Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Melindungi


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam Jakarta - Puncak yang lumayan melelahkan, akhirnya mereka tiba di Villa milik ayah Hutama di sana. Bara dan Alif langsung mengangkat koper-koper mereka ke dalam Villa. Mereka juga di sambut oleh pasangan suami istri yang bertugas menjaga villa sekaligus perkebunan teh keluarga Arga.


"Assalamu'alaikum, non. Selamat datang! Ayok masuk." Sapa seorang perempuan paruh baya ramah kepada mereka lalu masuk ke Villa dan mempersilahkan mereka duduk.


"Wa'alaikum salam, bu. Iya, mari." Ucap Aya tak kalah ramah sambil mengikuti bu Minah dari belakang.


"Kenalkan, saya bu Minah dan ini suami saya pak Toto." Pak Toto membungkuk ramah dan disambut senyum ramah oleh Aya. Begitupun dengan Alya dan Fira.


"Iya bu, ayah sama ibu tadi sudah bilang kalau di sini ada ibu dan pak Toto."


"Oh, iya non. Bapak kemarin telepon katanya anak mantunya mau berlibur ke sini sama teman-temannya." Ucap pak Totot menyampaikan pesan pak Hutama.


"Di sini ada tiga kamar, semua sudah kami rapikan, silahkan boleh dipilih, non..mbak.." Ucap bu minah menatap satu-satu ke Aya, Alya dan Fira.


"Iya bu, terima kasih banyak yah." Ucap Aya.


"Iya non, sama-sama. Oh yah, di dapur makan siangnya sudah siap, tinggal makan saja. Dan nanti kalau ada apa-apa, jangan sungkan panggil kami di pondok belakang. Nomor teleponnya ada ibu tempel di kulkas." Ucap bu minah panjang lebar menerangkan.


"Iya bu, sekali lagi, terima kasih banyak." Lagi-lagi Aya berterima kasih dan diangguki oleh kedua pasangan suami istri itu. Mereka kemudian meninggalkan bangunan Villa utama dan menuju bangunan lain yang khusus untuk mereka tinggali.


Mereka bertiga memilih kamar masing-masing, Alif sendiri langsung membawa barang-barang Alya masuk ke kamarnya. Sementara Bara membawa koper Aya sampai ke depan pintu kamarnya.


Bawaan Fira tidak banyak, hanya koper kecil dan sebuah ransel yang dibawanya sendiri masuk ke kamar yang dipilihnya. Ijinnya memang tidak sampai seminggu, hanya tiga hari dan nanti akan pulang bersama Alya.


"Non, saya dan pak Alif akan segera kembali ke Jakarta. Non Aya istirahat saja, nanti kami balik tidak pamit lagi. Jika ada hal penting, jangan sungkan menghubungi pak Arga atau saya." Ucap Bara ingin segera pamit pada nonanya itu.

__ADS_1


"Iya mas Bara, terima kasih banyak. Mas Bara hati-hati nyetirnya."


"Iya non. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Bara langsung keluar Villa dan menuju ke tempat pak Toto dan bu Minah.


Kedatangan Bara ikut mengantarkan Aya ke sini bukan tanpa alasan. Ini perintah Arga sendiri, namun andai tidak diperintahkan oleh Arga pun dia pasti akan melakukannya. Diam-diam, Bara belum membubarkan tim yang selama ini ditugaskan oleh pak Bintang untuk mengawasi Aya.


Bara belum bisa merasa tenang selama om Dino masih bebas berkeliaran di luar sana. Untuk itu dia ingin berkeliling dulu di sekitar villa dan memeriksa sistem keamanan yang ada. Sekalian Bara ingin meminta ijin agar bodyguard yang ia kirim bisa diberi tempat menginap yang posisinya tidak jauh dari Villa tanpa perlu diketahui oleh Aya dan yang lainnya.


