Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Omong Kosong


__ADS_3

Imam Syafi'i


"Mata tak kunjung terpejam


Saat semua mata terlelap


Tentang persoalan yg akan terjadi


Atau memang tak akan terjadi


Waspadalah terhadap khawatir


Yang berlebihan pada diri


Karena itu bisa membuatmu


gila tak sadarkan diri


Sungguh, Tuhan yang Maha Sayang


Yang melindungimu sebelum ini


Akan melindungimu esok hari,


apapun yang terjadi"


*****


Arga buru-beru keluar dari ruang kerjanya, tanpa membalas sapaan Fira padanya, ia langsung bergegas masuk ke dalam lift. Keluar dari lift, ia sama sekaki tidak memedulikan siapapun yang menyapanya. Yang ada di fikirannya saat ini adalah segera sampai di depan Aya.


Ia mengambil motor sport-nya yang sengaja ia simpan di kantor, untuk keperluan mendesak seperti sekarang ini, naik motor merupakan pilihan terbaik dibanding mobil. Jalanan kota Jakarta yang begitu padat bisa memakan waktu yang bisa membuat tua di jalanan.


Kurang dari 20 menit, Arga sudah sampai di Rumah Sakit dan memarkinkan motornya di parkiran dekat UGD. Memasuki lobby UGD, ia bertanya kepada perawat yang berjaga di sana dimana bagian ortopedi. Setelah mendapatkan infornasinya, ia bergegas mencari ruangan Aya.


Tanpa mengetuk pintu, Arga langsung membuka pintu begitu saja.


"Sayang..." Arga nyelonong masuk mendekati Aya dan tanpa ragu memeluk Aya posesif.


Mata Aya membelalak, masalahnya saat ini ada tiga orang perawat sedang menemaninya makan siang. Aya yakin Arga melihat mereka tadi tapi dengan cueknya Arga memeluknya tanpa malu seperti ini. Aya merasa tidak enak dipandang dengan tatapan penuh tanya oleh tiga pasang mata di depannya. Pernikahan Aya memang belum diketaui oleh banyak orang di Rumah Sakit.


"Ekkhmmmm..Dokter Aya, mesra banget."

__ADS_1


"Iya, jadi pengen."


"Mana pacarnya dokter ganteng lagi, artis Korea mah lewat."


Mereka bertiga asyik berbisik-bisik sambil cekikikan melanjutkan menghabiskan makanan yang mereka santap bersama dokter Aya tadinya. Aya masih bisa mendengar obrolan mereka. Ia sedikit terganggu karena mereka berfikir Arga adalah pacarnya. Ah, ia baru sadar kalau pernikahannya belum banyak yang tau, sementara Arga masih gak mau melepas pelukannya.


"Mas..udah peluknya, malu. Ada orang lain di sini." Aya mencoba mengurai pelukan Arga dan mengingatkan Arga kalau bukan hanya mereka berdua di ruangan ini.


Dengan nafas mendesah kasar, Arga melepas pelukannya namun tidak memedulikan kehadiran tiga orang lainnya di ruangan itu, ia hanya fokus ke Aya seorang.


"Maaf yah Ners, ini suami saya. Kenalin, mas Arga."


"Selamat siang pak Arga." Ucap mereka serempak dan dijawab anggukan den senyum tipis di unjung bibir Arga. Karena merasa tidak enak menjadi obat nyamuk di ruangan dokter Aya, akhirnya mereka bertiga buru-buru merapikan sisa-sisa makanannya kemudia izin pamit keluar.


"Permisi dokter, permisi pak Arga."


Aya hanya mengangguki mereka dengan senyum kecut karena merasa tidak enak dengan mereka.


Aya berjalan ke arah washtafel kemudian mencuci tangannya, setelah itu ia mendekati Arga yang memiih duduk di atas meja kerja Aya.


"Sini!" Arga menjulurkan tangan kanannya ke Aya dan disambut oleh Aya.


"Mas kenapa ke sini?"


"Kamu tadi kenapa nangis? Kamu tau, setiap kali kamu nangis, itu membuat dada mas sesak. Mas tidak suka melihat kamu menangis!" Aya menggeleng, ia merasa tidak perlu menjelaskan mengapa ia menangis.


Arga membawa kedua tangannya ke tubuh bagian belakang Aya, tidak memeluk namun ia mengungkung Aya sempurna dalam penguasaannya.


"Mas sayang sama kamu, tanpa syarat apapun, jadi jangan pernah terbebani oleh perasaan mas. Heum?"


Aya mengangguk tersenyum. Senyum yang terlihat begitu manis yang mampu menembus hingga ke jantung hati Arga.


"Mas yakin, di sini dan di sini," Arga menunjuk ke dada dan kepala Aya. "Hanya ada aku yang tinggal di sana." Arga menyeringai penuh percaya diri.


