Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 21


__ADS_3

Erna yang panik mendengar perkataan Bu Fira langsung menuju kamar ibunya.


"Bu, ibu bangun,'' teriak Erna sambil menggedor pintu kamar ibunya.


"Iya, ada apa sih Ern, kok berisik gitu?"


"Kata Bu Fira, Bu Ratih meninggal,'' ucap Erna panik.


"Ya, Tuhan. Serius kamu, Nak?'' tanya Ibunya yang panik juga sekaligus terkejut.


"Iya, Bu. semua pada panik. Si Rani teriak depan rumahnya," kata Erna.


Erna dan Ibunya langsung berlari ke rumah Rani. Nampak sudah banyak tetangga di sana.


"Kalian berdua rumahnya paling dekat, keluarnya belakangan." ucap Bu Nunung.


Mereka tak menggubris ucapannya dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Ibu..... Bangun, Bu. Jangan tinggalin Rafi."


"Maafin Rani, Bu. Ibu jangan pergi."


Tangis Rafi dan Rani memenuhi seisi ruangan itu. Semua yang ada hanya menatap mereka dengan perasaan sedih. Bu RT memberi kode kepada mereka semua yang ada di sana untuk membiarkan kakak beradik itu menangis. Setelah cukup menunggu, akhirnya jenazah bu Ratih dimandikan dan disemayamkan. Pendeta setempat juga hadir dan mendoakan jenasah bersama para warga yang ada. Meski disini banyak yang berlainan keyakinan, tetapi semua tetap bekerja sama dan kompak.


Ruangan rumah itu sudah di dekor dengan warna dominan putih dan ungu. Ibu Ratih sudah ditidurkan di ruang tamu. Semua tetangga hadir dan mendoakan, begitu juga Erna dan Ibunya yang masih tetap setia di sana.


Bu RT dan Rafi berdiskusi dimana akan dimakamkan ibu mereka.


"Karena kami tak punya keluarga disini, jadi saya minta ibu saya agar dimakamkan di TPU umum dekat sini aja Bu. Lagian juga aku sudah tinggal disini dengan Rani." kata Rafi.


"Baiklah, kalau begitu.Saya dan beberapa warga dan sekretaris RT akan membantu mengurus pemakaman Bu ratih," ujar Bu RT.


"Terima kasih banyak, Bu." ujar Rafi.


Sedari tadi, Erna perhatikan Rafi sudah mulai tawakal menerima kepergian ibunya. Tetapi beda halnya dengan Rani, Ia nampak murung di sisi ibunya. Wajahnya menundukkan penyesalan dan terlihat sangat sedih.


Erna yang kasihan melihatnya seperti itu langsung bangun dan mendekatinya. Erna merangkulnya sembari memberinya kekuatan. Namun, Rani menepis tangannya dengan menggerakkan bahunya. Ternyata Rani tidak menerima kehadirannya.


"Sudah puas kan kalian?'' katanya dengan suara rendah.


"Maksud kamu?'' tanya Erna tidak mengerti.

__ADS_1


"Gara gara kalian, Ibuku meninggal." ucapnya lalu menatap Erna.


Erna hanya bisa mengelus dada, tak ingin memperpanjang ucapan Rani. Bisa bisa nanti dia akan terbawa emosi. Tak enak dilihat karena semua masih dalam suasana berduka.


Erna langsung pindah duduk dari sebelah Rani ke sebelah Ibunya.


"Bu, kita pulang aja yuk." ajak Erna pelan.


"Loh, emang kenapa, Nak?'' tanya ibunya bingung dan heran juga, kenapa disaat begini anaknya itu malah minta pulang.


"Aku ngantuk, Bu." jawabnya ngelak.


"Gak enak sama tetangga, Nak. Rumah kita paling dekat juga." jawab Ibunya.


Erna terpaksa duduk di sebelah ibunya kembali sambil bersandar di bahunya. Rasa kesal kepada Rani karena sedari tadi ia melirik penuh marah ke arahnya. Gadis itu yang tak tahu salah apa kepadanya. Daripada bertambah emosi, lebih baik dia pulang saja. Lagian tenda sudah ramai dengan kedatangan teman kerja Rafi. Hari itu juga sudah tengah malam dan besok dia akan masuk kerja.


