Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 33


__ADS_3

"Heh kamu,''


Erna menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat arah sumber suara itu.


"Maaf, apa anda memanggil saya?'' tanya Erna.


"Iya kamu, sini!'' ujarnya.


Erna berjalan mendekat kearah wanita paruh baya yang memakai kaca mata hitam itu.


"Ada yang bisa saya bantu?'' tanya Erna ramah.


"Ini, sepatu saya tolong di lap, tadi kena air,'' ujarnya sembari mengangkat kakinya.


Erna agak ragu untuk melakukannya, menurutnya hal itu tak sepantasnya diminta oleh tamu. Memang dia tahu bahwa dia hanya seorang OG tetapi jika para tamu meminta mengelap sepatu mereka itu bukan tugasnya.


Erna bangun dan mengambil kotak tissue lalu menyodorkan kepada wanita itu.


"Loh, saya suruh kamu yang ngelap bukan malah kasih tissue ke saya!'' bentaknya.


"Maaf, Bu, tugas saya membersihkan lobi ini bukan membersihkan sepatu ibu,'' ujar Erna sopan.


"Alaaa, eh jongos disuruh itu jangan ngeyel. Cepat lap sepatu saya, kamu gak tahu iya saya ini siapa?'' ujarnya marah.


Beberapa orang yang duduk di sana pun sudah melihat ke arah mereka tetapi sepertinya mereka enggan berkomentar. Erna yang tak ingin menambah masalah langsung saja duduk dan mengelap septunya.


"Yang bersih,'' katanya angkuh.


Erna mengelap hingga sepatu itu kering dan bersih. Namun, saat hendak bangun ia menedangnya hingga membuat Erna jatuh terduduk kembali.


"Awwhh, Ibu apa apaan sih?''


"Erna,'' Tikno berlari menghampiri Erna.


"Apa! Kamu mau nyalahin saya?'' ujar si ibu itu dengan angkuh.


"Kenapa saya di tendang, Bu? Jangan sombong jadi Orang!'' kata Erna mulai emosi.


"Ern, tenang Ern, Aku udah hubungin pak Danung,'' kata Tikno berbisik.


"Nantangin saya kamu?!''


Kali ini kata katanya sudah dengan nada teriakan. Erna salah apa yang sudah gadis itu lakukan padanya sehingga ia begitu emosi.


"Saya gak nantangin ibu, Hanya saya rasa ibu sudah keterlaluan,'' ujar Erna menahan tangis.


"Ehh jongos, Jangan belagu jadi orang! Jongos kayak kamu emang pantas diperlakukan kayak gitu,'' ucapnya merendahkan Erna.

__ADS_1


"Dasar wanita tua tak berhati,'' cetus Erna.


"Eh apa kamu bilang?'' ujarnya seraya hendak menarik rambut Erna.


"Jangan, Bu, kami bisa melaporkan tindakan kekerasan yang ibu lakukan,'' ujar Tikno.


Petugas yang bertugas di pintu juga datang menghampiri mereka.


"Silahkan lapor kalau kalian punya duit, Dasar orang miskin!'' ujarnya pongah.


"Maaf, Bu. Jangan membuat keributan disini,'' tegur petugas tadi.


"Heh, kamu siapa? Berani beraninya negur saya?'' balas wanita itu.


Huh, masih sepagi ini dan kesabaran Erna sudah sangat diuji. Tak lama pak Danung datang menghampiri mereka.


"Permisi Bu, mohon maaf, Apa karyawan saya melakukan kesalahan?'' tanya pak Danung sopan.


"Iya benar, kesalahannya adalah dia bekerja disini. Orang yang gak becus seperti dia sebaiknya dipecat,'' katanya sembari menunjuk Erna.


"Maaf Bu, kami tidak bisa memecat karyawan kami tanpa alasan yang jelas. Jika ia berbuat salah dengan mengganggu tamu yang berkunjung ataupun melakukan kesalahn fatal lainnya barulah kami bisa mengambil tindakan atau keputusan untuk pemecatan,''terang Pak Danung.


Seketika wanita itu diam sembari menatap Erna dengan tajam, Usianya sudah tua, tetapi mulutnya sangat mengerikan dalm hal menghina.


"TAri, Heri!'' teriak wanita itu.


"Itu kan bapak sama istri barunya,'' barin Erna terkejut.


