
"Apa ada pencuri Ran?'' tanya Erna panik pada Rani.
"Iya, ada yang mencuri perhiasanku. Pasti dia kak Rafi,'' ujar Rani marah.
"Loh, Emang Rafi udah jadi pencuri? Jangan ngaco kamu Ran, Dia Kakakmu,'' kata Erna membela Rafi.
"Astaga Erna, Kalung aku hilang dan aku yakin sekali yang ngambil itu kakak aku,'' kata Rani.
"Oalah, Aku kira tadi itu ia berteriak pencuri padahal ia memanggil Rafi sebagai pencuri. Ah? Apa jangan jangan....''
Erna langsung menaruh amplop coklat yang diberikan Rafi tadi padanya.
"Kamu sembuyiin apa tuh?'' tanya Rani curiga.
"Enggak,'' jawab Erna santai.
Dalam pikiran Erna, Mungkin saja Rafi mencuri kalung Rani untuk dijual dan mengganti uang pinjamannya. Kalau gitu bagus deh, sekrang Erna tak perlu repot menagih padanya. Erna langsung masuk ke dalam rumahnya dan salah satu bebannya hilang.
"Bu, ini.'' kata Erna memberikan titipin ibunya itu.
"Terima kasih, Nak.''
Erna duduk menonton TV menunggu Ibunya keluar dari kamar mandi.
"Tadi kamu sama Rani ngobrol apa di depan?'' tanya Idah sambil duduk di kursi.
"Gak ngobrolin apa apa kok, Bu. Si Rani kehilangan kalungnya dan ia menuduh Rafi sebagai pencuri,'' kata Erna tapi matanya masih fokus ke tv.
"Apa disini udah ada yang maling ya?'' tanya ibunya ngeri.
"Gak, Bu. Aku tahu si Rafi yang ngambil kalungnya Rani terus dijual. Uangnya buat dia ganti hutang Rani yang belum dikembalikan. Ini uangnya.'' kata Erna sembari menyodorkan amplop berisi udang itu pada Idah.
"Astaga, kasihan si Rafi. Biar kapok si Rani. Ibu nagih, eh dianya nge gas tak terkendali. Setidaknya sudah selesai urusan kita sama Rani.'' kata Ibunya.
"Jangan di kasih pinjam lagi, Bu.'' pinta Erna.
"Iya, Nak. Besok ibu akan menyimpannya di rekening agar lebih aman.'' dengan sigap Erna mengacungkan kedua jempolnya pada ibunya.
"Kalau si Rani tahu, pasti dia bakal ngamuk,'' kata Erna.
"Yaa kita lihat aja nanti, Nak.''
*********
Pagi hari kembali menyapa, Erna sudah siap dengan setelan kerjanya. Hari ini sangat cerah sekali, langit tampak biru membuatnya menjadi lebih semangat.
Selesai sarapan, dia langsung menyiapkan bekalnya ke dalam tas dan berpamitan sama ibunya.
"Hati hati, Nak. Cepat pulangnya,''
"Iya, Bu. Ibu juga hati hati di rumah, Ingat makannya jangan telat.'' kata Erna.
Erna begitu bersemangat hari ini, tak lupa ia menyapa semua orang yang dia temui.
"Pagi Bu Nunung,'' sapanya tersenyum.
__ADS_1
"Eh, kesambet apa kamu Ern, Pagi pagi negur ibu,'' kata Bu Nununng heran.
"Yaelah, Bu. Aku gak nunggu kesambet baru negur. Itu udah bagian dari kebiasaanku, kecuali aku lagi kesal sama ibu,'' pungkas gadis itu.
"Ada ada aja kamu, Ern. Eh, btw semalam kamu sama si Rafi ngapain tuh?'' katanya mulai kepo.
"Idiih, Ibu kepo bangat sama urusan anak muda,'' balasnya.
"Ih, Ibu serius tau.''
"Aku juga serius Bu Nunung. Yaudah, aku pergi dulu yah takutnya telat.'' katanya lalu berjalan.
Wajah Bu Nunung nampak penasaran, tetapi ia akan pasti tahu secepatnya. Pohon aja ia bisa ajak bicara demi menuntaskan kekepoannya.
Sampai di depan warung julid, Erna melihat ibu ibu yang lain sudah duduk membentuk lingkaran. Wajah mereka nampak serius mendengar obrolan dari Ibu pemilik warung. Gadis itu tak ada niat menyapa mereka karena merasa malas. Jadi ia meneruskan langkahnya secepatnya melewati warung itu.
"Eh, itu si Erna,'' teriak Bu Disa.
"Ernaaa,'' panggil mereka serentak.
"Maaf Bu Ibu, aku buru buru,'' jawabnya sembari melambaikan tangan.
"Idih sok sibuk,'' cibir Bu Fira.
"Mending sibuk kerja hasilin cuan, bukan sibuk ngomongin orang ngasilin kembung!'' balasnya sambil terus berjalan.
''Anak kurang ajar!'' umpat mereka.
"Aku tak peduli, dasar ibu ibu kurang kerjaan."
