Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Mulai Tergila-gila


__ADS_3

Arga terbangun karena suara alarm mengganggu tidurnya. Saat hendak bergerak, ia menyadari kalau Aya sekarang tidur nyaman di dalam pelukannya. Tidak ingin kehilangan momen langka seperti ini, akhirnya ia pura-pura tidur lagi, ini tidak baik baginya kalau sampai Aya tau dirinya dengan sadar memeluknya.


Aya merasa terganggu dengan suara alarm dengan dua nada yang berbeda. Ia bergerak hendak bangun, tapi tubuhnya terasa berat untuk digerakkan. Suasana kamar yang sangat minim pencahayaan membuatnya belum menyadari keadaannya. Ia merasa mencium aroma maskulin yang begitu dekat dengan hidungnya. Karena merasa aroma yang dihirupnya terasa berbeda, ia mengendus-endus hingga menyentuh dada Arga. Arga yang merasa kegelian tidak tahan mengeluarkan suaranya.


"Apa kamu sudah mulai tergila-gila dengan aroma tubuhku sampai dicium segitunya?"


Aya cukup kaget, mengapa ada suara laki-laki yang didengarnya. Ah, iya lupa. Semalam ia berbagi ranjang dengan Arga, suaminya.


"Mas Arga.... lepas!" Aya baru sadar ternyata aroma yang disukainya pagi ini adalah milik Arga.


Sementara Arga menahan tubuh Aya tetap di dalam pelukannya dengan tangan yang dijadikan bantal oleh Aya sementara tangan satunya lagi ia gunakan meraih sakelar lampu tidur di sisi ranjang.


Posisi mereka sangat intim, tanpa sadar Aya sudah berada di atas tubuh Arga karena berusaha melepaskan diri dari pelukan Arga.


"Stop bergerak! Atau kamu mau melaksanakan kewajiban kamu sekarang juga?" Goda Arga.


Seketika Aya mematung di atas tubuh Arga.


"Jadi sekarang bagaimana?" Tanya Aya dengan wajah polosnya.


"Yaaa..begini aja terus!"


Aya merasa jengah, ia tau ini hanya akal-akalan Arga saja, masalahnya tangan dan kaki Arga masih membelit tubuhnya.


"Mas, lepasin atau gak ada lagi kesempatan mas buat dapetin hati Aya!" Tegas Aya merasa sudah tidak bisa mentolerir sifat pemaksa Arga yang suka curi-curi kesempatan buat menyentuhnya.


Sontak belutan tangan dan kaki Arga merenggang dan akhirnya Aya berhasil turun dari tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa lagi Aya bergegas ke kamar mandi. Ia menutup pintu dengan keras dan langsung menguncinya.


Aya menyalakan shower lalu menangis di bawahnya. Hatinya kacau saat ini. Di satu sisi, ia benar-benar tidak siap menerima pernikahannya, tapi di sisi lain ia merasa berdosa karena mengabaikan keinginan suaminya.


Meskipun pengetahuan agamanya masih sangat sedikit, tapi ia tau bagaimana tugas dan kewajibannya sebagai istri. Ia tau dosa apa yang menantinya dengan sikapnya ini, tapi mau dipaksa bagaimanapun, Aya benar-benar belum ikhlas menerimanya. Ia takut menyakiti hati Arga lebih dalam lagi. Ia pun takut terluka lagi. Pengalaman rumah tangga orang tuanya betul-betul menyimpan ketakutan yang sulit dihilangkan Aya dalam memorinya.


Sementata Arga setia berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu Aya keluar. Ia tau Aya menangis di dalam sana. Lagi-lagi hatinya terasa diremas, ia merasa sakit mendengar Aya menangis, apalagi Aya menangis karena dirinya.


Sudah 30 menit Aya di kamar mandi, namun belum ada tanda-tanda ia akan keluar. Akhirnya Arga memutuskan mengetuk pintu.


Tok..tok..tok..


"Aya.. belum selesai yah? Ini sudah adzan subuh loh!" Arga mengingatkan dengan sesekali mengulangi ketukannya di pintu.

__ADS_1


Mendengar ketukan pintu dari luar, Aya segera menyelesaikan aktivitas mandinya. Tapi ia baru sadar, ia tidak membawa baju ganti.