Sebenarnya sudah lama Bara ingin menyampaikan hal ini kepada Arga tentang bodyguard yang selama ini mengawasi Aya, namun Bara belum menemukan waktu yang tepat. Dia tidak ingin membuat Arga terlalu kepikiran mengkhawatirkan Aya dikarenakan urusan perusahaan yang membutuhkan Arga di sana. Untuk itu ia memilih tetap menyimpan ini sampai ia melihat kondisinya sudah memungkinkan.


Satu hal yang orang-orang belum tau sampai sekarang bahkan Aya sekalipun, alasan utama pak Bintang tidak pernah menemui Aya dan memilih nampak seperti ayah paling jahat sedunia hingga ia dibenci oleh anaknya sendiri adalah tidak lain karena pak Bintang ingin melindungi Aya. Pak Bintang tidak ingin ada orang yang tau keberadaan Aya, bahkan dari keluarganya sendiri.


Ya, ayah Aya berhasil merekayasa kematian ibunya sebagai sebuah kecelakaan. Bara mengetahui kenyataan itu setelah dua tahun ia ikut dengan pak Bintang. Saat itu pak Bintang sempat drop dan berfikir hidupnya tidak lama lagi. Dan oleh karena itu pak Bintang menitipkan Aya padanya.


Untuk itulah, meskipun pak Bintang telah meninggal, Bara akan tetap mengabdikan dirinya untuk melindungi Aya, nona mudanya yang begitu ingin ia lindungi seumur hidupnya.


"Dari mana aja lo? Dari tadi gue tungguin sampe jamuran." Tanya Alif setelah melihat Bara berjalan ke arahnya.


Alif sedikit kesal karena buru-buru keluar dari kamar Alya tetapi ia malah dibuat menunggu hampir sejam di mobil oleh Bara.


"Biasa, lihat-lihat kondisi di sekeliling sini. Buat mastiin aman atau tidak." Ucap Bara santai sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Bagaimana? Masih mau keliling-keliling apa kita langsung pulang?" Tanya Alif sambil menyalakan mesin mobil.


"Pulang saja, gue udah selesai."


"Lo udah pamit belum?" Tanya Alif lagi menahan diri melajukan mobil.


"Udah tadi sama non Aya."


"Sama Fira? Gak pamit lo?" Arga sengaja menggoda Bara. Sambil tersenyum ia pun akhirnya menginjak pedal gas mobil meninggalkan pekarangan Villa tersebut.


"Sialan lo?" Bara merasa tidak penting untuknya pamit pada Fira.


Alif tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Cantik gitu kok disia-siakan, Bar. Diambil orang gigit jari lo." Ucap Alif mengingatkan.


Bara memilih mengabaikan ucapan Alif. Entahlah, ia bingung sendiri pada perasaannya. Ia begitu tidak suka saat melihat Fira dengan laki-laki lain, namun ia juga tidak ingin melangkah jauh. Cukup melihatnya, mengawasi dan melindunginya dari dekat, itu sudah membuat hatinya bahagia.


"Sorry bro kalo ucapan gue menyinggung. Menikah atau tidak itu murni pilihan lo. Gue hanya mengingatkan. Umur lo, udah sangat matang. Kasihan anak lo nantinya, lo udah bangkotan, eh mereka masih pada SD." Ucap Arga tertawa karena merasa lucu. Padahal dirinya sendiri usianya juga sudah di atas kepala tiga dan belum punya anak.


"Ah, nyerocos aja lo terus macam ibu-ibu kompleks yang tidak pernah kehabisan ide gossipnya sama tukang sayur keliling." Ucap Bara malas.


"Wow, hapal banget lo sama kebiasaan ibu-ibu kompleks. Gue baru tau kalo gaul lo sama mereka. Atau jangan-jangan lo udah kepincut sama salah satu dari mereka? Hati-hati bro, ntar jadi pebinor bisa kacau sekompleks." Arga tergelak sendiri karena ucapannya pada Bara.


Bara memilih diam tidak menanggapi. Ia pura-pura memejamkan matanya agar ia segera terbebas dari pembicaraan tidak bermutunya dengan Alif.

__ADS_1


×××××


__ADS_2