
Pak Bintang sekarang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit. Wajah khawatir nampak menggelayuti Arga dan kedua orang tuanya. Begitu pun dengan Bara, asisten pribadi pak Bintang yang selalu standby 24 jam untuknya.
Semenjak pak Bintang mengetahui penyebab kehancuran keluarganya, ia mulai merekrut orang-orang terbaik dan terpercaya untuk membantunya mengurus perusahaannya. Termasuk menjaga putri semata wayangnya meskipun dari jarak jauh.
Aya tidak pernah tau bahwa dibalik kemudahan-kemudahan hidup yang ia peroleh setelah ia memutuskan keluar dari kehidupan ayahnya ada campur tangan ayahnya di sana. Pak Bintang bermain cantik sehingga semuanya kelihatan normal di mata Aya.
Bahkan seorang psikiater sudah lama ayahnya sisipkan ke dalam kehidupan Aya. Semuanya berjalan natural, tidak ada yang menonjol. Aya hanya mengenal orang-orang di sekitarnya itu sebagaimana yang sudah tertakdir. Tidak akan bertemu seseorang dengan orang baru jika itu tidak tertakdir untuknya.
Kesehatan pak Bintang memang drop 5 tahun terakhir ini. Livernya sudah rusak akibat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol. Dulu, sebelum bertemu dengan Farah dan istrinya, Bintang muda adalah seorang alkoholik. Kehadiran Farah kekudian mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Demi mendapatkan cinta gadis pujaannya itu, ia rela meninggalkan kebiasaan lamanya itu.
Sayangnya, beberapa penyakit telah menggerogoti tubuhnya. Bukan hanya livernya yang bermasalah, penyakit jantung pun juga sudah beberapa tahun ini membuatnya harus bolak balik Rumah Sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Putrinyalah yang menjadi semangat hidupnya meskipun dia tidak bisa menyentuhnya.
"Keluarga pak Bintang." Terdengar suara perawat yang keluar dari ruang tindakan memanggil keluarga pak Bintang.
"Iya, suster. Kami keluarganya." Jawab ibu Andini cepat.
"Pasien sudah sadar, sekarang akan kami bawa ke ruang inap."
"Baik suster". Ibu Andini, Hutama dan Bara ikut suster sementara Arga mengurus administrasinya.
__ADS_1
*****
Arga masuk ke ruang inap pak Bintang dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Tadi seusai mengurus administrsinya, ia belum bisa langsung ke ruang inap pak Bintang karena mendapat telpon dari kantor. Cukup lama ia berbicara di telepon. Ia mendekat ke ranjang pasien dimana disana ayah dan ibunya duduk di sisi ranjang. Semua mata tertuju pada Arga ketika Arga ikut duduk di sana.
"Arga... Ayah, ibu dan pak Bintang sudah sepakat. Kami akan segera menikahkan kamu dengan putri pak Bintang." Hutama membuka suara beratnya, tegas tak ingin dibantah.
Arga tercengang. Tentu saja Arga ingin menikah, apalagi usianya sekarang sudah sangat matang. Tapi menikah dengan cara dijodohkan dan itu dengan gadis yang ia tidak kenal sama sekali tidak pernah terlintas di dalam fikirannya.
"Maksudnya?" Bukannya Arga tidak mengerti maksud ayahnya, tapi dia masih shock sulit memahami semua ini.
"Nak Arga, menikahlah dengan putri bapak. Dia gadis baik, cantik dan sholeha. Bapak mohon. Kamu laki-laki yang baik, bapak akan tenang jika putri bapak ada di tangan lelaki yang benar dan keluarga yang tulus menyayanginya". Pak Bintang memandang Arga penuh pengharapan. "Tolonglah orang tua yang tak berdaya ini, nak Arga." imbuhnya.
"Kamu mau kan, sayang? Hmmm". Pertanyaan yang terdengar seperti permohonan seorang ibu pada putranya.
Arga mendesah panjang. Ia tertunduk lama, tenggelam di dalam fikirannya.
Arga mengangkat wajahnya, menatap wajah kedua orang tuanya, lalu terakhir menatap pak Bintang.
"Bismillahirrahmanirrahim. Baiklah, Arga setuju." Arga sudah memantapkan hatinya. Ia akan memenuhi permintaan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah.." kompak semua mengucapkan kalimat Hamdalah mendengar keputusan Arga.
Sebelumnya, ayah Hutama dan Ibu Andini sempat ragu akan keputusan mereka itu, mengingat selama ini Arga selalu menghindar tiap kali ditanya masalah pernikahan.
Entah apa yang merasuki Arga, tanpa banyak alasan apalagi melalui perdebatan panjang, dia dengan rela menerima perjodohan ini.
"Bara, kamu urus semuanya dengan cepat" perintah pak Bintang pada asistennya.
"Baik, pak. Saya permisi". Bara kemudian keluar meninggalkan ruangan.
Suasana hening menyelimuti mereka, masing-masing larut dalam fikirannya. Arga memilih duduk di sofa di salah satu sudut ruangan itu. Dia pasrah, semoga ini yang terbaik untuk kehidupannya. Dia yakin pada pilihan orang tuanya.
Mungkin saat ini Arga malah sangat bersyukur, ia tidak perlu dipusingkan mencari wanita yang cocok dengan ibunya.
Bagi Arga, dia tidak ingin menikahi wanita yang ke depannya malah menghambat dirinya berbakti kepada orang tuanya, terutama ibunya. Tetapi dia juga tidak ingin orang tuanya menjadi penghalang dirinya membahagiakan istrinya.
Bukankah sudah lazim kita temukan di sekitar kita perceraian yang diakibatkan seorang istri yang memilih mundur karena suaminya lalai menafkahi istrinya lantaran fokus dengan orang tua dan saudaranya. Ada juga suami yang terpaksa meninggalkan istrinya akibat perilaku kurang ajar istrinya kepada orang tua sang suami.
Semua harus proporsional, orang tua tau memposisikan dirinya sebagai orang tua, suami tau menempatkan dirinya sebagai suami dari istrinya, ayah bagi anaknya dan anak bagi orang tuanya. Seorang istri pun harus tau posisinya dimana, agar rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah bisa terwujud.
__ADS_1
×××××