Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Alya Tegang


__ADS_3

Akhirnya, hari yang ditunggu datang juga. Pagi ini Aya akan berlibur ke puncak bersama Alya dan Fira. Awalnya Alya menolak ikut karena tidak ingin meninggalkan Alif sendiri di rumah, tapi Aya memaksa. Aya mengancam tidak mau lagi bertemu dengannya hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan. Mau tidak mau Alya terpaksa ikut dengan syarat hanya 3 hari. Aya pun setuju. Sebenarnya Aya juga merasa tidak enak sama Alif, tapi ini adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan rasa penasarannya.


Sementata Fira, jangan ditanya lagi. Apa pun akan ia lakukan agar ibu boss nya itu senang. Fira masih sayang dengan pekerjaannya. Meskipun ia tau kalau gertakan Aya hanya sekedar menggertak sambal, tapi bagaimana pun ia dengan senang hati menemaninya berlibur. Kapan lagi dikasi cuti dan dikasi liburan gratis.


Hari ini hari minggu, jadi Arga di rumah saja. Sebenarnya ia ingin mengantar Aya, tapi Aya menolak keras. Arga hanya bisa pasrah, ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya.


Aya sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya ke koper. Arga duduk di tepi tempat tidur mengamati kegiatan Aya.


"Nggak usah banyak-banyak bawaannya, Ya! Ini mau liburan apa pindahan rumah?" Tegur Arga melihat sebuah koper besar sudah terisi penuh dengan perlengkapan Aya.


"Gak papa mas, kali aja nanti ijin perpanjangan liburannya di ACC (Accepted) sama bosnya Fira."


Mendengar jawaban Aya seketika Arga punya ide. Ia pun tersenyum licik. Namun buru-buru ia pasang muka datar lagi, takut ketahuan Aya.


"Dengar-dengar yah, bosnya Fira itu orangnya baik, ganteng, sholeh dan cinta sama istrinya. Kalau kamu minta perpanjangan ijin, 99,9% aku yakin diterima." Ucap Arga percaya diri.


Aya berdecak sambil menggeleng kepalanya, "PD banget!" Ucap Aya sinis.


Tok tok tok


Belum dipersilahkan masuk Alya sudah nyelonong masuk kamar.


"Permisi dulu kek, ini main masuk aja!" Arga kesal melihat adik sepupu kesayangannya itu masuk kamar seenaknya.


Alya tidak peduli protes Arga malah langsung pergi memeluk Aya. "Kangennnnnnn."


Alya mempererat pelukannya sejenak lalu mengurainya dengan mundur satu langkah ke belakang. Alya menatap Aya menyelidik.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Aya merasa aneh dengan kelakuan Alya.


"Lo kok gemukan, udah isi yah?" Tanya Aya curiga.


"Iya, udah isi. Isi angin." Jawab Aya kesal dengan mata melotot ke Alya.


"Mana ada hamil, orang belum diapa-apain juga sama Arga." Sambung Aya dalam hati.


"Yeee..ditanya malah ngegas." Ucap Alya sebal.


"Lo sih nanya-nanya gitu." Kali ini Aya merasa kesal, kecurigaan Alya menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Wajar dong, kan lo udah punya suami. Kecuali kalau lo belum nikah, ya pasti gua tanya kapan nikah. Kan gak mungkin nanya kapan mati!" Alya merepet tak jelas.


"Udah-udah, dari tadi debat mulu, katanya kangen, ini kalian malah sibuk debat." Arga berusaha menengahi. Bagian seperti ini yang paling membuat Arga malas sama makhluk yang bernama perempuan, hal kecil bisa jadi panjang kali lebar kalau udah debat.


"Mas Arga keluar gih, ini urusan perempuan tau." Usir Alya merasa terganggu dengan Arga yang masih bertahan di dalam kamar.


"Apa kamu gak kasihan sama mas mu ini? Mas bakal ditinggal selama seminggu loh, se ming gu!!!" Ucap Arga memperjelas.


"Terus?" Tanya Alya bodoh.


