Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Mencintai Tanpa Dicintai


__ADS_3

Aya membuka matanya, ia berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan terangnya cahaya lampu di kamar itu. Yang pertama dilihatnya adalah wajah Arga, lalu wajah ibu Andini dan kemudian ayah Hutama. Tiga orang itu menyunggingkan senyum hangat kepadanya.


Aya memegang kepalanya karena masih merasa pusing, ia mengerutkan keningnya karena baru menyadari sesuatu.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanyanya lemah. Beginilah Aya, setiap kali ia merasa tertekan pasti ia akan pingsan. Ia bangun lalu bersandar di kepala ranjang.


Sekarang pakaiannya sudah berganti menjadi piyama tidur, tak ada jilbab menutupi kepalanya. Ah, Arga adalah suaminya dan ayah Hutama adalah mertuanya, mereka berdua sudah menjadi mahramnya, tak mengapa melihat aurat Aya.


"Belum begitu lama, tapi sudah cukup membuat tulang ayah rasanya mau copot semua." Ucap ayah Hutama tersenyum, ia mengeluh karena sedari tadi duduk di sisi ranjang menunggu Aya tersadar.


Aya hanya menggeleng menanggapi gurauan ayah Hutama. Sementara Arga hanya diam memandang lekat pada Aya.


"Kamu udah baikan? Sholat dulu yah, ini udah maghrib, sebentar lagi waktunya habis." Ucap ibu Andini lembut. Aya mengangguk.


"Kamu sholat dulu, tenangkan fikiran kamu. Setelah itu ayah mau bicara sama kamu, oke!" Ucap ayah Hutama menatap lembut kepada Aya. Lagi-lagi Aya hanya mengangguk.


Dengan gerakan cepat Arga bangkit lalu menggendong Aya ke dalam pangkuannya menuju kamar mandi. Sontak membuat Aya kaget, Aya protes, berusaha melepaskan diri dari dekapan Arga, tapi ia kalah tenaga. Tidak kehabisan akal, Aya mencubit keras legan Arga, tapi Arga tidak peduli.


"Buka pintu kamar mandinya, atau kamu mau aku gendong lebih lama lagi?" Ucap Arga dengan nada memerintah.


"What? Ini laki bener-bener deh, apa dia tidak tau kalau aku lagi marah besar sama dia?" Lagi-lagi kata-kata itu hanya diucapkan Aya di dalam hati.


Aya membuka pintu kemudian Arga meletakkan Aya di atas closet.


"Keluar!" Usir Aya memilih melihat ke arah lain.


Tanpa berkata apa-apa Arga keluar dari kamar mandi dan menutup rapat pintunya.


Sebelum berwudhu, Aya terlebih dahulu buang air kecil, sebenarnya sudah dari tadi ia kebelet. Ini melegakan.


Aya keluar dari kamar mandi dan mendapati Arga duduk di sisi ranjang. Aya memilih tidak peduli dan langsung sholat maghrib. Setelah sholat maghrib ia lanjut meng-qhoda sholat Asar yang tadi ia lewatkan.


Sayup-sayup terdengar suara adzan isya dari kejauhan berkumandang. Setelah adzan selesai, Arga berdiri menghampiri Aya yang masih duduk di sajadahnya.

__ADS_1


"Kita sholat berjamaah." Ucap Arga langsung menggelar sajadah di hadapan Aya. Aya pun berdiri dan menarik sedikit sajadahnya ke belakang agar posisinya tidak sejajar dengan Arga.


Selesai salam, Arga membalik tubuhnya menghadap Aya lalu mengucapkan zikir dan doa. Aya mengikuti ucapan Arga dengan terus menunduk. Tak terasa ada cairan bening menetes dari kedua ujung bola matanya.


Setelah Arga menutup doanya, ia memberikan tangan kanannya kepada Aya. Aya yang masih tertunduk seketika menyadari ada tangan Arga tepat di hadapan wajahnya yang mungkin hanya berjarak 2 inchi. Aya mengangkat wajahnya menatap Arga tajam.


Arga mengangguk menunjuk tangan kanannya melalui kode mata. Karena Aya malas berdebat, Aya pun mengambil tangan Arga lalu menempelkannya di dahinya.


Arga lalu menarik tangan Aya ke tubuhnya, tangan kirinya yang bebas ia gunakan untuk menahan tubuh Aya dari belakang. Arga mencium ubun-ubun Aya, cukup lama baru ia melepasnya. Aya tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia sesegukan. Dan sesegukannya semakin menjadi saat kedua tangan Arga menghapus air mata Aya kemudian menarik Aya masuk ke dalam pelukannya.


