Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Kedatangan Lala


__ADS_3

Sudah empat hari Aya pergi, tak ada lagi komunikasi diantara Arga dan Aya sejak terakhir Arga menelponnya. Meskipun Alya dan Fira sudah duluan pulang hari ini, tapi Aya tetap tidak menghubunginya. Arga memilih menahan diri, mungkin memang benar Aya butuh waktu. Meski berat, tapi ia berusaha menahan perasaannya. Mungkin peribahasa diam itu emas yang saat ini diamalkan Arga.


Kadang terfikir untuk menerobos langsung benteng pertahanan Aya, namun akal sehatnya memaksanya ikut membuat benteng kokoh agar tak khilaf. Ia takut akan melukai Aya, dan saat itu terjadi berarti dia telah melukai dirinya sendiri.


Arga tak bisa menduga-duga, bagaimana perasaan Aya padanya saat ini.


Adakah rasa kehilangan seperti yang dirasakannya?


Adakah kegelisahan menyelimuti harinya karena tak saling mendengar kabar?


Adakah kegundahan memendam rindu untuk bertemu?


Arga seperti anak ABG yang baru saja jatuh cinta, perasaannya meletup-letup meloncat di dada. Mendengar nama Aya disebut membuat irama detak jantungnya tak beraturan. Mengingat senyumannya membuat sekujur tubuhnya seperti dialiri tegangan listrik.


Perasaan yang begitu indah, sangat indah membuat hati dan fikirannya tidak bisa beranjak dari mengingat istrinya itu. Dan tentu saja akan bertambah keindahannya andai Aya menyambut perasaannya.


Saat ini Arga sedang berkantor di Blue Marine, sekarang adalah jadwalnya berkantor di sini. Kantornya ini masih berada di sebuah bangunan ruko berlantai tiga. Itupun masih bertstatus sewa. Arga berfikir setelah kontrakkan ruko ini selesai, dia akan memindahkan kantornya ke perusahaan mendiang mertuanya. Dengan begitu ia bisa menjalankan keduanya tanpa harus kesana kemari. Kebetulan gedung PT. Bintang Bahari sangat luas, dan ada 2 lantai yang dibiarkan kosong begitu saja. Selama ini hanya difungsikan untuk kegiatan olahraga para karyawan di sana. Dua lantai tersebut sudah cukup untuk menampung karyawannya yang berjumlah lebih dari 100 orang.


*****


Sore menjelang, setelah sholat maghrib, Arga meminta Yudha menemaninya ke Bandara untuk menjemput Lala. Ia cukup lelah hari ini, takutnya tidak fokus nyetir dan itu berbahaya untuk keselamatan mereka.


Tampak Lala sudah menunggu di sekitar pintu kedatangan, Arga langsung menghampirinya dan mengambil alih koper dan barang bawaan Lala. Lala mengekor ke mobil. Sementara Yudha membukakan pintu bagasi mobil dan membantu Arga memasukkan barang-barang Lala. Arga memilih duduk di kabin tengah bersama Lala.


"Sopir baru mas?" Tanya Lala penasaran melihat laki-laki tampan duduk di kursi sopir.


Arga tertawa sumbang, matanya bertemu tatap dengan Yudha yang juga menatapnya lewat kaca spion tengah di atas sisi kiri kepala Yudha. Yudha menggeleng tapi segan menanggapi Lala.


"Teman kantor, La." Ucap Arga sambil mencubit hidung Lala.


"Awwww.. sakit!" Lala mendengus kesal mengelus-elus hidungnya yang tadi dicubit Arga.


"Makanya, jangan asal ceplos. Kasihan Yudha, bisa jatuh pamor nantinya dibilang sopir mas, padahal dia itu asisten sekaligus wakil CEO di perusahaan Mas." Arga memperjelas status Yudha.


"Hai pak Yudha, kenalin, aku Lala adiknya mas Arga." Yudha yang disapa dari belakang kemudi hanya menganggukkan kepalanya sopan dengan melihat Lala lewat spion tengah.

__ADS_1


"Mas Yudha udah punya pacar belum? Atau udah punya istri mungkin?" Yudha hanya menggeleng, masih tanpa suara.


"Apaan sih La? Kok nanya-nanya gitu? Gak sopan." Arga merasa kesal melihat kelancangan Lala.


"Ih..mas ini. Penting dong buat Lala tau mas Yudha ini sudah punya cewek apa belum. Jangan sampe besok-besok Lala kebetulan ketemu pak Yudha, trus Lala sapa tapi tiba-tiba Lala kena damprat. Kan gak keren banget gadis secantik aku dituduh pelakor!" Ketus Lala membela diri.


Arga dan Yudha tertawa, benar juga apa yang dikatakan Lala.


