
Hari ini Erna pergi mengajar pukul empat sore. Karena ibunya ikut mengantar Nunung ke rumah sakit, maka ia tak sempat untuk pamit lagi. Pasti juga Idah tahu jika ia pulang tidak ada dirinya, berarti dia sudah berangkat kerja.
Seperti biasa, ia menaiki angkot menuju tempat lesnya. Sesampainya di sana, gadis itu langsung memasuki kelasnya yang masih cukup sepi karena anak anak didiknya belum pada datang. Erna memutuskan untuk duduk menunggu mereka sembari bercerita dengan seorang muridnya yang sudah hadir.
"Halo, Dek Yuna." sapanya pada anak kecil itu.
"Hay, Miss Erna." sapanya balik.
"Kamu tinggal dimana, Dek?'' tanya Erna basa basi.
"Aku tinggal di Perumahan Jati Asih, Miss." jawabnya sambil tersenyum.
Obrolan obrolan berikutnya mengalir begitu saja, hingga anak anak didik yang lain sudah pada datang. Saat sudah lengkap semua, Erna langsung memulai pelajaran hari ini. Jumlah murid yang mengikuti les sore ini ada sepuluh orang. Semua anak didiknya sangat pintar dan cepat tanggap apa yang gadis itu ajarkan. Mereka juga sering mengajaknya untuk berdiskusi dan Erna sangat menyukainya. Kelas itu sungguh seru menurutnya karena anak anaknya sangat enjoy meski meraka dalam masa peralihan menuju remaja yang dimana biasanya sering labil.
Materi yang Erna bawakan hari itu tentang deret aritmatika. Erna sangat senang karena mereka semua mengerti apa yang dia jelaskan.
Tak terasa, dua jam berlalu begitu cepat. Erna mengakhiri kelas sore itu dengan memilih seorang anak maju ke depan untuk menyanyikan sebuah lagu. Mereka sangat antusias dan tak ada yang menolak dan mengolok satu sama lain. Inilah yang membuat gadis itu senang mendapat kelasnya.
Setelah semua muridnya meninggalkan kelas, barulah Erna keluar. Ia berjalan menuju ke ruangan untuk melakukan absen dan menaruh kembali modul.
Ting....
Ponselnya berbunyi pertanda ada pesan masuk. Setelah ia menyelesaikan absen, ia mengambil ponselnya dan membuka pesan yang masuk itu.
"Erna, aku tunggu kamu di tempat biasa ya. Kita pulang bareng." itu pesan dari Nay.
Erna langsung saja keluar menuju ke taman mini yang ada di depan, tempat mereka berdua duduk biasanya. Sesampainya di sana, nampak Nay sedang berbincang dengan seorang wanita. Erna berjalan mendekat ke arah mereka, gadis itu mendengar jika wanita itu menyebut namanya.
"Wah, kebetulan sekali. Orangnya sudah muncul. Ern, cepat. Ada yang cariin kamu." kata Nay melambaikan tangannya.
__ADS_1
Erna mengerutkan dahinya bingung dan terus berjalan ke arah mereka. Ternyata wanita yang berbicara dengan Nay adalah istri Hari, bapaknya.
"Ern, ibu ini cariin kamu, katanya ada perlu." ucap Nay.
"Ada apa ya, Bu?'' tanya Erna sopan.
Plakk!
Erna terkejut bukan main karena tamparan yang ia terima di pipinya.
"Kenapa ibu tampar teman saya?'' kata Nay bingung dan tidak terima atas perlakuannya.
Erna memegang pipinya yang terasa perih dan panas bekas tamparan si Tari. Tak terasa air mata gadis itu jatuh begitu saja membasahi pipinya.
"Saya salah apa ya, Bu Tari? Kenapa saya ditampar?" ujar Erna masih berusaha tenang.
Tari hanya tersenyum licik menatap gadis itu.
"Maaf, tapi saya di terima murni bekerja disini. Apa tempat ini punya kalian juga?'' tanyanya.
"Ah, nyolot ya kamu!'' bentaknya.
"Maaf, ada apa ini Bu Tari? Miss Erna?"
Perkelahian mereka menimbulkan keributan kecil sehingga Pak Arman selaku kepala di tempat les itu datang.
"Ini contoh tutor yang tidak sopan. Bicara sama orang tua murid saja tidak sopan ," ujar Tari dengan sinis.
"Apa? Bagian mana saya yang tidak sopan, Bu? Harusnya saya yang marah sama ibu karena saya ditampar tiba tiba," kata Erna.
__ADS_1
"Baiklah kalo begitu. Kita masuk dulu ke ruangan saya, biar bisa diomongin baik baik dan bisa clear." kata Pak Arman.
Dengan langkah berat dan hati yang sakit karena dituduh, Erna berjalan mengikuti mereka. Nay juga ikut bersama Erna, mungkin ia khawatir melihat temannya itu.
Sesampainya di ruangan Pak Arman, Mereka dipersilahkan untuk duduk.
"Maaf Bu, sebenarnya ada apa sehingga ibu begitu marah dengan Erna?" tanya Arman.
"Maaf, Pak. Saya tidak suka dengan tutor yang tidak punya etika dan sopan santun. Mau diajarkan apa anak saya jika tutornya model begini," ucap Tari.
Erna begitu terkejut mendengar ucapannya. Bagian manakah yang tidak sopan?
"Erna? Mengapa kamu berbicara tidak sopan pada orang tua murid? Tidakkah kamu baca slogan di depan gedung ini? Jika kita menjunjung tinggi etika belajar?" tanya Arman.
"Maaf sebelumnya, Pak. Saya rasa jika tidak pernah berbicara kasar dengan Bu Tari. Saya baru saja tiba di pelataran parkiran untuk pulang. Tetapi ibu Tari yang baru saja saya temui langsung menampar saya tanpa ada alasan. Sudah ditampar pun saya masih bertanya baik baik. Apakah yang salah?'' ujar Erna.
"Bapak tahu saya kan? saya tidak akan seperti itu tanpa alasan. Karena kamu tidak sopan dengan saya, makanya saya tampar. Kami sekeluarga sudah ikut les disini sudah lama. Jadi pak Arman tahu siapa kami disini." ujar Tari.
"Saya selaku pimpinan disini minta maaf untuk kejadian gak mengenakkan yang terjadi pada Bu Tari. Erna, sekarang minta maaf pada Bu Tari." ucap Arman.
"Tapi, Pak. Saya tidak melakukan kesalahan. Saya dipojokkan disini, Pak." kata Erna dengan air mata yang sudah mengalir.
"Jika dia tidak ingin minta maaf, maka saya minta dia dipecat. Saya yakin, pasti orang tua lainnya tidak akan suka dengan kejadian ini." ketusnya.
Degh!
Mendengar itu, hatinya seperti mencolos keluar begitu saja. Tidak, ia tidak mau kehilangan pekerjaan ini lagi. Ia sudah merasa nyaman bekerja disini yang sesuai jurusannya, Guru.
Akhirnya, mengurung egonya sendiri, Erna akhirnya minta maaf meski tidak melakukan kesalahan. Semua itu ia lakukan karena ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya sebagai tutor les di sana.
__ADS_1
"Saya minta maaf Bu Tari jika saya salah. Pak Arman, saya mohon untuk tidak memecat saya." ucap Erna memohon.
Krek.....