
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayana Khaira Bahari binti Bintang Bahari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai karena Allah".
Sah
Sah
Sah
"Demi matahari yang juga tidur klo malam, gue gak salah denger kan? Itu beneran Ayana Khaira Bahari bukan yang mas Gagah sebut???" Tanya Alya dalam hati, dia menepuk-nepuk kedua pipinya bergantian. "Awwww... sakit, gue gak lagi mimpi." Tanpa sadar Alya bengong sendiri di tengah keseriusan orang-orang memanjatkan doa kebahagian untuk mempelai. Entahlah, biasanya mempelai itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, ini lakinya doang yang ada. Mama Mita mencubit paha Alya agar ikut berdoa dengan khusyu'.
Setelah pak Ustadz selesai berdoa dan memberikan nasehat pernikahan, Bara langsung mengantarkan pak Ustadz pulang.
Alya sudah tidak sabar menahan rasa penasarannya.
"Mas.. om.. tante.. Alya gak salah dengar kan nama yg mas sebut tadi? Beneran itu si Aya sahabat gue, Ayana Khaira Bahari?"
"Iya, benar nak. Itu Aya, sahabat kamu, anak saya" jawab pak Bintang menjawab rasa penasaran Alya. Tentu saja pak Bintang tau bahwa Alya adalah sahabat dekat anaknya
__ADS_1
Alya geleng-geleng kepala. "Wah... gak bener ini, mas. Lo bisa mati mendadak klo ketahuan sama dia. Minimal habis lo dikulitin sampe tinggal tulang doang." Alya masih shock menyaksikan semua ini.
"Dia itu anti banget ama cowok, apalagi sama yang namanya pernikahan. Mas..mas..berani banget lo mengakhiri masa kejombloannya. By the way, mas udah tau kan orangnya?"
Arga menggeleng, seketika semua persendiannya terasa meluruh, lemes. "Kenyataan apalagi ini? Gue fikir cerita pak Bintang tadi hanya buat ngetes keseriusan komitmen gue, ah..rupanya.. apa dia sesulit itu? Ini gue nikah sama cewek apa singa betina sih?" Arga bermonolog di dalam hatinya.
"Ituloh yang rawat kaki mas yang terkilir kemarin di rumah, si Aya." Jelas Alya.
"MasyaaAllah.. maksud kamu dokter Aya? Jadi dia anak Farah, pantas saja ibu merasa familiar dengan wajahnya." Ibu Andini menanggapi.
"Iya tante, dokter Aya yang cantik dan menantuable itu sekarang sudah sah menjadi menantu tante." jawab Alya penuh penekanan.
Alya masih tidak habis fikir, bagaimana bisa ide gila pernikahan ini terlaksana. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aya saat mengetahui ini. Aya begitu membenci Ayahnya tapi dengan egoisnya lagi-lagi ayahnya membuat kekacauan seperti ini.
"Kamu tenang aja, Al. Apa kamu mulai meragukan pesona mas mu ini?" Seloroh Arga dengan penuh percaya diri.
"Pede banget lo, mas. Aya itu beda. Dokter terkeren, terganteng dan terkaya di Rumah Sakit tempat kami kerja aja ditolaknya mentah-mentah. Selamat berjuang deh, mas. Semoga Allah meridhoi langkah perjuanganmu!" Alya melebarkan senyum manisnya sambil menepuk-nepuk punggung Arga. "Semangat!!!"
__ADS_1
"Percaya deh sama mas. Bentar lagi sahabatmu itu bucin akut. Hahaha..."
"Kita lihat saja, dia yang bucin duluan atau malah mas yang bucin duluan".
"Ok, tunggu tanggal mainnya. Deal!!!"
"Deal". Alya menyambut tangan Arga dengan senyum meremehkan.
Alya sadar betul, perjuangan mas Arga tidak akan mudah. Tentu dia akan membantu Arga, bagaimanapun Alya sangat bahagia mengetahui sahabat terbaiknya menikah dengan lelaki terbaik seperti mas Arga. Bukannya sudah lama ia memang ingin menjodohkan mereka berdua. Sekarang seharusnya semua menjadi lebih mudah baginya untuk menyatukan mereka karena mereka sudah terikat dalam pernikahan, tepatnya terjebak pernikahan.
Kedua orang tua Arga patut bernafas lega saat ini, Arga sudah menikah, perempuan yang dinikahinya adalah anak sahabatnya sendiri dan ternyata perempuan itu tidak lain adalah sahabat Alya yang juga baru mereka kenal kemarin. Mereka sangat terkesan dengan Aya saat mengobati kaki Arga, dan sekarang takdir membawa gadis itu masuk ke kehidupan mereka. Satu urusan besar kini sudah tuntas.
Arga sendiri sekarang merasa tertantang, belum pernah ia sepenasaran seperti ini pada seorang gadis. Tidak ada salahnya ia kini mengejar-ngejar cinta seorang perempuan, toh perempuan itu adalah istrinya sendiri. Jika harus merendahkan sedikit harga dirinya, rasanya tak mengapa. Ia bisa memahami sikap istrinya. Jika dia yang ada di posisi istrinya, dia pun mungkin akan mengambil sikap yang sama.
"Cieee... istri." Ejeknya dalam hati. Arga membayangkan dirinya kini sudah memiliki istri membuat jantungnya berdetak kencang. Arga menggeleng mencoba menepis isi fikirannya saat ini.
Dia masih ingat sorot mata dan sentuhan tangan gadis itu, semuanya masih terekam jelas di otak cerdasnya. Gadis dingin, cuek, datar hampir tanpa ekspresi.
__ADS_1
Setelah ini, mungkin dia harus segera memikirkan cara untuk memulai perjuangan mengambil hati gadis itu.
×××××