"Yud, lo udah punya cewek belum?" Tanya Arga penasaran karena selama mengenal Yudha, masih dari Yudha awal masuk kampus yang saat itu Arga tinggal merampungkan skripsinya, hingga Yudha bergabung dengan perusahaannya, Arga tidak pernah sekalipun mendengar Yudha punya pacar.


"Belum nemu yang klick di hati, bang!" Jawab Yudha menyunggingkan senyum samarnya dan tetap fokus menyetir.


Arga mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Yudha. Sementara Lala sudah tidak menanggapi, ia sekarang malah sibuk melihat pemandangan malam kota Jakarta lewat jendela di sisi kirinya saat ini.


Tak ada lagi percakapan mereka sepanjang perjalanan sampai ke rumah hingga mobil melewati pagar dan berhenti tepat di depan teras rumah.


Yudha buru-buru keluar dari mobil mengambil isi bagasi dan mengangkatnya sampai ke teras. Arga mengambil tas ransel Lala di bagasi. Lala sendiri sudah nyelonong masuk rumah mencai keberadaan kedua orang tuanya.


"Saya pamit pulang, bang!" Pamit Yudha.


"Gak masuk dulu istirahat sebentar?"


"Ya sudah, kamu bawa mobil saja, hati-hati di jalan."


"Baik bang, Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam warahmatullaahi wa barakatuh." Jawab Arga membalas salam Yudha dengan lengkap. Ia menunggu Yudha keluar dari pagar baru beranjak masuk ke dalam rumah.


Saat Arga hendak menuju naik ke kamarnya, ia menghentikan langkahnya di tangga lalu berbelok arah ke ruang keluarga dimana di sana ada kedua orangtuanya dan Lala.


Arga ikut duduk di sofa, mengambil posisi duduk di sofa single depan mereka bertiga.


"Gimana La, mau stay di Indonesia apa masih mau balik ke Korea?" Tanya Arga sambil mengambil segelas jus yang ada di atas meja.


"Tergantung jodoh aja mas?" Jawab Lala cengengesan.

__ADS_1


"Memangnya kamu sudah siap nikah, La?" Tanya ibunya memandang serius ke mata Lala.


"Jodoh aja yang dipikirin, baru juga kelar kuliahnya." Ayahnya menimpali kurang begitu senang mendengar ucapan Lala.


"Ih..ayah mah gak ngerti banget! Orang aku hanya bercanda doang!" Lala mulai memanyunkan bibirnya karena merasa jengkel dengan respon ayahnya.


"Mas sih gak masalah, yang penting calon kamu lolos screaning sama mas." Ucap Arga tersenyum.


"Ibu juga gak masalah. Jagain anak gadis jaman now itu susah. Daripada zina, mending nikah." Ibunya menimpali dengan ekor mata tertuju ke suaminya.


"Ayah sih juga gak masalah, tapi seperti kata Arga tadi, calonnya harus di-screaning dulu baru boleh lanjut atau tidak." Ayahnya yang merasa semua mata tertuju padanya akhirnya memberi jawaban diplomatis.


"Apaan sih Yah, ibu sama mas Arga, orang aku tadi itu bercanda doang. Calon aja gak punya, mana bisa ketemu jodohnya?" Kesal Lala kemudian berlalu pergi ke kamarnya.


Arga dan kedua orang tuanya tidak mau mengambil pusing kekesalan Lala tadi. Bagi mereka, melihat Lala ngambek merupakan hiburan tersendiri, lagian Lala paling tidak tahan lama-lama ngambeknya. Sebentar lagi juga dia akan datang bermanja-manja seolah-olah tidak terjadi apapun.


Saat Arga ingin ke kamarnya, ia ditahan oleh ibunya.


"Duduk dulu sebentar, Ga!" Perintah ibunya.


"Kalian bagaimana?" Lanjutnya lagi.


"Maksud ibu bagaimana apanya?"


"Hubungan kalian, kamu dan Aya?"


"Yaaa begitu.. seperti biasanya." Arga bingung mau jawab apa.


"Seperti biasanya bagaimana?" Ibunya masih mengejarnya dengan tambahan pertanyaan yang semakin membuatnya bingung.


"Aya masih minta waktu, bu." Jujur Arga.


Ibunya mangangguk-anggukkan kepala lalu menatap ke suaminya, mereka bertemu pandang namun hanya dijawab dengan mengangkat kedua bahunya.


"Loh, ayah bagaimana sih, urusan anak kok tidak tau begitu?" Ibunya merasa kesal melihat ayahnya yang seperti tidak peduli dengan rumah tangga anaknya.

__ADS_1


"Bukan tidak tau, bu. Ini rumah tangga anak-anak kita. Baik Arga maupun Aya, semuanya anak-anak kita. Mereka sudah dewasa pasti tidak akan memgambil keputusan yang merugikan diri mereka sendiri dan kita orang tuanya. Ayah percaya sama kamu." Jawab ayahnya bijak menatap dengan sorot penuh arti pada Arga.


×××××


__ADS_2