Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Terjebak Pernikahan


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti ruang keluarga saat ini. Ayah Hutama dan ibu Andini duduk bersisian di sofa. Aya dan Arga mengambil posisi duduk berjauhan. Kondisi Arga saat ini sangat buruk, ia seperti mayat hidup, ia kehilangan gairah.


Orang tuanya tidak menyangka mendapati pemandangan seperti ini, mereka fikir kondisi Aya yang akan memprihatinkan setelah mengetahui kenyataannya, tapi diluar dugaan, justru Arga yang saat ini terlihat mengenaskan.


"Aya, duduk di sini dekat ayah dan ibu," panggil ayah Hutama yang merasa Aya duduk terlalu jauh sambil menepuk ruang kosong diantara dia dan ibu Andini.


Tanpa penolakan Aya langsung berdiri lalu duduk ditempat yang sudah ditunjuk ayah Hutama.


"Sekarang ayah tanya kamu, apa yang kamu rasakan saat ini?"


"Aya bingung! Aya tidak mengerti bagaimana bisa status Aya sekarang istri mas Arga sementara Aya merasa tidak pernah menikah. Siapa yang menikahkan, siapa yang dinikahkan?" Jawab Aya menatap dalam-dalam mata ayah Hutama yang juga menatapnya.


"Baik, sekarang kamu dengar baik-baik. Ayah harap setelah ini kamu bisa berfikir jernih dalam mengambil keputusan. Ayah tidak akan memaksa kamu untuk terus menjadi istri Arga jika itu berat dan malah melukai kamu, tapi satu hal yang pasti, kamu juga adalah anak ayah dan ibu, selamanya seperti itu."


Betapa kacaunya hati Arga saat ini, ayahnya memberi opsi Aya memilih bertahan atau pergi meninggalkannya. Oh, tidak bisa begitu. Hati Arga ini bukan spons cuci piring yang bisa kembali ke bentuk semula setelah diremukkan.


Aya sendiri menatap ragu ayah Hutama, ia mencari kejujuran di sana, tapi memang tak ada raut kebohongan yang ditemuinya.


"Ayah yang melamar kamu untuk Arga, saat iti ayah kamu drop dan di rawat di Rumah Sakit. Itu terjadi sehari setelah acaran lamaran Alya. Waktu itu kami belum tau kamu anak Bintang dan Farah. Meskipun demikian, tekad ayah dan ibu sudah bulat, kamu harus menjadi anak kami. Awalnya ayahmu menolak, ia takut kamu akan semakin membencinya karena menikahkan kamu tanpa sepengetahuanmu. Tapi ayah tidak terima, sudah cukup kami kehilangan ibumu, kami tidak ingin lagi kehilangan kamu. Dan satu-satunya cara untuk membawamu masuk ke keluarga kami adalah dengan menikahkan kamu dengan Arga. Jadi clear yah, di sini ayahmu sama sekali tidak bersalah, ayahlah yang memaksanya." Aya cukup kaget mendengar pengakuan ayah Hutama, awalnya dia merasa marah pada ayahnya, bagaimana bisa ayahnya menikahkan dia tanpa sepengetahuannya.


"Tapi kenapa kalian tidak kasi tau Aya saat itu? Kalian anggap apa Aya?" Protes Aya tetap tidak terima dengan cara mereka menikahkannya.


"Kalau kami beri tau kamu, apa kamu akan setuju?" Tanya ibu Andini. Lidah Aya kelu, ia tidak tau harus menjawab apa.


"Tidak bukan? Aya pasti menolak bukan?" Tanya ibu Andini lagi.

__ADS_1


"Tapi tetap saja ini hidup Aya, Aya berhak menentukan sendiri apa Aya akan menikah atau tidak."


"Justru karena itu, ayahmu tau kalau kamu sudah memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupmu, ayahmu menolak lamaran kami, tapi kami tetap memaksa menikahkan kamu tanpa kamu di sana. Toh, ini sah dalam pandangan agama." Ibu Andini merasa gerah melihat sikap Aya. Ia fikir Aya sudah berubah, nyatanya masih kekeh dengan pendiriannya.


