
Mereka tiba di rumah tante Andini hampir menjelang maghrib. Tante Andini meminta Aya membersihkan diri dulu baru sholat berjamaah di Musholla rumah. Kebetulan Aya memang selalu membawa pakaian ganti di mobilnya.
"Kamu bersihkan diri di kamar ini saja. Kamar tamunya lagi di renovasi, sementara kamar Lala sepertinya tidak bisa digunakan sekarang karena sudah lama tidak terpakai. Orangnya lagi kuliah di Korea." tentu saja ini hanya akal-akalan tante Andini saja. Dia hanya ingin memulai aksinya mendekatkan Arga dan Aya meskipun itu baru sekedar kenalan sama kamarnya saja. Tapi ia akan sangat senang kalau Arga bisa pulang malam ini.
Aya mengangguk, "iya tante, dimana aja boleh."
Memasuki kamar itu, Aya sadar bahwa kamar tersebut pemiliknya pastilah seorang laki-laki. Aroma maskulin menguar di indera penciumannya. Ia cukup tertarik dengan satu sisi kamar yang sepenuhnya menjadi rak buku, kemudian di sisi satunya lagi tampak tertempel banyak gambar desain kapal dan gambar bangunan-bangunan di atas laut, Aya tidak tau namanya tapi yang ia tau itu adalah tempat mengambil minyak dan gas bumi di bawah laut. Di sudut antara dua sisi tadi, sebuah meja kerja dengan satu monitor komputer yang cukup besar ada di atasnya dan juga sebuah Laptop. TV layar besar menggantung di dinding, Aya perkirakan TV itu ukurannya di atas 50 inch. Di sisi meja ada sebuah tempat sampah yang diisi gulungan-gulungan kertas putih gading dengan berbagai ukuran, ada yang nampak cukup besar dan sedang, ada juga gulungan-gulungan kecil.
Tidak ingin mengganggu privasi pemilik kamar tersebut, Aya segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. 20 menit kemudian dia sudah selesai, tadi dia lupa membawa pakaian gantinya masuk, jadi dia keluar hanya akan keluar dengan menggunakan handuk kecil yang ada di dalam kamar mandi ini.
Sebenarnya dia tidak sudi memakai handuk itu, tapi pakaiannya sudah terlanjur kena air karena ketidak hati-hatiannya menyimpan pakaiannya di gantungan di belakang pintu. Sementara handuk yang tadi dia ambil di mobil hanya cukup untuk mengusap tubuhnya dari air mandinya.
Arga yang baru saja pulang dari luar kota buru-buru ke kamarnya karena adzan maghrib sudah berkumandang. Saat Arga sudah menutup pintu kamarnya, Arga membulatkan matanya, tegang. Iya! Bagaimana bisa ada perempuan seksi keluar dari kamar mandinya.
"Astaghfirullah." Dengan cepat Arga membalik tubuhnya membelakangi perempuan Alya.
Aya yang membelakangi pintu kamar berbalik karena merasa mendengar sebuah suara. "AaaaaaĆ aaaaaaa..." Aya histeris lalu berlari kembali masuk ke kamar mandi. Betapa kagetnya dia. Suara adzan yang cukup keras membuatnya tidak mendengar suara pintu dibuka. Jantungnya berdetak kencang. Tubuhnya gemetar. Antara rasa malu dan takut menjadi satu.
__ADS_1
Ibu Andini yang mendengar teriakan Aya langsung bergegas ke kamar Arga. Dia mendapati putranya itu berdiri di depan pintu kamarnya. "Ada apa, Ga? Kenapa Aya teriak-teriak?"
Arga menatap ibu cengo, "itu Aya, bu?" Arga mengusap wajahnya kasar lalu berjalan cepat ke lantai bawah.
Tanpa menjawab pertanyaan putranya, Ibu Andini masuk ke kamar mengetuk pintu kamar mandi. "Ya... kamu baik-baik saja, nak? Ini tante, buka pintunya. Maaf, tante gak tau kalau Arga akan pulang hari ini karena setau tante dia masih di luar kota, padahal katanya besok baru balik." Ibu Andini berusaha memberi penjelasan agar Aya tidak menyalahkan Arga.
