Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 38


__ADS_3

Deg....deg....deg.....


Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya karena gugup. Tapi sebisa mungkin gadis itu menguasai dirinya agar tidak gagu saat menjawab pertanyaan.


Ternyata setelah dinyatakan resmi lulus seleksi adminstrasi, mereka langsung diberikan tes tertulis. Untung saja Erna membawa semua perlengkapannya. Jumlah yang ikut seleksi ternyata ada lima belas orang. Dan untuk jurusan gadis itu hanya dibutuhkan satu orang saja.


Huh, semoga nasib baik berpihak padanya.


Mereka semua diberi soal lalu disuruh mengerjakan dengan waktu hanya satu jam. Peserta yang lolos akan langsung diwawancara.


Erna mengerjakan soal soal itu dengan baik dan teliti. Lagian itu soal tentang psikologi, gadis itu sudah terbiasa mengerjakannya saat melamar kerja dulu.


Tidak terasa satu jam berlalu, semua peserta mengumpulkan hasil tesnya kepada petugas. Mereka diijinkan untuk beristirahat sambil menunggu pengumuman siapa yang lolos. Erna memilih pergi ke supermarket yang berada tepat di depan gang untuk membeli beberapa cemilan.


"Hey, Kak," panggil seseorang dari belakang.


Erna menoleh dan mendapati seorang gadis sebayanya berjalan ke arahnya.


"Hallo, Kak." balas Erna tersenyum.


"Kakak, juga ikut tes tadi ya?'' tanyanya.


"Iya kak, Aku juga ikutan." jawan Erna.


"Wah, sama dong. Kenalin namaku Naya." katanya mengulurkan tangannya.


"Aku Erna." jawab Erna sambil menjabat tangan Naya.


Mereka berdua berjalan menuju supermarket bersama. Ternyata Naya melamar guru les biologi sedangkan Erna melamar sebagai guru les matematika.


"Kamu udah punya pengalaman ngajar kah?'' tanya Erna.


"Hm, sedikit sih. Aku sekarang ini jadi guru les anak anak di komplek rumah aku." jawab Naya.


"Wah, bagus tuh. Setidaknya udah punya pengalaman ngajar." kata Erna.


"Iya, Na. Kalo kamu?'' tanyanya balik.


"Aku belum punya pengalaman ngajar sih. Setelah lulus kuliah aku bekerja di hotel sebagai OG," ucap gadis itu apa adanya.


"Oh, ya?" Naya seperti terkejut mendengar penuturannya.


"Iya. Jadi aku belum punya pengalaman ngajar." kata Erna.


"Semoga aja kita bisa lolos ya. Aku berharap bangat bisa lolos jadi guru les disini." Kata Naya.


"Iya sama, Nay. Kita berdoa dan berusaha aja dulu."


Mereka berdua kembali ke tempat les tadi bertepatan saat petugas menempelkan hasil tes. Erna dan Naya langsung kesana untuk melihat nama mereka.


"Yes, aku lulus." kata Naya dengan sumringah.

__ADS_1


"Aku juga, Nay." jawab Erna senyum lebar diwajahnya.


"Tinggal satu tahap lagi," batin Erna.


Mereka yang lulus diarahkan untuk duduk karena sesi wawancara akan segera dimulai.


"Gugup aku, Ern." kata Naya memegang tangan Erna.


"Keep calm," ujar Erna walau sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama.


Nama demi nama dipanggil dan kini tiba nama Erna yang dipanggil diurutan paling terakhir.


"Halo, Nama saya Erna Sulistiawati."


"Silahkan jelaskan secara singkat mengenai diri anda." ucap seorang Laki Laki yang mewawancarainya.


Dengan sikap tenang, ia mulai menceritakan dirinya.


Pertanyaan pertanyaan selanjutnya mengalir dan ia pun mampu menjawabnya dengan baik.


Lumayan gugup, tapi Erna menunjukkan kualitas terbaik dalam dirinya. Setelah kurang lebih dua puluh menit diwawancara akhirnya gilirannya selesai juga. Nafasnya menjadi lebih teratur karena sudah merasa lega. Erna langsung menghampiri Naya yang sedang duduk.


"Gimana, Ern? Lancar?'' tanyanya.


"Lancar, Nay. Semoga saja hasilnya baik." jawab Erna.


"Amin."


"Ternyata kita tinggal dekatan ya, Ern. Gak nyangka gitu," kata Naya.


"Iya, Nay. Jadi aku sekarang punya teman dari gang sebelah," kata Erna senyum.


