
Matahari pagi mulai meninggi, suara kicauan burung bersahutan terdengar lekat di telinga. Sayup-sayup terdengar suara kendaraan berlalu lalang dari kejauhan. Menandakan kehidupan pagi telah dimulai kembali.
Aya tersadar dari tidur lelahnya, matanya masih sulit terbuka, ia merapatkan pelukannya pada sesuatu yang ia anggap guling. Ia merasakan silau dan hangat sinar matahari menerpa wajahnya dari balik tirai jendela.
Badannya terasa naik turun, pipinya terasa hangat, bukan hanya pipi bagian atas, pipi bagian bawahnya pun juga terasa hangat, ada deru nafas yang berhembus teratur meniup wajahnya.
Susah payah Aya memaksa matanya terbuka, ada wajah Arga yang menempel di salah satu sisi pipinya. Ia mengangkat kepalanya, bertumpu pada siku sisi kirinya, memandang lekat dari jarak yang sangat dekat wajah Arga yang masih tertidur pulas. Hidung mancung, imut, kelihatan pas dengan bentuk wajahnya. Bibirnya tipis, sedikit kemerahan khas laki-laki bukan perokok, rahangnya tegas ditumbuhi bulu-bulu tipis yang sepertinya belum sempat dicukur, dan alisnya yang tebal semakin menegaskan kesempurnaannya.
Aya seperti terhipnotis memandang wajah Arga, ia melupakan dadanya yang bersandar di atas dada Arga, satu tangan dan kakinya juga masih melingkupi tubuh Arga. Ia terbuai dengan kesempurnaan yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba kepala Arga terangkat menyambar satu kecupan dari bibir Aya. Aya terkesiap dari lamunannya.
"Morning kiss!" Senyum Arga terbit cerah melebihi cerahnya matahari pagi ini. Tubuh Aya menegang, semu merah melingkupi wajahnya. Ia tertangkap basah sedang mengagumi ketampanan Arga.
"Udah selesai kegiatan mengaguminya? Atau masih mau dilanjut?"
Kesadaran Aya sudah sempurna kembali, ia langsung menarik tubuhnya dan berdiri.
"Aawwwww." Arga meringis kesakitan menekuk tubuhnya sambil memegang selangkangannya, tadi lutut Aya bertumpu di sana saat hendak berdiri.
"Aduh..maaf mas..maaf! Aya tidak sengaja." Mau tidak mau Aya duduk kembali di atas kasur mendekati Arga yang masih meringis kesakitan.
"Jahat kamu, yang! Ini belum kamu un-boxing tapi udah disakiti duluan." Ucap Arga menunjuk ke area bawahnya.
Aya nyengir, merasa lucu melihat Arga yang masih bersungut-sungut menahan rasa sakitnya.
"Kok malah senyum-senyum sih, Ya? Ini aset paling berharga loh, ini nilainya gak sebanding dengan semua kartu ajaib kamu itu!" Sungut Arga lagi pura-pura marah.
"Iya..iya.. maaf. Udah, bangun yuk! Kita kesiangan ini, subuh udah lewat."
"Astaghfirullah!" Arga bergegas bangun namun sejenak ia menahan gerakannya, tubuhnya masih terasa sedikit lemah dan kepalanya juga masih terasa pusing. Ia hampir terhuyung jatuh, namun tubuhnya cepat ditopang Aya.
"Mas mau kemana?"
"Wudhu, ayok sholat!"
__ADS_1
"Tapi ini sudah lewat jam 6 pagi, mas."
"Gak papa, kan kita gak sengaja bangun kesiangan, jadi subuhannya tetap wajib. Bantu mas ambil wudhu." Aya segera memapah tubuh Arga ke kamar mandi dan melaksanakan kewajiban mereka pada Tuhannya pagi ini.
*****
Aya menyiapkan sarapan dibantu oleh bu Minah, sengaja ia pilih menu soto ayam agar makanannya berkuah, cocok untuk menyegarkan dan menghangatkan tubuh yang meskipun matahari sudah bersinar panas, namun udara Puncak di pagi hari tetaplah terasa dingin.
Lala menghampiri mereka dengan muka bantalnya, semalam ia juga ikut begadang menjaga Arga hingga jam satu ia meninggalkan Arga dan Aya di kamarnya.
"Hoaaaaammm." Lala menguap panjang, mengeluarkan suara yang kurang sopan didengar telinga.