"Aya, kamu tau kan kalau ayah kamu itu Livernya sudah sakit parah? Ia tidak tau kapan maut akan menjemputnya, saat mendengar kami ingin meminangmu, ia sangat bahagia. Ia ingin melihat kamu menikah dan mempunyai anak. Tapi kalau kamu tidak menikah, lalu dengan siapa kamu akan mengahabiskan hidupmu? Karena itulah ayah berfikir untuk mengambil kamu, menikahkan kamu dengan Arga agar kamu punya tempat untuk kembali saat kamu merasa lelah di luar sana. Ayah hanya ingin menjadi tempat kamu bersandar saat bersedih, ayah ingin menjadi penjaga dan pelindung kamu, ayah ingin menjadi orang pertama yang kamu peluk saat kamu bahagia, ayah ingin sesekali mengunjungi kamar kamu memastikan bahwa kamu baik-baik saja saat kamu sudah tidur. Tapi, ayah tidak bisa melakukan semua itu. Ayah bukan mahram kamu sementara menjadi istri Arga akan membuatmu sepenuhnya menjadi anak kami. Untuk itu, ayah mohon, tetaplah bersama kami. Maafkan kami nak, kami benar-benar menyayangi kamu." Setetes air mata jatuh di pipi ayah Hutama. Ia menggenggam erat tangan Aya. Ibu Andini memeluk tubuh Aya dari samping.


"Maafkan keegoisan kami, nak. Kami hanya memikirkan diri kami sendiri saat itu, kami lupa, kami abai dengan perasaan kamu. Maafkan kami." Tangis ibu Andini pecah.


Aya mengusap air matanya, sesekali melap ingusnya dengan ujung jilbabnya.


"Dan untuk Arga," sambung ayah Hutama menjeda kalimatnya sambil melirik ke arah Arga. "Arga juga tidak tau menau perihal rencana perjodohan kalian. Jadi apapun fikiran burukmu terhadap Arga, ayah harap buanglah jauh-jauh. Karena meskipun ia tidak mengenal siapa perempuan yang dijodohkan dengannya, namun ia bisa menerimanya dengan lapang dada." Ucap ayah Hutama memberi pembelaan untuk Arga.


Ia sekarang mulai berfikir, berarti bukan hanya dia yang terjebak dengan pernikahan ini, tapi Arga juga. Aya melirik Arga, sementara Arga juga sedang menatapnya. Mata mereka bertemu, saling mengunci beberapa saat lalu diputus oleh Aya dengan menunduk melihat ujung kakinya.


"Jadi Alya tau?" Tanya Aya shock.


"Iya, Alya tau, kamu jangan marah sama Alya ataupun sama Arga. Marahlah pada kami, ayah dan ibumu." Ucap ibu Andini memelas pada Aya.


Ini sungguh diluar dugaannya, bahkan Alya pun tau, hanya dia sendiri yang tidak tau. Ironis! Aya menggeleng, ia tersenyum kecut.


"Luar biasa, aku di sini benar-benar seperti orang bodoh. Hanya aku yang tidak tau apa-apa." Ucap Aya meratapi kebodohannya.


"Kamu gak bodoh, nak! Maafkan kami yang tidak jujur sejak awal. Kami hanya ingin membuat kamu merasa nyaman dengan kami dulu, kami tau ini berat untuk kamu, tapi kami berharap kamu bisa menerimanya. Ibu sudah tidak sabar mendapat cucu dari kalian?" Ucap ibu Andini semangat.


"Anak? Anak apa? Menantu kesayangan ibu ini barusan menolak Arga mentah-mentah kok!" Sungut Arga.

__ADS_1


"Oh, jadi itu yang membuat muka kamu sejak tadi ditekuk seperti orang patah hati?" Tanya ayah Hutama.


"Nah, itu ayah tau sendiri."


"Jadi kalau Aya menolak kamu, cerita langsung selesai, nyerah gitu aja?" Giliran ibunya yang bertanya.


"Siapa bilang nyerah, bu? Arga cuman lagi menikmati masa-masa patah hati, gini toh rasanya ditolak, gini toh cinta bertepuk sebelah tangan, sampe istri minta cere, sakit, hati Arga sakit banget, Aya kok tega banget sih sama mas?" Jawabnya dengan mata terus menatap tenang ke arah Aya.


Aya yang merasa Arga lebay banget mencebikkan bibirnya. "Lebay." Ucap Aya pelan tapi masih bisa didengar Arga.


"Dibilangin dak percaya."


"Sudah..sudah.. masalah Rumah Tangga itu tidak boleh dibawa sampai keluar dari kamar." Ayah Hutama menengahi.


"Ya sudah, kalau begitu kami pamit." Tanpa ragu Arga langsung berdiri menghampiri Aya lalu menarik tangannya ikut naik ke kamarnya.


"Mas, apa-apaan sih tarik-tarik tangan Aya?" Protes Aya sambil berusaha melepaskan tangannya.


Arga tak bergeming, ia lalu membawa Aya masuk kamar, kemudian mengunci pintu dan membuang kunci kamar keluar jendela.


"Mas mau ngapain?"


"Menurut kamu?" Arga memperpendek jarak mereka.


×××××

__ADS_1


__ADS_2