Pak Santo." kata Idah.
Setelah Idah keluar, tinggallah ia bersama Rani yang terbaring sakit di ranjang. Ada sekitar lima orang pasien di UGD itu.
"Ibu, jangan tinggalin Rani," rintih Rani tapi dengan matanya yang masih tertutup.
"Ya Tuhan, pasti Rani sedang bermimpi tentang ibunya hingga ia mengigau begini," batin Erna.
Erna duduk merenung tentang kejadian yang ia alami hari ini. Tak menyangka jika cobaan berat hari ini mampu ia lewati hingga sekarang. Semua berkat ibunya yang berdiri didepannya. Bersyukur sekali dirinya masih memiliki ibu. Jika sakit begini, emang paling enak bermanja di pelukan ibu. Ah, gak bisa gadis itu bayangkan jika tidak ada ibunya disisinya.
"Erna?''
Suara Rani membuyarkan lamunannya.
"Eh, kamu sudah bangun?" tanya Erna yang sedikit kaget. "Bentar aku panggilin dokter ya."
Tetapi saat Erna hendak bangun dari duduknya, Rani memegang tangannya kuat.
"Kenapa, Ran?'' tanya Erna.
__ADS_1
Rani tak menjawab melainkan menangis sesenggukan sambil menggenggam erat pergelangan tangannya.
Anak ini kenapa?