
Jenazah kini dibawa ke rumah duka. Mengikuti amanah dari Almarhum melalui Bara, sekertaris merangkap sopir pribadinya itu. Semuanya sudah di atur oleh Bara. Jauh sebelum pak Bintang menemui ajalnya, beliau sudah lama memberikan wasiatnya kepada pengacara kepercayaannya dan juga beberapa amanah lain yang dipercayakannya kepada beberapa orang salah satunya adalah Bara, termasuk untuk urusan pemakamannya saat meninggal.
Beliau tidak ingin merepotkan siapapun, termasuk anaknya. Beliau tidak ingin membebani keluarga yang ditinggalkannya dengan berbagai keruwetan mengurus jenazahnya.
Rencananya jenazah akan dimakamkan saat pagi hari.
Aya ikut ke rumah duka bersama keluarga Arga yang terus mendampinginya. Ada sedikit perasaan canggung saat Aya memasuki rumah ayahnya itu. Ini adalah rumah ayahnya tapi ini juga adalah pertama kali baginya menginjakkan kaki di sini. Ia sendiri sudah tidak tau bagaimana kabar rumah yang dulu ia tempati semasa ibunya masih hidup.
Bara meminta art di rumah tersebut mengantar Aya ke kamarnya. Tentu saja ayahnya menyiapkan sebuah kamar di rumah besar itu untuknya meskipun beliau tidak pernah tau apakah putrinya itu akan memakai kamarnya atau tidak. Tetapi, kamar itu tiap hari dibersihkan. Ada sebuah keyakinan bahwa suatu saat Aya akan menempati kamar tersebut.
Alya mendekati Aya yang sedari tadi hanya duduk di kasur dengan tatapan kosongnya.
"Lo gak papa kan, Ya?" Tanya Alya memecah lamunan Aya. Ia menggeleng!
Aya beranjak masuk ke kamar mandi, dia belum melaksanakan sholat Isya sementara sekarang sudah pukul 1 dini hari. Ia sangat lelah hari ini, kejadian yang baru saja dialaminya seperti mimpi, sayangnya itu nyata bukan mimpi.
Setelah sholat, Aya membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia ikut masuk ke dalam selimut. Alya yang sudah sempat kehilangan kesadarannya terbangun karena pergerakan Aya. Alya menarik Aya ke dalam pelukannya. Lagi-lagi air matanya mengalir deras, ia menangis tanpa suara. Tak lama kemudian mereka pun terlelap.
*****
Kurang dari jam 10 pagi jenazah sudah tiba di pemakaman. Tak banyak yang hadir karena memang pemakaman dilaksanakan secara tertutup. Itu permintaan Aya sendiri karena setaunya ayahnya hanya memiliki 2 saudara kandung itu pun mereka sangat jarang berinteraksi dikarenakan masalah keluarga.
__ADS_1
Bara yang mengerti seluk beluk keluarga pak Bintang meng-aamiini kemauan Aya tersebut. Tanpa diminta pun Bara memang akan melaksanakannya secara tertutup, cukup mengabari kedua saudara pak Bintang dan beberapa tetangga yang cukup dekat dengan pak Bintang di kompleks perumahannya.
Arga dan Alya beserta kedua orang tua mereka juga hadir di pemakaman. Alya diminta Arga untuk selalu setia berada di dekat Aya, tanpa diminta oleh Arga pun Alya pasti akan melakukannya.
Dua orang saudara pak Bintang juga hadir, terlihat om Dino dan tante Maya beserta keluarga mereka di sana. Mereka menyapa Aya sekedarnya, toh selama ini mereka selalu menunjukkan rasa bencinya kepada Aya dan ibunya. Lagian Aya juga sudah tidak punya energi untuk berbasa basi dengan siapapun saat ini.
Selain mereka, orang-orang kepercayaan pak Bintang juga hadir di sana termasuk beberapa petinggi di Perusahaannya dan juga dokter yang selama ini menangani kesehatannya.
Seseorang datang memeluk Aya dengan tangis sesegukan. Dialah tante Maya, adik bungsu Ayahnya. Aya membalas pelukannya, rasanya air mata Aya sudah habis. Ia hanya terus diam merespon semua pelukan dari orang-orang yang ingin menguatkannya sambil sesekali ikut balas menepuk-nepuk pundaknya. Aya hanya ingin mengabarkqn ke mereka bahwa Aya baik-baik saja.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Fira, tetangga sebelah unit apartemen yang cukup dekat dengannya. Sebenarnya Aya kaget melihat kehadirannya di sini, tapi lagi-lagi Aya sudah tidak punya energi untuk sekedar bertanya apalagi memikirkannya.
Begitupun dengan tante Maya yang tadi juga sempat mengajaknya pulang, namun Aya bergeming.
Aya masih duduk termangu di antara pusara kedua orang tuanya, sebagaimana amanah ayahnya, beliau ingin dimakamkan berdampingan dengan istrinya.
Sekarang Aya baru sadar, ia kini benar-benar sudah kehilangan kedua orang tuanya.
Dulu, sejak dari kecil dia ingin menjadi seorang dokter karena ingin merawat kedua orang tuanya di saat mereka sakit. Kenyataannya, sekarang dia sudah menjadi dokter akan tetapi sekalipun ia tidak punya kesempatan lagi untuk merawat orang tuanya. Ironis bukan?
Akhirnya, tangisnya kembali pecah. Arga yang sudah tidak tahan melihat kesedihan Aya berusaha menenangkannya dengan merangkul dan mengelus lembut pundaknya, ia membawa Aya bersandar di dadanya.
__ADS_1
"Menangislah.. puasin nangisnya sekarang karena besok dan seterusnya aku gak mau melihat kamu menangis seperti ini lagi."
Tangis Aya semakin pecah, air mata dan ingusnya sudah membasahi kemeja hitam Arga. Namun Aya tidak peduli lagi, ia ingin sedikit egois pada egonya sendiri. Selama ini ia selalu berusaha tampil kuat tanpa bergantung kepada siapapun. Tapi kali ini, biarlah ia menunjukkan sisi kerapuhannya. Ia lemah, ia butuh sandaran hati, hidupnya terlalu sunyi setelah sekian lama.
Setelah puas menangis, Aya membacakan doa untuk kedua orang tuanya.
"Ayah.. maafin Aya! Ibu.. sekarang ibu sudah bisa bertemu kembali dengan ayah. Semoga kalian baik-baik saja di sana. Aya pulang!"
Aya berdiri lalu berjalan sedikit sempoyongan. Arga sigap menangkap bahunya.
"Bawa aku pulang." Pintanya pada Arga.
Arga langsung menggendong Aya ke dalam pangkuannya menuju mobil, di sana ada Bara yang masih setia menunggu mereka berdua. Tak ada penolakan dari Aya. Ia sudah sangat lelah, sangat lelah.
Saat sudah masuk mobil, Arga menarik Aya bersandar di pundaknya.
"Tidurlah.. nanti aku bangunin kalau udah nyampe." Ucap Arga yang langsung dituruti Aya.
Sepanjang perjalanan pulang, Aya tertidur pulas dalam dekapan Arga. Dekapan dan aroma maskulin yang menenangkan. Belum pernah Aya merasakan tidurnya setenang ini.
×××××
__ADS_1