"Ya harusnya mas bisa lama-lama berduaan dulu sama Aya. Ini kamu ganggu banget tau. Orang aku pengen bikin perpisahan yang berkesan dan tak terlupakan yang bisa bikin Aya gak bisa lama-lama jauh dari aku. Kamu ini macam gak ngerti aja perasaan orang yang lagi jatuh cinta." Kesal Arga.


"Santai aja Al, gak usah peduliin dia." Ucap Aya membela Alya.


"Kok gitu sih, sayang? Masa' mau tinggalin suami gak ada acara pamit-pamitan berkesan gitu?" Ucap Arga memelas.

__ADS_1


Alya tertawa keras demi melihat wajah Arga yang begitu berharap sama Aya.


"Ah, kasihan mas Arga dapat istri yang gak peka pake banget!" Alya kembali tertawa meledek Arga.


"Udah deh, mas keluar dulu sekarang. Aya mau siap-siap nih." Usir Aya pada Arga yang membuat Arga segera keluar kamar dengan hati dongkol.


"Lo tega banget sih sama mas Gagah, kasihan loh. Udah cinta mati sama lo tapi lonya cuek banget."


"Trus, mau lo gue gimana? Mau sayang-sayangan gitu?" Tanya Aya sambil mengambil pakaiannya di lemari.


"Ya memang seharusnya begitu. Tapi karena ini lo, jadi bolehlah dapat kompensasi. Minimal, suaminya dikasi perhatian dikit gitu loh."


"Kan tiap orang beda Al, lagian gue masih butuh waktu untuk mencerna semua ini. Setiap pagi datang, gue mesti mengingatkan diri kalau ini bukan mimpi, lo gak ngerti Al." Ucap Aya sedikit frustasi.


"Maaf! Maaf kalau kami terlalu banyak menuntut lo." Alya memeluk Aya, ia merasa bersalah juga merasa iba pada sahabatnya yang sekarang jadi saudara iparnya ini.


Tanpa terasa tetesan bening jatuh begitu saja membasahi pipi Aya.


"Gak papa Al, ini memang berat tapi di sisi lain gue bersyukur banget karena orang itu adalah mas Arga. Setidaknya dia gak pernah maksain kehendaknya. Dia baik banget Al, ayah, ibu juga. Gue takut menyakiti mereka. Mereka terlalu baik sama gue, mereka berharap segera dapat cucu tapi gue rasanya itu masih jauh, Al. Gue belum bisa!" Aya tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya di depan Alya.


"Husss.. ucapan mereka jangan dijadikan beban. Lo tau sendiri kan bagaimana sayangnya tante Andini dan om Hutama sama lo? Andai lo sendal jepit sekalipun, mereka akan tetap sayang sama lo, karena itu lo, Ya. Anak sahabat terbaik mereka. Mas Arga juga gitu, dia sayang banget sama lo. Lo itu cinta pertamanya loh. Buat mas Arga, yang pertama itu hanya sekali. Jadi apapun kondisi lo, mas Arga gak akan pernah lepasin lo. Dia pasti akan menunggu sampe lo siap. Pegang kata-kata gue." Nasehat Alya  panjang lebar meyakinkan Aya agar tidak terbebani dengan pernikahannya dan yakin bahwa Arga dan keluarganya sangat menyayanginya.


"Makasih banyak yah Al, lo juga udah begitu baik sama gue selama ini." Ucapnya tulus.


"Tapi.. lo juga hutang penjelasan ke gue, pokoknya nanti kalo udah nyampe puncak, lo sediakan memang dari sekarang jawaban yang paling masuk akal kenapa lo sembunyiin ini dari gue dan termasuk kejadian di kamar hotel saat lo nikah. Asal lo tau aja, gue mulai curiga, ada yang gak beres dengan kejadian itu." Aya menodong Alya membuat Alya susah payah menelan salivanya, ia sudah tegang.


"Mampus gue! Apa gue pura-pura sakit aja biar gak dibredel sama Aya nanti di puncak?" Ucap Alya dalam hati. Sepertinya Alya akan berfikir ulang ikut liburan kali ini.

__ADS_1


×××××


__ADS_2