"Mas..." panggil Aya mendekatkan diri ke pintu.


"Iya, kamu udah selesai?"


"Mas, ambilin Aya pakaian ganti dong. Mmmm.. sekalian sama pakaian dalam yah." Ucap Aya malu-malu.


Arga segera membuka lemari dan mengambil semua keperluan Aya. Huuuffft, ini sungguh mendebarkan, memilah-milih pakaian dalam perempuan tidak pernah mampir dipikirannya selama ini.


Arga kembali mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya.. ini pakaiannya."


"Tutup mata dulu baru Aya buka."


"Iya..iya..  ini mas belakangi pintu kok."


Aya membuka sedikit pintu lalu mengambil pakaian yang ada di tangan Arga.


"Jangan lama-lama yah, ini udah selesai adzan subuh loh." Ucap Arga kemudian menuju tempat tidur menunggu Aya keluar.


"Tunggu mas, mas ambil wudhu dulu." Arga segera masuk ke kamar mandi.


*****


Setelah sholat subuh, Arga mengajak Aya untuk membicarakan beberapa hal. Ia tidak ingin hubungannya dengan Aya memburuk karena ia belum tau bagaimana cara memperlakukannya.


Ini adalah pengalaman pertama Arga dekat dengan perempuan begitupun dengan Aya. Arga tidak ingin terlalu banyak drama meskipun dari awal sudah banyak drama, namun ia ingin memastikan Aya nyaman dengan kehadirannya.


Jatuh cinta membuat Arga ingin melakukan dan memberikan banyak hal untuk Aya, tapi ia sadar, belum tentu apa yang ia lakulan dan berikan bisa membuat Aya bahagia, salah-salah malah bisa membuat Aya semakin jauh dari jangkauannya.


Arga mengajak Aya ke balkon, udara masih terasa sangat segar dan matahari belum sempurna keluar dari peraduannya.


Mereka kini berdiri bersisian dengan tangan memegang railiing balkon.


"Aya.."


"Hmmm"

__ADS_1


"Aya.." panggil Arga lagi membalikkan tubuhnya menghadap Aya. Sebelah tubuhnya ia pakai bersandar di railing.


"Hmmm"


"Dijawab baik-baik dong, Ya!" Ucap Arga lembut.


Aya juga membawa dirinya menghadap Arga.


"Iya, mas. Kenapa? Mas ngomong aja, aku dengar kok." Semburat senyum terukir di bibir Arga, senyum itu pun menulari Aya.


"Aya, mas minta maaf!" Ucap Arga tulus. Aya mengerutkan keningnya, merasa tidak mengerti mengapa Arga meminta maaf padanya.


"Untuk?"


"Untuk sikap mas yang mungkin membuat kamu tidak nyaman."


"Oooo.." Aya membulatkan bibirnya.


"Kok jawabnya  ooo doang?"


"Memangnya mas berharapnya apa?"


"Mas berharapnya Aya bilang i love you."


"Kumat lagi deh." Keluh Aya kesal.


"Maaf, ini sekarang aku mau ngomong serius sama kamu." Wajah Arga sekarang mulai nampak serius.


Aya berjalan ke Arah kursi dan duduk di sini.


"Oke, Aya akan dengarkan." Ucap Aya menatap Arga juga dengan memasang wajah seriusnya.


Bagaimana pun Aya juga merasa mereka berdua memang butuh bicara. Aya tidak ingin menyakiti Arga juga tidak mau disakiti Arga. Urusan bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depannya, entahlah.. Aya belum ada bayangan sama sekali. Bukannya ia meragukan niat Arga, tapi ia malah ragu pada dirinya sendiri.


Menikah itu bukan pakaian yang bisa diganti sesuka hati kalau tidak cocok atau tidak suka, tapi menikah itu untuk seumur hidup dan seumur hidup itu bukanlah waktu yang pendek. Bercerai? Menikah saja Aya tidak pernah memikirkannya, apalagi dengan bercerai. Sungguh ini membingungkan, menikah adalah sesuatu yang paling Aya hindari selama ini, namun semua diluar kendalinya.


Begitulah hidup, terkadang hal yang paling kita hindari justru itulah yang sedang berlari kencang mendatangi kita.


×××××

__ADS_1


__ADS_2