"Aku benci mas Arga." Ucap Aya disela tangisnya. Tangannya memukul-mukul dada Arga tapi Arga malah mempererat pelukannya.


"Kamu boleh membenci mas, tapi jangan terlalu lama. Nanti bencinya berubah jadi cinta." Ucap Arga tersenyum.


Aya berusaha melepaskan diri dari pelukan Arga, tapi tidak bisa. Akhirnya Aya mencubit pingggang Arga.


"Awww... sakit sayang, aduh.. sakit. Sayang lepas!" Arga mengadu kesakitan tapi masih bertahan memeluk Aya.


"Lepasin pelukan mas Arga, atau Aya tidak akan berhenti cubit mas!"


"Awwww...awwww.. aduh..aduh.. yang, sakit!"


"Makanya, lepasin!"


"MasyaaAllah...mesranya," tiba-tiba ayah dan ibunya masuk kamar. Sontak Arga dan Aya berdiri, mereka berdua terlihat salah tingkah.


"Kalau mesra-mesraan, jangan lupa pintunya dikunci." Ucap ayah Hutama menatap Arga dengan senyum liciknya.


Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malu juga kepergok begini. Padahal kan sama istri sendiri.


"Kita turun makan malam dulu, setelah itu baru kita bicara." Ucap ayah Hutama kepada Aya lalu berjalan keluar kamar diikuti ibu Andini.


Aya melipat mukenahnya kemudian melipat kedua sajadah yang tadi dipakainya bersama Arga. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah jilbab rumah di dalamnya dan langsung dipakainya.

__ADS_1


"Kok pake jilbab?" Protes Arga karena ini masih di dalam kamar mereka.


"Memangnya kamu suka melihat aurat istrimu dilihat sama sopir ayahmu?" Tanya balik Aya sewot.


Senyum Arga merekah.


"Jadi kamu sekarang sudah mengakui hubungan kita?" Arga malah menggoda Aya.


"Andai aku bisa, sekarang juga aku akan menceraikan kamu." Jawab Aya ketus dan berlalu keluar kamar.


Deg...


Arga berdiri mematung demi mendengar ucapan Aya barusan. Sakit! Itulah yang dirasakan Arga saat ini. Apa sesakit ini rasanya mencintai tanpa dicintai?


*****


Arga menghampiri mereka di meja makan setelah beberapa saat ia menenangkan gemuruh di hatinya. Ia tidak bisa menyembunyikan raut kesedihan yang menggantung di wajahnya. Tak berbeda dengan Aya, kondisinya pun sama mengenaskannya.


Ayah Hutama dan ibu Andini memilih diam dan mengabaikan pemandangan tersebut. Mereka semua fokus menyelesaikan makan malamnya.


Arga berdiri hendak meninggalkan meja makan. Ia merasa sudah tidak tahan lagi kehadirannya diabaikan Aya sejak tadi.


"Mau kemana?" Tanya ayahnya menghentikan langkahnya.


"Ada pekerjaan sedikit, tadi Arga lupa selesaikan." Jawab Arga tanpa menoleh ke ayahnya.


"Ngomong sama orang tua yang sopan sedikit anak muda, tatap wajahnya." Ucap ayahnya geram. Ia sadar ada masalah diantara mereka berdua, tapi ia tidak suka melihat sikap Arga saat ini yang seperti sudah kehilangan semangat.


Arga berbalik menatap ayahnya. Matanya kini memerah. "Maaf." Ucap Arga singkat lalu menundukkan kepalanya. Ia kini nampak seperti anak kecil kepergok ayahnya habis melakukan kesalahan besar.


Aya yang menyaksikan pemandangan di depannya ini cukup terkejut melihat sikap Arga yang begitu penurut di hadapan ayahnya. Ia fikir Arga akan balik melawan ayahnya, tapi tidak. Aya merasa bersalah, mungkin ucapannya tadi begitu melukai perasaan Arga.


"Tunggu kami di ruang keluarga." Perintah ayahnya tegas. Arga hanya mengangguk dan berjalan lesu menuju ruang keluarga.

__ADS_1


Saat ini hatinya sedang terguncang. Ucapan Aya tadi dianggapnya sebagai sebuah penolakan. Ah, apakah ini yang dinamakan patah hati? Rasanya baru kemarin hatinya meluap-luap bahagianya karena merasakan jatuh cinta. Tapi sekarang kondisinya berbeda. Rupanya Arga tidak siap dengan penolakan. Hatinya hancur, remuk, dadanya terasa seperti diremas, bolehkah Arga menangis saat ini?


×××××


__ADS_2