Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 15


__ADS_3

"Apakah kamu masih tinggal bersama Idah di rumah lama kita?''


DEGH!


Pertanyaannya membuat gadis itu terkejut setengah mati. Apa maksudnya kata kita dalam ucapannya? Netranya langsung menelisik sosok lelaki itu. Saat mengetahui kenyataannya yang begitu pahit, Gadis itu tak dapat membendung air matanya.


"Apa kamu sudah mengenali Bapak?'' tanyanya menatap gadis di depannya itu.


Tangisnya seketika pecah begitu saja. Dia bukan menangis karena terharu bertemu dengan orang itu. Tetapi dia begitu marah pada lelaki di hadapannya sekarang itu.


"Erna, anak bapak, '' ucapnya menatap gadis itu sendu.


"Tidak, Anda bukan Bapakku. Bapakku mungkin saja sudah mati karena tak pernah mengabari aku dan ibu. Ia pergi dan tidak meninggalkan sedikit tanggung jawab untuk kami berdua. Jadi aku tidak lagi punya bapak,'' ucap Erna disela sela tangisannya.


"Bapak minta maaf, Nak. Sudah meninggalkan kalin begitu saja,'' ucapnya sedih.


Tak tahan berlama lama berdiri di hadapan lelaki yang mengaku bapaknya itu, Beruntungnya angkot langsung datang dan dia langsung pergi menaiki angkot itu.


"Bapak anta aja Ern,'' katanya dengan penuh harap.


"Jangan lagi muncul dihadapanku dan ibu! Lebih baik bapak pergi agar kami tak lagi sedih,'' jawabnya langsung naik ke angkot. Meski agak penuh dan sempit tetapi gadis itu tak mau menunggu angkot berikutnya. Gadis itu tak tahan melihat lelaki itu lama lama di sana. Dia merasa jika lelaki itu sudah seperti orang lain baginya. Tampilannya yang begitu mewah, mengendarai mobil bagus dan pastinya ia seorang pengusaha hebat. Sedagkan ia dan ibunya berjuang mati matian untuk mempertahankan hidup mereka. Di usir karena tidak dapat membayar tanah tempat tinggal mereka saat ini hingga sakit sakitan demi membayar hutang.


Ah, sungguh beliau tak bertanggung jawab pada mereka. Pantas saja Erna tak mengenalnya saat pertama kali bertemu. Saking berniat melupakannya, bahwa beliau itu bapaknya. Jika saja Beliau tak menyebut dirinya adalah anaknya, mungkin saja gadis itu tak akan pernah tahu.


Erna sudah tib adi depan gangnya, lalu turun dan membayar ongkosnya. Langkah kakinya begitu berat berjalan. Mana tak ada ojek lagi di sana. Huh, dia bertambah sebal dan terpaksa berjalan kaki kerumahnya.


Karena sangat haus, Ia mampir di warung julid dan membeli sebotol minuman.


"Ah, segernya,'' monolognya.


Tumben sekali warung itu sepi, kemana para ibu ibu biang julid itu? Rasanya lain juga jika gadis itu tidak melihat mereka. Mereka seperti icon kampung julid keren ini.


Sesampainya di rumahnya, Erna sangat kaget karena rumahnya tampak gelap.


"Kemana Ibu? Mengapa rumah gelap?'' tanyanya berbicara sendiri.


Erna melangkah masuk, lalu membuka sepatu dan meletakkannya di tempat biasa.


"Ibu?'' panggilnya sambil mengetuk pintu.


Krekk......


Pintu terbuka dan nampaklah ibunya di sana. Erna meraih tangannya dan langsung menyalaminya.


"Kenapa lampu gak dinyalain, Bu?" tanyanya tetapi tak ada jawaban.


Erna langsung saja menyalakan lampu di dalam rumah dan juga di teras. Seketika seluruh ruangan menjadi terang benderang. Tetapi ada yang berbeda dengan ibu. Tampilannya agak sedikit berantakan dengan mata bengkak seperti baru habis menangis.

__ADS_1


"Bu... Ibu kenapa?'' tanya Erna panik melihat ibunya dan langsung memegang tangan ibunya itu.


"Nak, apa kamu sudah bertemu bapakmu?'' ucapnya pelan.


Gadis itu terkejut mendengar ucapan sang ibu, Bagaimana ia bisa tahu?


"Ibu tahu dari mana?''


"Tadi ia menelpon ibu, Nak. Entah dari mana ia mendapat nomor ponsel kita.'' kata Ibunya.


"Terus kenapa ibu menangis? Apa ia berkata kasar ke ibu?'' tanya Erna.


Ibunya menggeleng lalu menangis lagi. Erna benar benar heran dan bingung dengan ibunya, tetapi ia membiarkan agar tenang dan bisa bercerita padanya.


"Bapakmu sudah menikah lagi Nak dan ia ingin menceraikan ibu secara resmi.'' kata Ibunya dalam isak tangisannya.


Pantas saja ibunya menangis seperti itu, pasti ibu begitu sakit hati. Erna tahu betapa ibunya sangat mencintai laki laki itu. Hingga bapaknya tak memberi kabar sampai hari itu ia pun begitu sabar dan setia.


Erna memeluk Ibunya dan berusaha untuk menenangkannya. Erna tahu itu sangat sulit buat ibunya, Bagaimana tidak Bapaknya menikah lagi dan menceraikan ibunya saat dia ada kabar.


