
Libur telah usai, saatnya kembali ke Indonesia. Alya dan Alif sekarang sudah bergabung dengan mereka di rumah orang tua Arga. Pesawat mereka akan terbang jam 4 sore nanti, jadi masih ada waktu untuk mereka berbagi cerita tanpa diburu waktu.
Diam-diam Arga sudah mengatur kepulangannya mengikut di pesawat yang mereka tumpangi. Dia terpaksa menghubungi beberapa orang untuk membantunya mendapatkan kursi penumpang tepat di sisi Aya. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 7 jam pasti akan sangat menyenangkan jika itu dihabiskan bersama Aya, fikirnya.
Setelah menikmati sarapan pagi yang disiapkan oleh Aya dan Alya, Arga menghilang ke kamarnya. Masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikannya, jam 10 nanti Arga ada meeting online dengan teamnya di Blue Marine & Offshore Consultant mengenai perkembangan kerjasama mereka dengan pihak Woodside.
Meskipun hubungan Aya dan Arga sempat mencair saat di Menara Lotte World, tapi kecanggungan kembali terjadi saat bertemu waktu sarapan tadi. Ditambah lagi sikap Arga yang kelihatan dingin menurut penglihatan Aya, lalu menghilang begitu saja. Aya bingung dengan sikap Arga, kadang-kadang hangat dan menyenangkan, tapi di lain waktu dia bersikap datar dan dingin sekaligus menjengkelkan.
Arga baru menampakkan wajahnya setelah waktu makan siang tiba. Meeting-nya pun sudah dia akhiri.
Saat di meja makan.
"Darimana bro? Kok baru muncul?" Tanya Alif.
"Di kamar aja, gak kemana-mana." Jawab Arga.
"Macam gadis perawan aja, mainnya di kamar mulu." Ledek Alif yang disambut tawa mereka, terkecuali Aya yang hanya menyunggingkan senyumnya, tipis.
"Daripada diluar jadi penonton kemesraan kalian, kan jadi pengen. Tapi tidak ada lawan." Ia melirik Aya yang duduk tepat di sisi kirinya, nampak ia tidak terganggu dengan pembicaraan mereka.
"Lawannya ada kok, tuh yang lagi pura-pura bodo," Alya mencebikkan bibirnya ke arah Aya.
Sebenarnya Aya mengerti arah pembicaraan mereka, tapi lagi-lagi Aya berhasil memasang wajah datarnya, hampir tanpa ekspresi. Foku menghabiskan makanannya.
"Makanya, pepet terus. Nanti giliran kakak ipar diambil orang lain baru tau rasa," ledek Lala.
"Uhuk..uhuk" Arga tersedat.
__ADS_1
Spontan Aya dan Lala mengangkat gelas air minumnya untuk Arga.
"Arga meraih gelas dari tangan Aya lalu meminumnya hingga tandas."
"Cieeee... diam-diam perhatian." Goda Alya yang kembali membuat tawa mereka pecah. Aya salah tingkah, jangan lagi tanyakan bagaimana rona merah wajahnya saat ini. Ini memalukan, rasanya ia sudah tidak punya muka lagi di hadapan Arga. Sementata Arga dengan santainya melanjutkan makannya.
*****
Tiba di Bandara, sudah cukup aksi-aksi lebay Lala yang masih berat ditinggal kakak iparnya itu. Sedikit-sedikit nangis, sedikit-sedikit peluk Aya. Lala sudah terlanjur nyaman, figur kakak perempuan sempurna didapatkannya dari Aya.
Di dalam pesawat first class itu, Aya sudah mengambil posisi ternyamannya. Begitupun dengan Alya dan Alif yang berada di deretan kursi belakangnya. Aya fokus memandang keluar jendela pesawat. Dia merasa ada seseorang yang duduk di kursi sampingnya. Tapi dia tidak tertarik untuk meliriknya.
"Tunggu.. aroma parfum ini, seperti kenal." Aya melirik sumber aroma tadi, benar saja sesuai dugaannya, itu adalah Arga. Ia heran, bagaimana bisa Arga duduk di sini, bukannya tiket mereka sudah di pesan untuk bolak-balik waktu itu? Sementara Arga, setaunya baru kemarin beli tiketnya. Sudahlah, Aya tidak mau pusing dan kembali melayangkan pandangannya memandang keluar jendela pesawat.
Sedari tadi Arga tidak pernah membuka suara, hingga pesawat sudah mengudara suasana diantara mereka masih hening. Tak ada yang mau memulai percakapan. Aya sendiri sibuk dengan buku novel yang segaja ia bawa dari Indonesia, padahal aslinya dia tidak konsen membacanya. Sementara Arga sibuk dengan mackbook-nya, kerja..iya benar-benar bekerja.
"Kenapa? Bosan?" Tanya Arga menutup layar mackbook-nya.
Aya yang merasa tertangkap basah sedang memperhatikan Arga hanya bisa meringis, speechless.
"Tiduran aja dulu, nanti aku bangunin klo sudah maghrib," perintah Arga.
Aya menarik selimutnya dan benar-benar tertidur pulas. Entah berapa lama ia tertidur.
Aya membuka matanya, ia ingin mengambil ponselnya dari tas tangannya yang diletakkan di meja kecil di depannya tapi ia merasa ada yang menggenggam tangannya. Di sana nampak Arga tertidur dengan tangannya menggenggam tangan Aya. Aya menarik pelan tangannya, dia tidak ingin mengganggu tidur Arga. Namun ternyata gerakan kecilnya itu ikut membangunkan Arga.
"Maaf, tangan mas Arga," ucap Aya merasa bersalah.
__ADS_1
"Oh.. ternyata aku juga ketiduran" timpal Arga masih dengan muka bantalnya.
Aya terpaku menatap Arga, matanya tidak berkedip. Gerakan Arga seperti slow motion dimatanya. Satu kata dari Aya, "Ganteng!"
"Iya, aku tau."
"Maksudnya?" Tanya Aya.
"Kamu tadi bilang ganteng kan?" Jawabnya penuh percaya diri
Aya memutar bola matanya jengah. "Pede banget jadi orang. Tapi kok dia bisa tau apa yang aku ucapkan dalam hati, apa dia cenayang?"
"Aku bukan cenayang, tuh liat iler kamu, segitu terpesonanya dengan kegantenganku." Arga tersenyum, tepatnya nyengir ke Aya.
Tanpa sadar Aya mengusap dua sudut bibirnya, "mas Argaaaaa!!!"
"Iya sayang." Jawab Arga menggoda.
Arrrrggghhhhhhh...
Aya frustasi sendiri lalu menarik selimut menutupi semua tubuhnya. Ia sudah lupa dengan niatnya mengambil ponsel.
Waktu berjalan lambat ngalah-ngalahin ubur-ubur bagi Aya, sementara bagi Arga terasa begitu cepat berlalu seperti bau kent*t.
Tidak banyak yang mereka bicarakan selama di pesawat, Aya sudah malas meladeni Arga. Arga pun menyerah, dia tidak mau Aya ngambek. Bisa sepi dunianya kalau sampai Aya tidak mau lagi berurusan dengannya.
×××××
__ADS_1