Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Menumpang


__ADS_3

Hampir jam 12 malam mereka baru keluar dari Bandara. Di sana sudah ada supir keluarga Alif menjemput mereka. Sementara seorang supir dari kantor menjemput Arga. Arga memberi kode kepada supirnya untuk meninggalkannya, begitu pun dengan Alif dan Alya.


Mau tidak mau Aya terpaksa menumpang mobil Arga mengantarnya pulang ke Apartemen. Seperti yang pernah dilakukannya dulu, Arga mengantar Aya sampai ke pintu apartemennya. Aya pun tidak protes karena memang dia butuh bantuan Arga untuk membawa barang-barang bawaannya.


Aya membuka pintu Apartemennya, Arga ikut masuk membawa tentengannya dan meletakkannya di tempat yang ditunjuk Aya.


"Terima kasih, nanti mas hati-hati nyetirnya." Usir Aya halus.


"Ya, boleh gak mas nginap di sini. Mas udah ngantuk banget." ijin Arga ragu.


"Tapi mas, mas itu bukan mahram Aya. Gak bisa." Tolak Aya tegas.


"Siapa bilang? Kita udah halal, Ya.. Halal!!!" Ingin rasanya Arga mengatakan itu di depan Aya tapi hanya sampai di kerongkongan.


"Maaf!!!" Arga mengerti penolakan Aya. Ia membalik tubuhnya menuju pintu keluar.


"Tunggu!" Bagaimanapun Aya tidak tega. "Baiklah, Aya siapkan kamar dulu buat mas."


"Gak usah, Ya. Kamu benar, gak baik laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tinggal bersama." Tolak Arga mengingatkan.


"Aya bisa numpang tidur di unit apartemen sebelah. Biar mas istirahat di sini saja dulu. Takutnya mas kenapa-napa lagi di jalan."


"Senangnya, Aya khawatirin gue." Teriak Arga dalam hati.


"Tapi ini udah larut malam, gak enak bangunin orang." ucap Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku punya kuncinya kok, aku kadang nginap di sebelah klo lagi malas tidur sendirian di sini." jelasnya.


Arga akhirnya pasrah, dia sangat lelah. Matanya sudah berat. Ia tidak yakin bisa menyetir dalam kondisi seperti ini.


Aya sudah selesai menyiapkan tempat tidur Arga. Dia berganti pakaian dulu kemudian keluar menuju ke unit sebelah unit apartemennya.

__ADS_1


*****


Seusai sholat subuh, Aya kembali ke unit apartemennya. Hari ini dia putuskan belum masuk kerja, dia mau beres-beres dulu. Seminggu ditinggal, lumayan berdebu juga. Setelah beres-beres, ia membuat sarapan untuk dirinya dan Arga. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi tapi Arga belum keluar dari kamar.


Aya berinisiatif masuk kamar membangunkan Arga. Nampak Arga masih tidur lelap, Aya memunguti pakaian Arga yang ditaruh sembarang dan membawanya ke tempat pakaian kotor. Tidak mungkin Arga pakai kembali pakaiannya ini. Aya tidak tega membangunkannya, akhirnya ia turun ke parkiran apartemen mengambil sepasang pakaian Arga lalu membawanya ke kamar.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, Aya buru-buru meletakkan pakaian ganti tersebut di atas tempat tidur lalu bergegas keluar kamar. Ia menunggu Arga keluar sambil menonton TV.


Arga mendekati Aya yang sedang fokus nonton TV. "Serius amat nontonnya." sapanya lalu mendudukkan diri di sisi Aya. Aya sedikit menggeser badannya agar posisi duduk mereka tidak terlalu dekat.


"Mas klo buru-buru mau ke kantor, saya sudah siapin sarapan. Saya mau ke kamar dulu."


"Aku tunggu kamu." Ucap Arga cuek lalu mengganti channel TV.


Aya langsung menuju kamarnya lalu bersih-bersih. Tubuhnya terasa lengket, dia belum mandi sejak tiba dari Korea semalam. Sekitar 30 menit Aya keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan, ia mengajak Arga ikut sarapan bersamanya.


Di sana sudah tersedia dua piring nasi goreng dengan porsi Arga lebih banyak dari punya Aya. Di sana juga ada segelas kopi untuk Arga. Hati Arga seketika menghangat.


"Begini yah rasanya punya istri?" Batinnya.


"Gak masalah, begini aja mas sudah senang kok." Arga melebarkan senyumnya tulus memakan sarapannya dengan lahap.


Arga menatap piring Aya yang masih tersisa setengah sementara punyanya sudah habis. "Kok gak dihabisin?"


"Udah kenyang" jawab Aya mengelus perutnya.


Arga menggeser piringnya yang kosong lalu menarik piring Aya dan memakannya lagi dengan lahap.


"Mas, itu sisa saya. Jijik ihhh." Aya menggedikkan bahunya.


"Mubazzir, Ya. Lagian ini sisa kamu, bukan orang lain juga."

__ADS_1


Seperti ada sesuatu yang mencubit hatinya mendengar ucapan Arga itu. Ada perasaan hangat yang menyusup masuk ke dalam rongga hatinya yang kosong.


Setelah makanannya habis, Arga menyeruput kopinya sampai habis. Ia lalu menumpuk semua piring lalu membawanya ke washtafel dan mencucinya.


Aya bangkit dari duduknya, menepis tangan Arga agar melepas piring yang dicucinya.


"Apaan sih mas, kok malah cuci piring?" Tanyanya kesal.


"Kamu kan udah sediakan aku pakaian ganti, bikinin kopi sama sarapan. Sekarang giliran aku dong yang cuci piring." Jawab Arga santai.


"Gak boleh, nanti klo tante Andini tau anak kesayangannya cuci piring bisa-bisa Aya kena damprat."


"Gak bakal. Paling kamu dihukum disuruh nikah sama aku karena sudah berhasil mendidik anaknya jadi laki-laki yang bertanggung jawab." Arga mengerlingkan  matanya dengan senyum manis di bibirnya.


Aya mengalah, sudahlah, dia yang mau juga. Bukan Aya yang suruh.


"Mas, buruan. Nanti telat loh ke kantornya." Aya mengalihkan pembicaraan.


"Mas gak ngantor hari ini, kamu?"


"Aya juga gak, besok aja." Jawab Aya.


"Ting..tong"


"Ting..tong"


Terdengar suara bell pintu. Arga menatap Aya penasaran, siapa yang pagi-pagi begini sudah datang bertamu. Aya menggeleng, ia meninggalkan Arga untuk membuka pintu.


Tekkkkk (bunyi pintu terbuka)


"Tante!"

__ADS_1


×××××


Tante siapa yah?


__ADS_2