Lagi-lagi Aya hanya tersenyum lalu membawa pandangannya ke arah lain, Arga benar dan Aya masih malu mengakuinya.


Arga menarik tubuh Aya agar lebih dekat lagi, wajah mereka hanya tinggal berjarak sekitar 5cm saja, mau tidak mau Aya ikut menatap lekat ke dalam manik mata Arga. Tatapan mereka saling mengunci, saling menyelami hingga ke tempat terdalam, tak ada yang ingin lepas dari pandangan masing-masing.


Entah bagaimana, dahi dan hidung mereka sudah saling menempel, deru nafas mereka saling menyambar-nyambar menjadi satu. Aya menutup matanya, Arga memiringkan sedikit kepalanya, bibir mereka mulai bertemu, saling mencecap rasa diantara keduanya. Larut dalam sensasi memabukkan yang lama kelamaan ingin menuntut lebih dan lebih lagi.


Dunia terasa berhenti berputar, seolah segalanya hanya berpusat pada perasaan saling menginginkan, saling memiliki dan saling membutuhkan.

__ADS_1


"Astaghfirullah.."


Suara Alya seketika meghempaskan mereka pada kesadaran atas buaian gejolak cinta yang sempat menguasai fikiran mereka.


Arga dan Aya saling melepas meski merasa tidak rela. Suasana sangat canggung, tertangkap basah oleh Alya sungguh memalukan buat Aya.


"Noh, ada hotel di depan, tinggal nyebrang doang. Ini Rumah Sakit, kalau kalian lupa."


Arga hanya cuek malas menanggapi komentar Alya. Ia masih seperti orang yang baru mengalami jetlag. Ada perasaan yang sulit diredam Arga saat menyentuh Aya tadi. Satu lagi perasaan berbeda yang baru dirasakan Arga.


Sementara Aya memilih kembali duduk ke kursi kebesarannya juga ikut mengabaikan komentar Alya.


"Jadi gue dicuekin nih ceritanya?" Tanya Alya melirik satu-satu ke Arga dan Aya namun mereka berdua pura-pura tidak peduli.


"Bagus, emang gini banget yah kalau orang yang baru pertama jatuh cinta ketemu sesamanya." Alya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa takjub pada pasangan suami istri di depannya saat ini.


"Oke, sepertinya kehadiranku saat ini tidak dianggap. Silahkan dilanjutkan kegiatannya, tapi minimal pintu dikunci, tapi saranku sih check-in hotel sana soalnya kejauhan kalau harus pulang ke rumah atau ke apartemen Aya." Alya tertawa keras dan langsung keluar dari ruangan Aya meninggalkan mereka berdua yang diliputi kecanggungan karena mengingat kegilaan mereka tadi.


"Aya.."


"Mas Arga.."


Ucap mereka bersamaan. Aya tersipu malu memutar kursinya menghadap ke jendela. Arga melangkah mendekati Aya.


"Sepertinya ide Alya bagus, kamu kefikiran gak?" Ucap Arga di telinga Aya.


Aya menegang, ia sangat malu saat ini dan Arga malah membahasnya lagi. Sepertinya Aya mulai kesulitan bernafas, udara di ruangan ini sudah terasa panas dan sepertinya tidak cukup untuk mereka bagi berdua. Keringat dingin mengucur di keningnya, ia bisa merasakan aliran-aliran kecil meluncur di kulit belakangnya.


Arga memutar kursi Aya menghadap kepadanya lalu menekuk kakinya dan berlutut di depan Aya. Arga melemparkan senyum termanisnya buat Aya.


"Kamu mau kan memulai semuanya bersama aku? Aku, kamu dan anak-anak kita kelak!" Arga memandang penuh harap pada Aya.


Aya mengangguk ragu.


"Aku takut mas, Aku belum bisa menjanjikan banyak hal sama mas, tapi aku akan belajar menerima mas mulai dari sekarang." Sesungging senyum memancar dari wajah Arga.


"It's ok, honey! Sedikit rasa takut itu juga penting agar bisa mawas diri. Hanya saja jangan terlalu larut mengingat masa lalu. Anggap saja semua itu hanya omong kosong yang sudah berlalu menjadi kenangan yang tidak akan pernah terulang pada rumah tangga kita. Kamu harus meyakinkan diri kalau masa lalu yang menyakitkan itu seharusnya tidak dibiarkan kembali lagi, apalagi jika itu menjadi penghambat bagimu meraih kebahagiaanmu sendiri. Aku bukan ayah kamu, kamu bukan ibu kamu. Kita semua berjalan di atas takdir kita masing-masing." Arga mengeratkan genggamannya di tangan Aya dan dibalas juga dengan erat oleh Aya.


"Makasih mas." Aya memeluk Arga penuh haru. Satu beban terasa lepas saat ini. Membuat perasaannya begitu lapang untuk memandang hari esok.


×××××

__ADS_1


__ADS_2