"Ibu, ngapain masih disini?'' tanya Tari. "Ini ada apa ramai ramai?'' uajrnya lalu menatap Erna sengit.


Heri yang melihat Erna disitu juga nampak terkejut dan sepertinya dia gugup. Apa wanita tua itu adalah mertuanya Heri?


"Ini si jongos ini keterlaluan Tari. Dia sudah membentak dan berani sama ibu,'' tunjuk wanita tua itu kepada Erna.


"Maaf Bu, tetapi ibu ini yang menedang teman saya duluan.'' ujar Tikno.


"Heh diam kamu!'' bentaknya pada Tikno.


"Ohh kamu? Mas ini anak kamu kan?'' tanya Tari. "Dasar! Ibu sama anaknya sama aja,'' katanya lagi.


"Ooo pantas aja ibu tak asing dengan wajahnya. Rupanya kamu anak Heri? Oooh, atau jangan jangan kamu giniin saya biar saya kenal sama kamu gitu?'' katanya sombong.


"Ayo mending kita ke resto. Jangan terlalu dekat dengan orang kayak mereka Bu. Mereka itu bibit benalu,'' ucap TAri.


Mereka bertiga langsung berbalik menuju lift. Bapaknya saja saat dia dihina pun ia tak merespon dan memilih diam sambil memainkan ponselnya. Ternyata ia mati kutu saat bersama istri dan mertuanya.


''Erna, Tikno. Kembali ke belakang sekarang,'' kata pak Danung.

__ADS_1


Dengan hati yang begitu sakit karena dihina mertua dan istri Bapaknya, Erna langsung kembali ke belakang.


"Erna? kamu kenapa?'' tanya Ema.


"Gak kenapa napa, Ma. Aku cuma lapar aja,'' jawab Erna bohong.


"Ern, kamu dipanggil pak Danung ke ruangannya,'' kata Tikno.


Dengan langkah gontai, Erna menuju ruangan atasannya itu.


Tokkk....tok....tok.....


"Masuk.''


Erna melangkah masuk kedalam ruangan pak Danung.


"Permisi Pak? Bapak memanggil saya?''


"Iya, Erna. duduk dulu.'' jawabnya.


Erna duduk di kursi berhadapan dengan atasannya itu. Perasaan gadis itu mendadak tidak enak dipanggil seperti itu.


"Maafkan saya sebelumnya, Saya tahu ini bukan kesalahan kamu. Kamu karyawan yang baik selama ini,'' ucapnya.


Hatinya semakin deg deg an dengan kelanjutan ucapan yang akan Pak Danung katakan setelah menghela nafasnya.


"Tetapi mohon maaf, kamu harus diberhentikan bekerja mulai hari ini,'' kata Pak Danung dengan suara berat.


"Pak, tapi saya salah apa?'' ujar Erna sesak.


"Maaf Erna, Ibu yang tadi itu adalah ibu pemilik hotel ini. Ia yang langsung memerintahkan untuk memberhentikan kamu. Saya ingin membela kamu, tetapi apa kuasa saya? Saya juga hanya karyawan disini,'' ujar Pak Danung menatap Erna dengan rasa bersalah.


Air mata gadis itu merembes melalui kedua ujung matanya. Dia dipecat bukan karena salah, melainkan karena tak disukai. Sungguh, Ia rasa dunia begitu tak adil padanya.


"Gaji kamu bulan ini akan tetap di transfer besera pesangon kamu,'' kata Pak Danung. ''Saya benar benar minta maaf Erna, tidak bisa membela kamu,''


"Tidak apa apa, Pak. Kalai begitu saya pamit dulu. Saya langsung pulang boleh?'' tanya Erna sedikit berusaha tegar.


"Iya, Erna. Silahkan,'' ucapnya sedih. "Nanti jika ada informasi lowogan pekerjaan, akan saya kirimkan pada kamu.''


"Terima kasih banyak atas kerja kerasmu disini,'' tambah pak Danung.


"Terima kasih kembali, Pak. Saya permisi dulu, mungkin nanti saya gak sempat pamit pada teman teman,'' uajrnya.


"Tak masalah, biar nanti saya yang memberitahu.''


Erna melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang benar benar hancur.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan? Sekarang ini sangat susah,'' batinnya.


__ADS_2