"Jadi mau bagaimana sekarang?'' tanya Erna. "Aku benci sama bapak, Bu.'' tambahnya menahan rasa campur aduk yang ada di dalam hatinya.


"Jangan begitu Nak. Ia itu bapak kamu, Jangan membencinya, Nak.'' kata ibunya.


Beginilah ibunya, hatinya terlalu baik meski ia sudah disakiti.


Pikirannya berkecamuk, dia sangat kasihan dengan ibunya tetapi dia juga membenci bapaknya. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur, rasa capek di badannya dan pikirannya menjadi satu.


"Nak, ayok makan,'' panggil ibunya.


"Iya, Bu.'' jawabnya dari dalam semabri menatap langit langit kamarnya.


Gadis itu segera berganti pakaian lalu keluar menuju meja makan. Dia langsung menyantap makan malamnya tanpa berbicaranya dengan ibunya. Mereka makan dalam diam hingga selesai. Seperti biasa, setelah selesai makan Erna langsung mencuci piring kotor lalu langsung menuju kamarnya setelah selesai.


Tin....tinn....tin....


Dari halaman depan, Erna mendengar ada mobil masuk.


"Idah?'' panggil suara itu dari luar.


Erna bangun dan menuju kamar ibunya, tetapi ia tak ada di sana. Gadis itu melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan nampak ibunya sedang mematung di depan pintu.


"Bapak?''


Gadis itu mempersilahkan mereka masuk ke dalam karena tak enak diluar, bisa jadi para ibu ibu julid sudah mengintip saat itu.


Ibunya tak bersuara dan hanya terdengar suara tangisannya yang ditahan. Apalagi Bapaknya datang dengan wanita muda, mungkin istrinya.

__ADS_1


"Idah,'' panggil bapaknya.


"Iya Mas?'' jawab Ibu tanpa melihatnya.


"Kenalkan ini Tari istri saya,'' kata Bapaknya.


Sedangkan wanita bernama Tari itu tak menggubris ibunya sama sekali. Wajahnya tampak sombong dan angkuh. Erna tak suka kehadiran mereka disini.


"Silahkan, mau bicara apa bapak kesini? Langsung saja dan jangan bertele tele!'' cetus Erna yang tidak kuat melihat kesedihan ibunya.


Ibunya merems tangan Erna sebagai pertanda agar gadis itu harus sopan dengan bapaknya. Tetapi emosi Erna sudah memuncak.


"Idah, Saya mohon maaf sudah mengganggu kamu dan Erna. Tujuan saya kesini adalah untuk mengurus perceraian kita. Karena saya akan menikah secara sah dengan Tari.'' ucapnya dengan tak berperasaan.


"Kamu tau kan Mas Heri, perceraian sangat diharamkan agama kita,'' kata ibunya sesunggukan.


"Tapi aku tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga kita. Aku sudah punya Tari sekarang dan anak anak kami sebentar lagi bersekolah, Aku ingin menikah agar status kami jelas. Aku tak bisa menikahi Tari karena belum bercerai denganmu.'' kata Bapaknya.


Sangat geram mendengar perkataan bapaknya itu, Jika ia bukan orang tua Erna, sudah sangat pasti dia akan melayangkan tendangan tepat di mulutnya.


"Silahkan tanda tangani disini. Aku akan memberi kamu tunjangan, anggap saja nafkah yang selama ini tidak aku berikan,'' ujarnya dengan ringan dan enteng.


"Cepat tanda tangan, kami tidak punya banyak waktu,'' ucap Tari dengan ketus dan tidak sopan.


"Bu, ayo tanda tangan. Jangan sedih melepaskan lelaki macam bapak. Selama ini kita sanggup bertahan hidup tanpanya, Aku yakin kali ini kita lebih bisa.'' ucap Erna dengan penuh emosi dan hampir meneteskan air matanya tapi dia menahannya.


Erna tak menyangka, ibunya meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. Ia tak bersuara meski Erna tahu dia sedang menangis.


Bapak tersenyum melihat ibu menandatanganinya lalu ia menyodorkan sebuah amplop coklat.


"Erna, ambil ini sebagai bentuk rasa tanggung jawab bapak selama ini." ucapnya.


"Tidak, silahkan ambil kembali. Aku dan ibuku tidak membutuhkan itu semua. Kami bisa berusaha sendiri." jawabnya geram.


"Alaaa, dasar miskin! Kalau kurang bilang saja, nanti aku tambah." ujar Tari dengan songong.


"Keluar kalian sekarang juga dari sini! Jangan pernah datang lagi, Mulai detik ini aku sudah tidak punya bapak lagi!'' usir Erna pada mereka.


"Saya juga tidak ingin berlama lama disini dengan kalian." jawab wanita itu. "Mas Heri ayo kita pulang, kamu harus istirahat juga." ajaknya sama laki laki itu.


"Ya, ayo Tari, urusan kita disini sudah selesai." jawab bapaknya dengan tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun.


Heri dan istri mudanya bangkit dan pamit pergi. Ada rasa marah yang begitu sangat di hati Erna, tetapi dia takut mengungkapkannya. Setelah kepergian mereka, Erna menutup pintu dan menguncinya. Gadis itu menangis sedih karena perlakuan bapaknya terhadap ibunya.


Sedari tadi ibunya tak mengucapkan kata apapun dan hanya diam saja. Erna lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Belum sampai di kamar ibu sudah mulai lemas.


Bughh!!

__ADS_1


__ADS_2