"Astaghfirullah, istighfar non Lala. Gak boleh menguap bersuara gitu! Mulutnya ditutup juga, entar lalat ketelan loh." Tegur bu Minah mengingatkan Lala.
"Emang napa, bu?" Tanya Lala cuek lalu mencubit ayam suir yang dibuat bu Minah ke dalam mulutnya.
"Setan suka kalau menguapnya bersuara seperti Lala tadi. Itu setannya udah tertawa terbahak-bahak di dalam perut non Lala." Spontan Lala menutup mulutnya dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya memegang perutnya. Matanya membola.
"Jadi gimana dong, bu?"
"Istigfar."
Aya dan bu Minah tertawa melihat kepolosan Lala yang masih seperti anak kecil.
"Coba Lala ambil mangkok di lemari sana, sekalian makanannya dihidangkan di meja makan." Aya mengalihkan perhatian Lala dari kesibukannya menghabiskan ayam suir, ini tidak bisa dibiarkan, nanti sotonya tinggal kuah kalau Lala terus mengunyah di situ.
Tanpa protes, Lala langsung bergegas menyiapkan persiapan sarapan mereka. Aya mematikan kompor dan mengangkat kuah sotonya ke meja makan.
Aya membawa nampan dari dapur, ia mengambil seporsi soto, segelas air hangat dan ramuan jahe madu yang mesih terlihat mengepul lalu diletakkan di atas nampan.
"Mas Arga gimana, kak?" Tanya Lala sembari menyendok soto ke mangkuknya dengan semangat.
"Dia udah mendingan, hanya tinggal sedikit pusing aja. Kamu gak papa kan sarapan di sini sama bu Mimah? Aku mau bawa makanan dulu buat mas Arga."
"Iya kakak ipar, mas Arga first, always!" Ucap Lala mengedipkan satu matanya ke Aya. Aya hanya menggeleng lalu membawa nampannya ke kamar.
__ADS_1
Aya masuk ke kamar dan mendapati Arga masih terbaring memunggungi pintu. Aya meletakkan nampan di atas nakas. Ia duduk di tempat tidur lalu menggoyang sedikit tubuh Arga.
"Mas.. Mas Arga, bangun. Sarapan dulu." Panggilnya lembut di dekat telinga Arga.
Arga menggeliat meregangkan seluruh otot-ototnya. Ia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya menyisakan kaos oblong tipis dan celana boxer yang nampak kekecilan untuk ukurannya.
"Eemmm.. bikin apa? Aromanya segar banget."
"Ini aku buatin soto, ayo makan." Aya bangkit dari tempat tidur lalu menggeser sebuah kursi agar lebih dekat dengan sisi tempat tidur.
Aya mengambilkan ramuan jahe terlebih dahulu. "Ini diminum dulu, hati-hati, masih panas!"
"Makasih." Ucap Arga tulus dengan seulas senyum manis khasnya.
"Bisa makan sendiri atau mau aku suapin?" Mengabaikan ucapan terima kasih Arga, Aya menyodorkan mangkuk soto padanya.
"Suapin dong!" Ucap Arga antusias.
Aya pun menyuapi Arga dengan telaten hingga tidak terasa semangkuk soto sudah dihabiskannya.
"Eeekkkk..Alhamdulillah." Arga sendawa.
"Terima kasih yah istriku, Aya sayangnya Arga." Senyum Arga merekah, ia sangat bahagia dilayani Aya seperti ini. Perfect!
Blush..
Muka Aya memerah, ah.. Aya menggerutu di dalam hatinya, masih saja jantungnya tidak bisa diajak berkompromi di saat-saat seperti ini.
"Iya, sama-sama suami gantengnya Aya!" Balas Aya lalu berlari keluar kamar sampai lupa membawa piring kotor Arga.
Aya merutuki bibir bodohnya yang tidak singkron dengan otaknya. Entah karena terbawa suasana atau bagaimana sampai ia keceplosan ngomong seperti itu di depan Arga. Aya berjalan cepat masuk ke kamar mandi dekat dapur, mengabaikan teguran Lala dan bu Minah yang memanggilnya.
Malu..
Aya sangat malu saat ini, mau ditaruh dimana mukanya saat ketemu Arga nanti?
__ADS_1
Bagaimana sekarang? Aya benar-benar berhasil mempermalukan dirinya sendiri.
×××××