"Loh, Ema gak masuk Tik?'' tanya Erna pada Tikno.
"Gak tau, Erna. Dari tadi aku datang dia belum juga nongol.'' jawab Tikno.
Erna langsung mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelponnya tetapi nomornya tidak aktif. Ia juga tidak ijin di grup jika tidak masuk hari ini.
Hingga siang pun, Ema juga tak datang. Barangkali ia sedang sakit dan tak sempat mengabari membuat Erna sedikit kebingungan.
"Tik, nanti kita pulang, kita ke rumah Ema yuk, siapa tau dia sakit?'' ajak Erna.
"Ayuk, aku mah hayo aja Ern,'' jawab Tikno.
Saat shif mereka sudah berakhir, mereka berdua langsung menuju rumah Ema.
"Kamu tau yang mana rumahnya?'' tanya Tikno saat sudah di perkomplekan alamatnya.
"Gak tau tepatnya dimana, tapi disekitaran sini pasti. Aku pernah mengantarnya, hanya ia minta diturunkan disini.'' kata Erna sambil melihat kiri kanan.
"Ya sudah kita tanya orang orang sini aja.'' tambah Erna lalu turun dari motor.
Setahunya, Ema tinggal di daerah itu bersama budenya. Setiap mereka mau berkunjung kesini, ia memang tak pernah mau.
"Dek? Kamu tahu rumahnya Ema?'' tanya Erna kepada seorang anak yang sedang bermain bola.
"Oh, Rumahnya kak EMa yang kerja di Hotel itu ya?'' tanyanya balik.
__ADS_1
"Yess benar, Dek.'' angguk Erna senyum.
"Itu di depan sana, Pagarnya cat putih.'' tunjukknya.
"Makasih ya, Dek.''
"Sama sama, Kak. Hati hati loh, Budenya Kak Ema jahat,'' ujarnya.
Erna tersenyum menanggapi lalu memberi tahu Tikno. Mereka berdua langsung menuju kerumah yang ditunjuk oleh Anak kecil tadi. Baru saja mendekati rumah itu, Mereka berdua sudah mendengar teriakan.
"Pergi kamu dari sini Ema. Tinggal cuma nunmpang, gak bisa bantu ngasih aku uang. Pergi sana! Bawa semua barangmu!''
Erna dan Tikno saling bertatapan terkejut. Mereka berdua mendekat ke arah gerbang dan melihat seorang wanita bertubuh gemuk sedang melempar barang barang Ema ke halaman. Ema sedang sibul duduk memungutnya dan menaruh di dalam tas.
"Ema,'' panggil Erna. Ia menoleh kepada temannya itu dan terkejut.
"Heh! Kalian berdua, Ngapain berdiri di sana! Kalau mau minta sumbangan jangan disini,'' teriaknya pada Erna dan Tikno.
"Kami temannya Ema, Bu.'' jawab Erna.
"Oh, jadi Ema udah nelpon kalian buat jemput dia kemari? Dasar anak yang gak tau diuntung!'' ujarnya emosi.
Ia segera masuk dan menutup pintu dengan keras. Erna dan Tikno langsung membantu memungut barang barang Ema dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kamy sabar ya, Ma.'' ujar Tikno.
"Makasih kalian udah datang kesini. Aku boleh minta tolong gak? Tolong carikan kos buat aku,'' katanya masih senyum melihat kedua temannya itu.
"Hm, gimana kalau malam ini kamu nginap di rumahku, Ma? Di dekat rumahku ada kos juga,'' kata Erna memberi saran.
"Gak usah, Ern. Nanti yang ada malah ngerepotin kamu,'' katanya menolak dan tak enak hati.
"Gak ngerepotin sama sekali, Ma. Biar besok kita berdua cari kosan yang dekat rumahku. Jadi kita tinggalnya dekatan dan berangkatnya bisa bareng,'' kata Erna memegang tangan Ema.
"Makasih ya, Erna.'' balasnya memeluk Erna.
"Heh, belum pergi juga kalian? Jangan bikin drama disini!'' bentak Budenya Ema lagi.
"Bude, Ema pamit dulu. Terima kasih selama ini sudah mau menampung aku,'' ujar Ema.
"Jangan banyak bacot! Sana pergi pergi!'' usirnya.
Mereka bertiga langsung berjalan keluar dari rumah itu. Tikno membantu menenteng tas Ema dan Erna memesan taksi online. Para tetangga EMa menyaksikan mereka seperti Ema hendak keluar negeri saja.
"Kamu pindah, Ma?' tanya seorang Ibu yang menggendong anak.
"Iya, Bu.'' jawab Ema.
"Memang lebih baik kamu keluar dari rumah monster itu,'' ujar ibu lainnya sinis.
Mereka hanya tersenyum, sepertinya para tetangga juga tak suka dengan Budenya Ema. Setelah taksi datang, Erna dan Ema segera masuk dan pulang ke rumah Erna sementara Tikno pulang dengan motornya.
"Ern, maaf ya sudah ngerepotin.'' kata Ema masih merasa tak enakan.
"Gak masalah kok,'' jawab Erna santai.
__ADS_1