
"Erna dipecat, Bu." jawabnya.
"Ya Tuhan, kenapa Nak? Apa kamu berbuat salah?'' tanya Idah begitu kaget dan syok.
"Enggak, Bu. Erna gak lakuin kesalahan. Tapi mungkin jodoh Erna bukan disitu. Mungkin Erna harus cari tempat lain untuk mengadu nasib." jawabnya berusaha untuk senyum.
"Cobaan apa lagi yang kita terima, Nak." kata Idah menangis.
"Bu, jangan nangis. Erna bakal berusaha mencari kerja di tempat lain," jawabnya sambil menenangkan ibunya.
"Ibu yakin selama ini kamu kerja dengan baik, hanya saja mengapa mereka sampai memecatmu?'' ujarnya sedih.
"Sebenarnya hotel itu punya mertua bapak, Bu." kata Erna pelan.
"Hah?'' Ibunya begitu kaget saat Erna mengatakan hal itu.
"Iya, Bu. Aku juga gak tahu selama ini," kata Erna.
"Terus alasan mereka memecatmu apa Nak? Keterlaluan sekali," kata Idah tidak habis pikir.
"Mungkin mereka gak suka aja sama aku, Bu. Gak masalah kok, aku bisa cari kerja di tempat lain." jawab Erna senyum sambil memegang tangan ibunya.
"Iya, Nak. Ibu bakal doakan kamu supaya cepat dapat kerjaan." jawab Idah sambil mengelus kepala Erna.
"Iya, Bu. Besok rencananya Erna mau ngantar lamaran ke salah satu tempat les. Ibu doain ya supaya Erna berhasil."
"Pasti, Nak. Ya udah sekarang kamu gak usah sedih sedih lagi. Istirahat dan siapkan semua keperluan untuk besok kamu melamar."
"Iya, Bu."
Erna memutuskan untuk tidur siang, menetralkan isi kepalanya yang sedang berkecamuk itu.
#######
__ADS_1
Gadis itu membuka matanya saat jam menunjukkan pukul lima sore. Ia tidur cukup lama. Erna meregangkan kedua tangannya lalu beranjak bangun. Ia meraih handuk dan berjalan ke kamar mandi.
Kurang lebih 20 menit dia sudah keluar dari sana.
"Bu, Erna ke warung dulu ya mau beli kertas," pamitnya.
"Hati hati, Nak." jawab Ibunya dari dapur.
Erna berjalan menuju ke warung julid dan sesampainya di sana, Ia langsung membeli apa yang dia butuhkan.
"Ngapain kamu beli kertas itu, Ern?'' tanya Nunung.
"Ada perlu aja," jawabnya sambil menerima uang kembalian dari pemilik warung.
"Kayak mau lamar kerja aja. Eh, tapi kamu kan udah kerja." ujar Nunung lagi.
"Kayaknya kamu dipecat ya, Erna?'' ujar Bu Disa.
"Dari mana dia bisa tahu?" batin Erna.
"Lah, Hotel itu kan punya mertuanya Heri. Bisa aja Erna dipecat karena mereka gak suka sama dia. Atau mungkin dia buat masalah," kata Disa dengan lancarnya.
"Benar gitu, Erna?'' tanya Mereka.
Erna yang tengah asyik makan gorengan pemilik warung merasa sangat risih.
"Bu, ini gorengan dua ribu," katanya membayar gorengan dan langsung pergi.
"Tuh kan benar, Erna dipecat gara gara bikin masalah. Aneh deh, gak ikhlasin aja bapaknya biar bisa kerja enak. Malah nyari gara gara dan dipecat. Anak jaman sekarang susah," kata Fira.
Erna terus saja berjalan menuju rumahnya. Mereka selalu saja tahu duluan. Erna yakin, sebentar lagi seiisi kampung itu bakal tahu. Itu pertanda, Erna akan menjadi topik hangat di minggu ini setiap obrolan mereka.
Hah, jadi trending satu lagi nih di kampung julid.
__ADS_1
"Loh, ini motornya Tikno." ujar Erna saat berada di depan rumahnya.
Benar saja, saat dia masuk di sana sudah ada Tikno dan Erma.
"Hey kalian, kok gak ngabarin?'' kata Erna dari pintu.
"Ern," panggil Ema.
"Kenapa? Kok sedih gitu mukanya?" kata Erna heran.
"Kok kamu gak bilang kalo kamu diberhentikan?'' tanya Ema sedih.
"Emm, aku bingung aja, Ma." jawabnya.
"Mereka yang berkuasa memang seenaknya aja pada kita," cetus Tikno yang merasa kesal dan tidak terima juga.
"Sedih aku, Na. Kita gak bareng lagi," kata Ema.
"Enggak apa apa kok. Kita masih tetap temanan." kata Erna tersenyum.
Mereka bertiga larut dalam obrolan. Temannya itu menghibur Erna dengan beberapa candaan konyol.
"Tuh kan, kamu disini? Ngapain kamu mampir ke rumah Erna?''
Mereka bertiga sangat terkejut dengan suara Tini yang memecah obrolan mereka.
"Ayo pulang, Tikno." tarik Tina.
"Tin, kamu apa apan sih? Malu tahu," tolak Tikno.
''Loh, ada apa ini ribut ribut?'' tanya Idah datang dari belakang.
"Erna, Ema, Bu. Aku pamit dulu ya," ujar Tikno keluar dari rumah Erna.
__ADS_1
"Heh Erna, jadi orang jangan kegatelan yah," tunjuk Tini padanya. ''Dasar pengangguran!'' umpatnya lagi.
"Apa kau bilang?!"