"Hehehe, Aku mah belum pernah masuk ke komplek kamu, Ern. Katanya di sana mulut ibu ibunya pada pedes pedes ya?" tanya Naya.


"Sama seperti namanya. Semua serba julid." jawab Erna ketawa.


"Ih, betah ya yang tinggal di sana termasuk kamu," ujar Naya.


"Hanis gimana lagi Nay, rumahku udah disono dari dulu. Jadi udah kebal aja." jawabnya terkekeh.


"Iya udah, kapan kapan aku mampir ya, Ern."


Angkot yang mereka tumpangi berhenti di depan gang rumah Erna dan gadis itu pun turun. Sedangkan Naya masih lanjut ke gang depan.


"Kerja apa sih Erna? Pergi gak pagi amat? Pulang gak sore amat?''


Baru saja gadis itu memasuki gangnya dan sudah disambut ocehan Bu Nunung yang sedang nangkring di rumah Bu Reisa.


"Kepo," jawab Erna lanjut jalan.


"Eh, ditanyain baik baik malah ngeloyor, Gak sopan kamu!'' kata itu masih bisa Erna dengar.

__ADS_1


"Bodo amat!''


"Ibu, Erna anakmu pulang," panggilnya sambil membuka sepatu.


"Udah pulang Nak? Capek? Mau ibu ambilin minum?'' tawar ibunya.


"Boleh Bu, Erna haus.'' jawab Erna senyum melihat ibunya.


Wanita paruh baya itu berlalu kebelakang dan kembali membawa segelas jus mangga kesukaannya.


"Wah, enak ni Bu." kata Erna sambil menerima jus itu dan meminumnya.


"Iya dong enak. Ibu ambil mangga yang dibelakang yang udah pada matang. Jadi ibu buat jus aja dan nanti mau dibagiin ke tetangga yang lainnya." ujar Idah.


Pohon mangga dibelakang rumahnya memang buahnya sangat banyak meski pohonnya tidak begitu tinggi. Biasanya kalo panen ibunya akan membuat manisan dan jus, selebihnya dibagikan ke tetangga.


Puas menikmati jus yang dibuat ibunya, perutnya kembali keroncongan.


"Ayo makan, Ibu sudah masak. Pasti kamu sudah lapar kan?'' tebak ibunya.


"Ibu tahu aja," jawab Erna sembari mengikuti ibunya ke meja makan.


"Cuci tangan dulu, Nak."


Setelah gadis itu cuci tangan, Mereka berdua menikmati makan siang yang ada. Ada sayur urap dan semur ayam tahu buatan ibunya yang tidak pernah gagal. Gadis itu selalu lahap jika makan masakan ibunya meskipun dalam keadaan sakit.


"Gimana hari ini, Nak? Udah beres semua?'' tanya Ibunya.


"Udah, Bu. Ternyata sampai di sana kita langsung di tes dan diwawancara. Erna gak tahu, tapi untungnya Erna sedikit paham dengan bentuk soalnya." jawabnya.


"Tetapi kamu bisa kan?''


"Puji Tuhan bisa, Bu. Hasil wawancara akan diumumkan lewat pesan. Tadi nomor ponsel udah ditinggalin di sana." jawab Erna.


"Banyak berdoa, semoga kamu lolos. Tapi ibu yakin kamu akan berhasil." kata ibunya membuat Erna sedikit tenang.


"Terima kasih, Bu."


Hatinya begitu tenang mendengar ucapan ibunya. Doa yang paling tulus memang hanya berasal dari doa ibu. Setiap kali ia kesulitan dan mengerjakan sesuatu, ibunya selalu menguatkannya. Dan setelah itu, ia mampu menghadapi semuanya.


Setelah selesai makan, Ibu dan Anak itu bersantai di bawah pohon mangga sembari menonton anak anak yang beradu main lato lato. Ya, sekarang musimnya permainan itu. Dahulu, Erna juga pernah dibelikan oleh ibunya, tetapi karena melukai kepalanya, ibunya akhirnya membuang mainan itu.


"Enggak mau cobain?'' tanya Idah.


"Enggak, Bum Erna trauma. Lihat aja masih geli, takut kepala kena getok lagi," ucapnya bergidik.


"Ih, malu sama bocil bocil yang udah jago," goda ibunya.


"Biarin."


Erna dan Ibunya duduk sambil menikmati potongan mangga yang sangat manis ditambah angin sepoi sepoi, mereka berdua bercerita sambil sesekali tertawa.

__ADS_1


"Heh, Kalian? Bisa diam enggak!!"


__ADS_2