Tanpa menegur, Erna langsung beranjak pulang ke rumahnya. Langsung masuk ke kamar dan tidur. Tak lupa alarm sudah dipasang agar tidak telat bangun.


******


Pukul empat pagi, Gadis itu sudah bangun karena bunyi alarm yang terus mengganggunya. Seperti biasa, dia merapikan tempat tidurnya dan menyiapkan seragam kerjanya. Erna menuju ke ruang tengah tapi lampu masih belum menyala. Sepertinya ibunya belum bangun.


Gadis itu langsung menuju ke dapur untuk memasak nasi dan langsung mandi.


"Iya, Bu? Erna lagi mandi." jawabnya sedikit keras.


"Kirain kamu belum bangun."


"Udah kok, Bu."


Setelah selesai mandi, Erna langsung keluar dan mencari ibunya.


"Ibu baru pulang?'' tanyanya.


"Gak kok. Ibu baru bangun." jawab Idah.


"Oh, berarti ibu telat bangun." kata Erna sambil menuju kamarnya.


Setelah bersiap, Dia langsung ke dapur untuk menyiapkan bekalnya. Untung saja kemarin dia sudah membeli ayam bakar dari pasar malam itu, jadi dia tidak repot repot lagi untuk masak.


"Erna, jangan lupa sarapan, Nak." kata ibunya mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, Bu. Ibu juga jangan lupa makan ya."


"Iya, Nak. Hari ini Ibu mau bantu bantu ke sebelah, besok kan pemakaman. Kasihan si Rafi dan si Rani."


"Kalau si Rani ngomong apa apa aja ke ibu, jangan diambil hati ya. Diem aja." kata Erna mengingatkan ibunya.


"Iya, Ern. Kamu kayak gak tahu ibu saja."


Mereka berdua duduk sarapan bersama lalu gadis itu segera pamit untuk pergi bekerja.


Diliriknya sebentar ke arah rumah Rani. Terdengar suara tangisan pilu darinya. Pasti ia merasa kehilangan ibunya. Apalagi sekarang ia dan Rafi tak punya siapa siapa lagi. Masih ada ayah mereka, tetapi ia sudah menikah lagi. Belum tentu mau memperhatikan kedua anaknya. Untung saja Rafi sudah bekerja dan Rani yah, walaupun pekerjaannya buruk tapi masih mampu menghidupi dirinya. Erna jadi berpikir, apakah setelah ini Rani akan tobat atau tidak.


Erna berjalan ke depan seperti biasa untuk menunggu angkot. Tak ada yang berbeda hari ini, masih sama seperti kemarin.


Tin..... tin.....


Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gadis itu. Erna bergeser agar dia bisa melihat jika ada angkot yang lewat karena terhalang oleh mobil itu.


"Erna."


Ah, ternyata pemilik mobil itu adalah Bapaknya. Erna berusaha santai dan tak terlalu menggubrisnya.


"Mau pergi keja, Nak?'' tanyanya.


"Iya." jawab Erna sekenanya.


"Mending kamu kerja di tempat Bapak saja." ujarnya.


"Gak usah, Pak. Terima kasih atas tawarannya." jawab Erna santai.


"Jangan marah terus sama Bapak." katanya.


"Sebaiknya Bapak jangan ganggu kehidupan Erna lagi. Erna sama ibu sudah bahagia, Bapak jangan membuat ibu sedih," tekan Erna memperingati.


"Maafkan Bapak, Nak."


"Aku pamit dulu, Pak. Angkot sudah datang." katanya sambil menyetop angkot berwarna merah itu.


"Hati hati, Nak." ujar Heri bapaknya.


Erna pergi dan langsung naik ke angkot itu dengan perasaan sedikit kacau. Huh, Bapaknya selalu saja membuatnya memikirkannya.

__ADS_1


Memang, bagaimanapun dia tetaplah Bapaknya Erna. Tetapi setelah ia lebih memilih untuk menikahi Tari, gadis itu seperti kehilangan satu penopangnya. Hanya Idah sendiri yang ada untuknya.


__ADS_2