Sejenak Aya tidak merespon. Dia masih berusaha mengatur nafasnya. Aya membuka sedikit pintu kamar mandi, "tante, tolong.. pakaian ganti Aya di atas tempat tidur."
Ibu Andini sekarang mengerti apa yang terjadi antara Arga dan Aya. "ini, tante tunggu yah di bawah." Setelah memberikan pakaian kepada Aya, ibu Andini keluar dari kamar dan menunggu Aya di Musholla di lantai bawah.
Aya turun menuju Musholla, masih dari tangga dia sudah bisa melihat ada Arga di sana yang juga akan ikut sholat. Aya berusaha menenangkan dirinya, meskipun ia merasa gugup, merasa malu dan juga takut namun dia tetap melangkah mendekat tanpa memandang ke arah Arga.
Mereka pun akhirnya sholat maghrib dengan Arga bertugas jadi imam karena ayah Hutama baru saja tiba di rumah ketika mereka sementara sholat.
Jujur, Aya sempat tertegun mendengar bacaan sholat Arga yang menurutnya lumayan merdu mengingat tampang Arga yang good looking itu, hidup di kota besar biasanya lelaki seperti Arga tidak akan jauh-jauh dari perempuan cantik, alkohol dan club malam. Ini kota besar, taulah pergaulannya bagaimana.
Setelah sholat, Aya tampak bingung melihat adegan salam-salaman sesama jamaah. Di sana sudah ada ayah Hutama yang ikut sholat belakangan dan juga 2 orang art. Demi menjaga kesopanan, Aya pun mencium tangan Arga, tepatnya menempelkan jidatnya di tangan Arga.
__ADS_1
"MasyaaAllah... pengen deh cium keningmu dek" teriak Arga di dalam hatinya.
Mereka berdua salah tingkah.
"Tentang kejadian tadi," ibu Andini membuka suara. "Tante minta maaf yah sayang, Arga gak tau kalau kamu ada di kamarnya. Tante juga gak tau kalau dia sudah pulang. Tapi kalau kamu keberatan, tante akan meminta Arga bertanggung jawab." Lanjut ibu Andini memancing Aya. Kenyataannya memang dia tidak tau kalau putranya pulang hari ini.
Aya gelagapan, "gak papa tante, gak usah. Aya juga yang salah di sini." Kali ini Aya benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Tangannya meremas ujung mukenah yang masih dipakainya, menunduk. Keringat dingin membasahi tubuhnya padahal suhu AC di ruangan itu cukup rendah.
Om Hutama tampak kebingungan, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh istrinya. "tanggung jawab apa?" tanyanya dalam hati. Tapi dia menahan diri untuk bertanya, biar nanti dia minta penjelasan istrinya itu.
Sementara Arga hanya bisa terdiam dan terus menunduk. Dia tidak punya cukup keberanian untuk mengeluarkan suaranya. Speechless! Orang yang mengganggu fikirannya bahkan membuatnya penasaran setengah hidup sudah ada di hadapannya, tapi dia malah di sambut kejadian tak terduga seperti ini. Entah ini berkah atau ujian.
"tapi.. yakin kamu benar-benar tidak apa-apa? hmm?" tanya ibu Andini lagi meraih kedua tangan Aya dan menggenggamnya erat.
Aya mengangkat wajahnya melihat ke mata perempuan cantik sahabat ibunya itu. "iya tante, Aya gak papa." jawabnya tegas. Ibu Andini membawa Aya ke dalam pelukannya.
"Ok, tante percaya. Tapi, tante harap kejadian ini tidak membuat kamu menjauh dari tante. Tante tidak mau kehilangan kamu lagi." Mereka kembali mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Menyadari ketidaknyamanan Aya, ibu Andini kemudian mengajak Aya ke dapur untuk menyiapkan makan malam agar perhatian Aya teralihkan.