
BRUAK!!!!
Rani begitu terlonjak dan kaget saat Rafi memukul meja.
"Besok aku akan membawamu ke Dokter. Berani ketahuan kamu hamil, Maka aku akan meninggalkan kamu Rani. Cukup sudah kamu membuatku sakit kepala selama ini. Capek aku Ran, capek. Kau udah dilarang malah semakin ngeyel. Kalo udah begini aku lepas tangan.''
Perkataan kakaknya itu membuat Rani semakin stress. Bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpa bantuan kakakkya. Rani tak bisa ngapa ngapain, hanya bisa menjadikan dirinya menjadi wanita simpanan orang kaya. Jika memang dia hamil, maka ia harus menggugurkan kandungannya itu. Rafi masuk ke dalam kamarnya meninggalkan adiknya yang masih duduk termenung. Semua perkataannya tak tak dapat lagi ia cerna dengan baik.
Rani segera menuju ke kamarnya dan melihat kalender untuk mencocokkan kapan terakhir ia datang bulan. Wanita itu bertambah stress dan lemas, karena tahu ternyata sudah dua minggu ini ia telat datang bulan. Kemungkinan terbesarnya memang ia sedang hamil.
Ahh.....
Rani menjambak rambutnya frustasi. "Kenapa aku harus hamil sih, kalo begini bisa mati aku dibenyek kak Rafi , belum lagi nyinyiran para tetangga. Baru saja aku memikirkannya aku sudah pusing tujuh keliling.'' gerutunya.
Rani langsung meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan langsung membuka internet. Wabita itu ingin mencari tahu cara menggugurkan janin yang masih sangat muda itu. Ia harus menggugurkannya agar tak menjadi beban untuk hidupnya.
Tetapi saat Rani memegang ponselnya, Ia merasa begitu pusing yang bisa ditahankan. Ia memilih berbaring di kasur menatap langit langit kamarnya karena matanya sulit untuk terpejam.
"Apa mungkin saat melakukannya bersama Mas Ara, aku kebobolanya?'' menolognya.
Rani juga tak sadar, saat itu ia memakai pengaman atau tidak. Wanita itu rajin mengkonsumsi pil kb tetapi mengapa ia masih bisa hamil?
Sebulan terakhir ini, Ia juga hanya berhubungan dengan Mas Ara saja karena ia begitu menjanjikan dan menjamin Rani. Meskipun jika kali ini ketahuan, Rani bisa dibunuh sama Istrinya. Wanita benar benar sangat pusing memikirkan kondisinya sekarang.
Rani mengusap perutnya yang masih rata. Apa harus dia lenyapkan saja janin itu atau haruskah ia gunakan untuk memaksa Mas Ara menikahinya?
Tiba tiba sebuah ide brilian melintas di kepala wanita itu. Dia tersenyum sumringah.
"Mengapa tak terpikirkan sedari tadi sih?''
__ADS_1
########
Erna dan ibunya terheran heran dengan tingkah Rani yang mengatainya bau hingga ia mual.
"Bu, kok gejala Rani mirip orang hamil ya?'' tanya Erna.
"Huss, Jangan ngomong sembarangan kamu,'' ucap ibunya sambil memungut kulit mangga.
"Tapi kok begitu amat ya, mana aku dikatain bau lagi,'' kata Erna sebal.
"Itu tandanya kamu harus mandi, Erna. Karena memang kamu udah bau,'' ujar ibunya meledek Erna.
"Ihh, Ibu bikin kesal aja,'' ucapnya cemberut.
Setelah membersihkan halaman dari sisa kulit mangga, mereka masuk ke dalam rumah. Erna langsung menuju kamarnya untuk beristirahat karena dia sudah ngantuk.
Erna membuka lebar jendelanya agar udara bisa bebas masuk. Beginilah memanng nasib jika kamar tak punya AC, ia hanya bisa mengandalkan AC alami untuk mendinginkan kamarnya.
Seusai mandi, Ia langsung ke dapur untuk membantu ibunya masak.
"Udah ada pengumumannya, Nak?'' tanya Idah.
"Belum, Bu. Tadi aku udah ngecek hape. Mungkin bentar lagi, Bu.'' jawab Erna sambil mengulek sambal.
"Ibu yakin kamu lolos, Nak.''
"Semoga ya, Bu.'' jawab Erna tersenyum, "Jahitan ibu masih banyak?''
"Emm, lumayan, Nak. Kenapa emang?''
__ADS_1
"Enggak. Erna cuma nanya kok,''
Sebenarnya dalam hati Erna, ingin membuka ibunya membuka usaha warung makan. Tetapi ia urungkan niatnya untuk membicarakan itu dan nanti saja setelah Erna mendapatkan pekerjaan. Rencananya, jika nanti dia buka warung dan sudah ramai, Ia akan mempekerjakan orang untuk bantu bantu agar ibunya tak perlu capek.
"Lamunin apa, Nak?'' tanya ibunya yang melihat Erna begong.
"Enggak kok. Ayam yang tadi siang masih ada?''
"Ada, Nak, Panasin aja. Soalnya ibu taroh di kulkas.'' jawab Ibunya.
Erna langsung mengambil ayam itu dari kulkas, ia melihat tirai depan belum ditutup. Eran melangkahkan kakinya ke ruang tamu untuk menutup tirainya. Ia melihat keluar dan mendapati rumah Rani dalam keadaan gelap gulita padahal hari sudah malam.
"Enggak biasanya tuh rumah gelap, apa gak ada orang ya?''
Setelah menutup tirai, ia langsung bergegas kebelakang untuk memanaskan ayam yang sudah diambil dari kulkas itu. Ia menata makanan di meja makan lalu mereka makan bersama.
"Rumah depan kok gelap ya,'' ujar Ibunya.
"Iya, Bu. Mungkin gak ada orang.''
"Tapi biasanya kalo keluar juga lampu teras dinyalain,''
"Atau mungkin si Rani lagi sakit, jadi gak nyalain lampu. Atau pulsa listriknya habis.'' ujar Erna.
"Iya, Nak,Kasihan juga dia,''
Setelah selesai makan, Erna langsung melakukan tugas rutinnya seperti biasa.
"Beres.'' ucapnya saat semua dapur sudah rapih dan bersih.
__ADS_1
Erna langsung ikut bergabung bersama ibunya di ruang tamu untuk menonton tv.
"Nak, ponselmu bunyi tadi,'' kata Idah.